Bulan madunya Negara Islam Khalifah sudah berakhirkah?

Berkatalah aku dalam hati: “Elohim akan mengadili baik orang yang benar maupun yang tidak adil, karena untuk segala hal dan segala pekerjaan ada waktunya.” (Pengkotbah 3:17)

Crecent moon and wolf bulan sabit dan serigalaNegara Islam Khalifah (NIK) saat ini tidak hanya kehilangan wilayah jajahannya, yang lebih parah lagi kehilangan kepercayaan dan dukungan dari para Muslim Sunni sendiri yang semula sangat memujanya.

Sejak bulan Mei 2016 Media Timur Tengah mengabarkan bahwa (NIK) telah kehilangan sekitar 50% wilayah jajahannya di Irak dan Syria. Musim semi tahun ini berbagai kota jajahan NIK diserbu secara besar-besaran dan relatif bersamaan waktu. Beberapa tahun lalu NIK menyerbu kota-kota, sekarang ia diserbu balik oleh pasukan Kurdi dan Arab dukungan AS dan Rusia. Laporan Pentagon meneguhkan laporan media Timur Tengah ini.

Kehilangan wilayah jajahan bisa dipulihkan kembali dengan mudah, namun kehilangan kepercayaan dan simpati dari rekan terdekat adalah perpecahan yang parah, seperti bangunan pencakar langit yang lepas dari fondasinya – hanya menunggu waktu keruntuhannya.

Dua tahun pertama NIK muncul di Timur Tengah, saat itu masih bernama NIIS (Daesh dalam bahasa Arab dan ISIS/ISIL dalam bahasa Inggris) setiap kota yang mereka masuki mereka disambut hangat penduduk Islam Sunni setempat – dan tentara lokal yang tidak mau bergabung melarikan diri atau di eksekusi. NIK disambut di tiga kota besar ini: Falujah, Mosul, Raqqa. Dan bulan Juni ini ketiga kota besar ini sedang direbut ulang oleh pemilik aslinya.

Awal musim Semi 2016 ini slogan-slogan dan propaganda NIK untuk mendirikan sebuah negara Islam Sunni sedunia yang dipimpin oleh seorang Khalifa (bahasa Arab yang berarti pengganti nabi Muhammad) nampak semakin terbang tinggi di awan-awan jauh dari jangkauan para pejuang NIK.

Organisasi-organisasi militer suku Kurdi yang sejak awal paling gigih memerangi NIK semakin populer dan disukai oleh banyak suku bangsa di Timur Tengah, bahkan banyak orang Arab, dan agama-agama lain bergabung ke dalamnya. Russia dan kemudian AS mendukung gerakan militer Kurdi.

“Saya telah bergabung ke Pasukan Demokrasi Syria (PDS) sebab saya percaya mereka. Itu tidak hanya sebuah pasukan Kurdi. Namun juga Syria dan Arab. Kami memiliki semua agama  dan kelompok etnis di dalam PDS,” Heval Amed (nama samaran) berkata. Ia adalah pejuang Arab dari Qahtaniyah, sebuah kota di timur tenggara Syria.

Para pemimpin militer PDS adalah orang-orang Kurdi yang berada pada payung besar politik bernama Unit-unit Perlindungan Masyarakat (UPM; the People’s Protection Units). Tanggal 24 Mei, PDS mengumumkan untuk melancarkan serangan membebaskan kota Raqqa (ibukota NIK untuk Syria) yang penduduknya mayoritas Arab. Juru bicara militer SDF Sharvan Darwish berkata jumlah pejuang Arab di SDF yang akan memerangi NIK di Raqqa mencapai 40-50%. “Segera sebuah group baru akan bergabung dari Raqqa,” Sharvan berkata. Ini berarti telah ada sejumlah penduduk Raqqa yang sudah tidak suka lagi dengan kelompok militan NIK dan siap bergabung segera jika perang meletus. Itulah sebabnya bulan Juni ini – saat puasa Ramadan – NIK mengeksekusi banyak pejuangnya sendiri dan rakyat di Raqqa dan sekitarnya.

Baca juga:

Bulan madu masyarakat Sunni Timur Tengah dengan NIK nampaknya telah berlalu, yang tinggal hanyalah bulan di langit. Wolf and Moon Serigala dan Bulan

Partai Perserikatan Demokrasi (PPD), sebuah partai politik suku Kurdi yang merupakan partai mayoritas di UPM, merekrut pemimpin-pemimpin suku Arab sebagai dewan pemimpin setempat (Pemimpin suku di Timur Tengah secara umum juga berarti tuan-tuan tanah; di luar kota besar sebuah kampung umumnya dihuni oleh satu garis keturunan; seperti 12 suku Israel di jaman hakim-hakim dan raja-raja). Mereka juga ditunjuk sebagai tentara di post-post pemeriksaan (setiap wilayah dan beberapa puluh km jalan selalu ada post pemeriksaan).

Ini suatu kebijakan politik Kurdi yang sangat pintar dan bijak!

”Mereka tidak memperlakukan kami sebagai budak (di NIK, Muslim Arab Irak memandang rendah Muslim Syria apalagi mereka yang berasal dari Afrika). Mereka memperlakukan kami sederajat,” Abdullah Qattab al –Saif, Arab Syria pemimpin militer membawahi 80 tentara, berkata.

Tentang garis politik NIK, Hazem Hamidi, seorang insinyur Arab yang sebelumnya biasa kerja di Raqqa, berkata, ”Orang-orang hidup dalam ketakutan. Anda tidak bisa berkata apa-apa, dan anda dapat ada dibunuh dengan mudah. Mereka yang ada di Raqqa, mereka menyambut PDS atau UPM untuk membebaskan mereka dari (Negara Islam Khalifah). Tidak ada perbedaan di antara kami: Kami semua ingin memerangi NIK dan menendang itu keluar.”

Sumber: The War Within the War for Raqqa

Bacaan berkait:

Pembaca bebas memakai artikel TheCamelSpeaksOut.wordpress.com sejauh tidak merubah tulisan aslinya dan menyertakan link situsnya. Hargailah karya cipta orang lain.

Terima kasih, The Camel Speaks Out / Unta Angkat Bicara

 

Iklan

Posted on 08/06/2016, in Dokma & Praktis and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: