Raqqa: Pejuang NIK bersembunyi diantara penduduk menghindari serangan Russia dan Perancis, ex-jihadist NIK berkata

“Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu akan terjadi dan apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan dunia?” Jawab Yeshua kepada mereka: “Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu! … Sebab bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan. Akan ada kelaparan dan gempa bumi di berbagai tempat. Akan tetapi semuanya itu barulah permulaan penderitaan menjelang zaman baru.” (Injil Matius 24:3-8)


Tentara NIK dengan AK-47 menjaga perbatasan kota Raqqa berbatasan Sungai EfratGerakkan Negara Islam Kalifat (NIK) atau Daesh dalam bahasa Arab bulan November ini telah mengklaim bahwa NIK lah yang berada dibalik aksi terror di Paris 13/11/2015, meledaknya kapal-penumpang Russia di Sinai-Mesir dan ledakkan bom di Libanon. Pemerintah Perancis menyatakan “perang melawan NIK” dan Russia berjanji akan bekerja sama untuk menghancurkan ibukota NIK, kota Raqqa di Syria.
Kota Raqqa jatuh ketangan NIK pada awal tahun 2014, karena letaknya yang stategis Raqqa telah dijadikan NIK sebagai ibukotanya. Abu Khaled, seorang ex-pemimpin NIK, menyatakan pada seorang reporter Barat bahwa para pejuang NIK telah bersembunyi di antara rumah-rumah penduduk kota Raqqa, meninggalkan komplek-komplek militer mereka karena takut akan seranggan udara Perancis dan Russia.
Abu Khaled adalah orang Islam Sunni asal Syria, melabelkan President al-Assad sebagai diktator yang anti Sunni mendorong dia untuk hidup di bawah NIK; Ia bergabung pada 19 Oktober 2014.
President Assad berasal dari Shia Alawit Islam, dan rekanan kerja pemerintah Iran.
Karena kefasihannya berbahasa Inggris dan Perancis, segera ia dijadikan penterjemah Arab, dan kemudian menjadi pemimpin intelejen dan perekrutan para jihadist luar negeri oleh petinggi NIK.
Keluarnya Khaled dari NIK salah satunya adalah ia melihat Syria, negaranya, telah dijajah oleh orang-orang asing: Irak, Tunisia, Libya. Tidak ada satupun orang asli Syria di jajaran tinggi NIK, ia berkata.
Berkaitan dengan jabatannya, ia bisa berkeliling ke berbagai kota bahkan ke Turki dan negara Islam lainnya – bertemu para pemimpin NIK dan tugas perekrutan.

Menyadari ketatnya jaringan dan ikatan kerja Islam (saling memata-matai sesama anggota), ia tetap memilih tinggal di sebuah kota di Syria yang dibawah kekuasaan NIK – berpura-pura tetap bekerja sebagai agent NIK tetapi secara ideologi ia telah meninggalkan ajaran Islam.
”Saya dulu Muslim sekarang saya kafir,” Khalid mengaku, dan menambahkan, ”Anda tidak bisa kembali dari Muslim ke kafir kembali lagi ke Muslim. Harga yang kamu bayar adalah kematian.” NIK menjadikan anak-anak dibawah 18 tahun menjadi mesin pembunuh atas nama Allah

“Ada ketakutan besar di dalam kota (Raqqa), khususnya karena Daesh (NIK) melarang para ’penduduk sipilnya’ (mayoritas adalah para Muslim yang merindukan lahirnya kembali pemerintahan di bawah sistim Kalifah, yakni pemerintahan politik dibawah aturan Hukum Islam) untuk meninggalkan kota tersebut,” Khalid berkata.
Khaled berkata bahwa penduduk Raqqa tidak bisa dihubungi oleh karena NIK melarang jaringan internet bagi masyarakat di seluruh kota tersebut.

Referensi:

Pembaca bebas memakai artikel TheCamelSpeaksOut.wordpress.com sejauh tidak merubah tulisan aslinya dan menyertakan link situsnya. Hargailah karya cipta orang lain.
Terima kasih, The Camel Speaks Out

Iklan

Posted on 19/11/2015, in Timur Tengah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: