Persians speak out! Interviewing Persians At Iran Protest In Los Angeles

This is very interesting video, knowing what do the people of Iran, Persians, really think about and wish to have in Iran.

 

Iklan

Multitudes of Iranian Muslims are Coming to Faith in Jesus

Dr. Brown shares the untold story that may tie in directly with the Iranian protests. He is an apologetic Christian and mastering many ancient languages.

“What’s going on in Iran?” he is asking us if we knew something about it.

Dr. Brown tells what he knew about inside Iran from many sources, such as Iranians (inside and outside the country), missiologists, missionary friends, refugee workers and from others. He says, “all these people telling the same thing the same stories” that is “multitudes of Iranian Muslims are coming to faith in Yeshua.” Dr. Brown believes now there are about three million Christians in Iran alone.

He says that it’s happening now as “it has been spoken by Reza Safa, an Iranian ex-Muslim Shia and now an evangelical pastor, in his book The Coming FALL of ISLAM in IRAN 9 to 10 years ago: ‘thousands of Muslims found Messiah in the mid of persecutions.’

Read the rest of this entry

PM Israel Netanyahu menyatakan pesan Selamat Natal regim Iran sebagai puncak kemunafikan

Perhatikan ini baik-baik: Hanya beberapa hari yang lalu, Mentri Luar Negeri Iran men-tweet “Natal yang sangat berbahagia dan damai bagi semua.”

Saya bertanya-tanya apa yang orang-orang Kristen yang dipenjarakan di bulan ini akan berpikir tentang tweet tersebut

Saya bertanya-tanya apa yang remaja Iran akanlah berpikir tentang tweet tersebut, tetapi sedihknya regim melarang Twitter

Terkecuali, tentunya, jika Anda adalah seorang pejabat tingkat tinggi.

Sekarang bayangkan berdoa secara pelan-pelan dalam rumahmu, dikelilingi oleh keluargamu. Dan secara mendadak, orang yang kasar bersenjata menerjang masuk dan menyeret anda keluar masuk penjara. Mereja menyiksa anda hanya karena mempraktekan iman Kristen Anda.

Selamat datang di Iran!

Mengatakan “Selamat Natal” sementara memenjarakan orang-orang Kristen dalam negaramu sendiri adalah puncak kemunafikan

Jika Anda berdiri bagi kebebasan, sebarkan pesan ini

Jika Anda berdiri menentang kemunafikan, sebarkan pesan ini

Dan di atas semuanya, katakan sebuah doa yang hening bagi para saudara dan saudari kita yang sedang menderita di tangan regim Iran yang jahat ini

Kami berdiri bersama kalian, para saudara dan saudari

Dunia berdiri bersama kalian.

Baca juga;

Read the rest of this entry

Mr. Hakeem cendikiawan Arab lainnya membenarkan Trump “Yerusalem milik Israel”

Abulhameed Hakeem Direktur Pusat Timur Tengah untuk Studi-studi Strategi dan Legal

Abdulhameed Hakeem, Arab Saudi

“Para Arab haruslah menerima hak sejarah Israel atas Yerusalem,” direktur Pusat Timur Tengah untuk Studi-studi Strategi dan Legal di Jeddah berkata baru-baru ini. Pernyataannya telah menjadi viral di Timur Tengah dan di dalam dunia Islam di Asia,” tulis Esor Ben-Sorek, pensiunan professor Israel mengutip hasil wawancara Arab TV.

Jumlah pemuka dan intelektual Arab yang mendukung pernyataan Presiden Donald Trump bahwa Yerusalem adalah ibukota Israel – dengan kata lain kota Yerusalem adalah milik negara Israel semakin bertambah banyak.

Konflik Israel-Palestina atas Yerusalem telah berlajut lebih dari 50 tahun – sejak kota Yerusalem kembali ke tangan Israel sejak kalahnya Yordan di Perang 6 Hari yang sangat bersejarah tersebut.

Dukungan atas Presiden Donald Trump kali ini datang dari Direktur Pusat Timur Tengah untuk Studi-studi Strategi dan Legal (the Middle East Center for Strategic and Legal Studies) dari kota Jeddah, Arab Saudi, Abulhameed Hakeem.

Pada suatu wawancara pada Al-Hurra TV, suatu saluran TV berbahasa Arab yang berpusat di Amerika Serikat, Mr. Hakeem menjelaskan mengapa keputusan Trump tepatnya telah bertemu dengan penerimaan diam-diam, bahkan menjangkau beberapa derajat penghargaan,

“Keputusan tersebut akan mengarahkan sebuah kejutan positif menuju kegerakan negosiasi-negosiasi air yang macet. Kita sebagai orang-orang Arab, haruslah datang pada sebuah pengertian dengan sisi lain dan mengetahui permintaan-permintaanya sehingga kita dapat sukses dalam usaha-usaha negosiasi,” direktur Pusat Timur Tengah untuk Studi-studi Strategi dan Legal berkata.

Mr. Hakeem tidak hanya setuju dengan cara Presiden Donald Trump di dalam mengakhiri konflik Israel-Palestina, ia lebih lanjut mengingatkan para Muslim dan orang Arab untuk meninggalkan sikat membenci orang Yahudi – yang ia sebut sebagai “Arab mentalitas warisan Nasser” dan “murni ketertarikan politik Islam baik Sunni dan Shia,”

“Kita harus menyesuaikan dan sadari bahwa Yerusalem adalah lambang keagamaan bagi orang-orang Yahudi yang adalah tidak hanya sekedar suci bagi mereka sebagaimana Mekka dan Medina bagi para Muslim.”

“Mental Arab sendiri haruslah bebas dari warisan (Presiden Mesir) Gamal Abdel Nasser dan Islam politik baik sekte Sunni dan sekte Shia, yang telah ditanamkan demi semata-mata kepentingan politik dari budaya membenci orang-orang Yahudi dan menyangkali hak sejarah mereka di wilayah tersebut.”

Seorang sejarawan Pakistan, Mobarak Haidar, menulis, “Para Muslim di dunia tidak memiliki basis yang nyata untuk menguasai Yerusalem,” Ben-Sorek mengutip tulisan orang Pakistan dari akun Facebooknya pada artikel “Yerusalem dan Klaim-klaim Muslim.” Haidar di sini menyatakan klaim Muslim tersebut sebagai “dongeng,” menandaskan bahwa Yerusalem “telah menjadi ibukota bangsa Yahudi untuk sedikitnya 3000 tahun, lama sebelum Islam terlahir.”

Professor Yahudi ini juga mengutip penyataan serupa dari Professor Youssef Ziedan, penulis dan cendikiawan Mesir yang terkenal baik saat Ziedan diwawancarai di tahun 2015.

Koran online Israel menyatakan “pendirian-pendirian yang dipegang oleh Hakim dan para intelektual Saudi lainnya yang seperti dia adalah satu dari banyak alasan mengapa bangsa Israel semakin terbuka bagi Arab Saudi mengambil sebuah role kepemimpinan di dalam proses perdamaian Timur Tengah.”

Referensi:

Read the rest of this entry

Sastrawan Kuwait Abdullah Al-Hadlaq: Israel adalah negara sah, bukan penjajah!

Aku akan mengumpulkan segala bangsa dan akan membawa mereka turun ke lembah Yosafat; Aku akan berperkara dengan mereka di sana mengenai umat-Ku dan milik-Ku sendiri, Israel, oleh karena mereka mencerai-beraikannya ke antara bangsa-bangsa dan membagi-bagi tanah-Ku, (Yoel 3:2)

Pada suatu wawancara TV sastrawan Kuwait ini ditanya oleh tuan rumahnya:  Apakah itu Israel? Israel mewakili apa? Sebuah negara? Kelompok? Organisasi teroris? Suatu yang abstrak?

Sastrawan tua ini dengan nada tenang dan lembut menjawab: “Suka itu atau tidak, Israel adalah sebuah pemerintahan negara merdeka. Itu ada dan memiliki kursi pada Persatuan Bangsa-bangsa (PBB), dan sangat suka-damai dan negara-negara demokrasi mengakuinya

Kelompok negara-negara yang tidak mengakui Israel adalah negara-negara tirani dan penindas; contoh, (Republik) Korea Utara tidak mengakui Israel, tetapi ini tidak bisa menyingkirkan Israel atau dari fakta keberadaannya entah kita suka itu atau tidak.

Negara Israel memiliki pusat-pusat ilmu pengetahuan dan universitas-universitas; hal-hal yang bahkan negara-negara Arab tertua dan sangat berkuasa kekurangan. Jadi Israel adalah sebuah negara dan bukan sebuah organisasi teror, sebagaimana saya katakan, itu adalah sebuah negara mendeka. Ya, itu negara legal.

Rekan saya (tamu diseberangnya) telah menyebut Israel sebagai sebuah “penguasa pembajak,” tetapi ini dapat ada disangkal baik dalam istilah agama dan politik.

Dari perspektif keagaamaan: Kuran 5:21 membuktikan bahwa orang-orang Israel memiliki hak atas Tanah Suci. Allah berkata: “Ketika Musa berkata kepada bangsanya, ‘O, bangsaku, masuklah ke Tanah Suci yang Allah telah tetapkan bagi mu.’” Jadi Allah telah menetapkan tanah tersebut bagi mereka dan mereka tidak membajaknya.

Penguasa pembajak adalah siapapun yang ada sebelum kedatangan orang-orang Israel. Karenanya, saya tidak akan sepaham dengan slogan-slogan absolute dan istilah-istilah seperti “Zionis adalah penguasa pembajak.”

Fakta bahwa saya adalah seorang Arab tidaklah berarti harus mencegah saya dari mengakui Israel. Saya mengakui Israel sebagai sebuah negara dan sebagai sebuah fakta kenyataan, tanpa mengabaikan indentitas ke Arabaku dan keanggotaanku

Rekannya menimpali, “saya tidak tahu apakah Palestina dan pendudukannya adalah masalah Arab atau masalah keagamaan?

Abdullah Al-Hadlaq menjawab rekannya, kali ini suaranya tegas dan sedikit tinggi: “Tidak ada pendudukan! Yang ada adalah bangsa yang kembali ke tanah perjanjiannya. Sadarkah kamu bahwa sejarah bangsa Israel adalah kuno, (hadir) sebelum Islam? Oleh sebab itu, kita para Muslim harulah mengakui bahwa bangsa Israel memiliki hak atas tanah tersebut dan bahwa mereka tidak membajak itu (tanah).

Bangsa yang berkata bahwa itu adalah pembajakan adalah masih berpikir dalam mentalitas tahun 1950 dan sebelumnya. Ketika Negara Israel berdiri tahun 1948 tidak ada negara yang disebut Palestina.

Baca:

Tuan rumah: Jadi darimana kita dapat nama tersebut yang kita telah bela selama 60 tahun?

Abdullah Al- Hadlaq: Itu tidak ada. Yang ada adalah berbagai macam komunitas hidup di negara-negara Arab. Mereka disebut: “Bangsa Kanaan, Amalek atau tuan rumah dengan nama-nama lainnya, ayat Kuran bahkan berkata, “… disana ada sebuah bangsa yang sangat perkasa, beberapa orang menyebutnya Jabbareen (Alkitab menyebutnya: Yebus; Yoshua 11:3). Oleh karenanya tidak ada negara yang disebut Palestina. Saya berpegang teguh pada hal ini.

Tuan rumah: Anda pernah menulis dalam sebuah artikel: “Saya berharap saya adalah seorang tentara Israel”, betulkah itu? Jadi itu tidaklah hanya sekedar mengakui Israel. Anda tidak menulis itu dalam bentuk orang pertama, tetapi Anda menulis bahwa pemuda Arab berharap mereka dapat ada sebagai tentara-tentara Israel. Ini logis? Ini realistik?

Abdullah Al-Hadlaq: Saya menulis itu artikel di tahun 2006, ketika terntara Israel Gillad Shalit diculik. Ketika saya menulis ini, saya tidak maksudkan bahwa saya suka mengangkat senjata dan berjuang bagi Israel, tetapi saya berharap bahwa kita dapat ada seperti orang-orang Negara Israel yang telah sungguh-sungguh turun untuk orang terakhir membela seorang tentara Israel, jadi saya menulis: “Saya berharap saya dapat ada seperti seorang tentara dimana negara membela dia.”  Demi Allah, jika dia (Gillad Shalit) adalah seorang tentara di negara Arab apapun, apakah bangsanya, negara, atau pemimpin negara sungguh melakukan seperti Israel telah lakukan? Negara-negara Arab telah memiliki ribuan yang terluka, dan tidak seorangpun perduli atas mereka. Baca: Gilad Shalit, harga seorang Yahudi Israel sangat mahal! Fakta.

Saya ceritakan pada kalian sebuah kebenaran, saya punya reservasi tentang kata “normalisasi” dan saya lebih suka menyebut itu “keberadaan yang damai dengan Negara Israel”

Tuan Rumah: Seperti Mesir dan Yordan? (Kedua negara ini telah mengikat perjanjian damai dengan Israel)

Abdullah: Tepat sekali. Keberadaan yang damai

Tuan Rumah: Apa hasilnya?

Abdullah: Kedua sisi mendapat keuntungan dari itu!

Tuan Rumah: Haruskah para Arab dan Muslim berdiri bersama Israel melawan Hizbullah?

Abudllah: Pemimpin sebuah kota Negara Teluk berkata bahwa dia siap bekerja sama dengan ‘Setan’ menentang pemerintah Persia (Iran). ‘Setan’ yang ia maksud di sini adalah Israel. Namun saya katakan: Mengapa kita tidak hidup dalam keberadaan yang damai dengan Israel, dan bekerja sama dengannya menentang musuh besar kita, yakni regim Persia?

Rekannya: Kamu katakan pemerintah Zionist menentang Iran?

Abdullah: “Regim Persia bermegah diri bahwa Persia telah menduduki empat ibukota Arab dan itu akan segera menduduki yang kelima. Apakah Israel pernah berkata hal seperti itu,? apakah ia pernah berbangga tentang menjajah sesuatu? Tidak pernah, sebab Israel tidak pernah menjajah siapapun. Israel datang ke tanah miliknya sendiri, yang mana pemerintah Persian Iran adalah seorang pembajak.

Saya mendukung pendirian dari aliansi tiga-jalur yang terdiri dari Israel, Negara-negara Teluk Arab dan Amerika dengan tujuan menghapus Hizbullah sama sekali.

Pembaca bebas memakai artikel TheCamelSpeaksOut.wordpress.com sejauh tidak merubah tulisan aslinya dan menyertakan link situsnya. Hargailah karya cipta orang lain. Terima kasih, The Camel Speaks Out / Unta Angkat Bicara