Pemerintah Pakistan melawan praktek Pembunuhan demi Kehormatan (honor killing) yang terus bertambah tinggi di negaranya

Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat. Berbahagialah orang yang berpegang pada hukum. (Amsal 29:18)

Tahun 2015 saja Komisi Hak-hak Asasi Manusia (Human Rights Commission)

tidak-ada-kehormatan-dalam-membunuh-orang-yang-tidak-berdosa

There is NO honor in KILLING!

mencatat telah ada lebih dari 1.100  (seribu seratus) wanita terbunuh atas nama “pembunuhan demi kehormatan” keluarga. Itu naik seratus kejadian dibanding 2014 (sekitar 1000 kejadian), dan 869 di tahun 2013. Pihak pelaku umumnya adalah suami sendiri, ayah sendiri atau saudara laki-laki sendiri terhadap anggota keluarga mereka yang berjenis kelamin wanita.

Pembunuhan demi kehormatan dikenal dalam budaya Pakistan setempat sebagai “karo-kari,” suatu istilah metamorfosa untuk “pezinah pria dan pezinah wanita,” namun umum dipakai dalam segala bentuk perbuatan tidak bermoral. Lebih dari 90% korbanynya adalah wanita. Dan jika ada korban dari pihak pria, umumnya mereka dibunuh oleh pihak keluarga wanita.

Laporan untuk tahun 2014 dari organisasi pembela hak wanita bernama Fondasi Aurat (Wanita) menyatakan setiap hari enam wanita terbunuh, enam diculik, empat diperkosa dan tiga bunuh diri. Kekerasan berkaitan dengan Dowry (kawin kontrak ala Islam) dan serangan-serangan dengan asam-sulfat adalah tambahan atas semua tragedi tersebut. Seribu wanita pertahun terbunuh, Fondasi Aurat berkata.

Kasus pembunuhan demgambar-statistik-hubungan-antara-korban-dan-pembunuhi kehormatan pada Fauzia Azeem atau “Qandeel Baloch” (nama di Fecebook) di Multan, Pakistan, 2016

Waseem Azeem (25 tahun) membunuh Fauzia, kakak perempuannya, karena dia merasa Fauzia telah menghina keluarganya. “Saya bangga dengan apa yang saya telah perbuat. Pertama-tama saya seret dia, lalu membunuhnya,” Waseem mengaku tanpa menyesal.   “Dia telah membawa malu kepada keluarga kami.” Gadis terbunuh saat ia berkunjung ke rumah orang tuanya, menjeguk ayahnya yang sakit.

Apa yang Fauzia / Qandeel (usia 26 tahun), telah perbuat sehingga ia harus dihukum mati? Waseem menganggap foto-foto wajah Qandeel di Facebooknya adalah “sangat keterlaluan.” Waseem menyelaskan alasan perbuatannya yang ia anggap dirinya sebagai pahlawan keluarga: “Para gadis dilahirkan untuk tinggal dalam rumah dan mengikuti tradisi. Saudariku tidak pernah melakukannya.”

Kasus seperti Waseem ini, ia bisa bebas dari hukuman penjara, jika ayahnya cukup memberi pernyataan “maaf” kepada putranya dan membayar “uang darah” kepada pemerintah. Namun Anwar Azeem, ayah mereka, bukanlah orang kaya. Ia menyesali perbuatan putranya, “Seandainya ia masih hidup, Qandeel pastilah telah membawa saya ke Karachi untuk merawat tuberkolose saya dan memberi saya kaki palsu,” Situs DawnNews, Pakistan melaporkan. Kedua orang tua mereka harus kembali ke desa, sebab selama ini Qandeel yang membayar biaya kost mereka. Mengkomentari tentang hukuman yang akan putranya hadapi, ia berkomentar, “Saya berkata, dia seharusnya ditembak ditempat. Dia telah menewaskan anakku.”

Qandeel Baloch sangat pupuler di Facebook, seorang wanita karir. Pada sebuah interview, ia menceritakan latar belakang perbuatannya di Facebooknya. Ungkapan protes atas kemasyarakatan yang bersifat keturunan di Pakistan yang “buruk;” ia sendiri dipaksa kawin saat berusia 17 tahun dengan pria yang lebih tua. Suaminya melarang dia sekolah.

Pemerintah mengkgender-discremination-in-islam-under-name-honor-killingriminalkan praktek Pembunuhan demi kehormatan

Di bawah tekanan internasional dan lokal, pada 8 Desember 2004 pemerintah Pakistan akhirnya mengadopsi sebuah hukum yang membuat praktek pembunuhan demi kehormatan dapatlah dihukum penjara selama tujuh tahun atau hukuman mati untuk kasus-kasus yang ekstrim. Hukum tersebut barulah dinyatakan berlaku dua tahun kemudian, November 2006.

Pebuari 2016, pemeintah profinsi Punjab, menyetujui hukum yang menganggap segala bentuk kekerasan melawan wanita adalah tindakan kriminal. Namun lebih dari 30 kelompok agama Islam, termasuk semua partai-partai Islam politik mengancam untuk melaksanakan protes jika hukum tersebut tidak dicabut.

Perdana Menteri Nawaz Sharif, mencoba membela keputusan hukum pemerintah tersebut dengan berkata, “tidak ada tempat di dalam Islam untuk membunuh dalam nama pembunuhan demi kehormatan.”

Raheel Raza berkomentar hukuman berat bagi pembunuh Qandeel , menyatakan bahwa usaha pemeritah menahan aksi “honor killing” ini adalah suatu langkah maju. Raheel berkata kepada Stephen Sackur, wartawan BBC, “Para Muslim perlu keluar dari budaya abad ke-7 dan memasuki budaya abad 21,” ibu ini maksudkan ialah, ”meninggalkan radikalisme dan jihad Islam dan pindah ke demokrasi.”  Raheel ialah seorang Muslim moderat asal Pakistan kelahiran Kanada.

Indeks Ketidaksetaraan Jender PBB (The United Nation’s Gender Inequality Index) menaruh negara Pakistan di urutuan sangat rendah yakni ke-147 dari 188 negara oleh sebab cacatan yang buruk atas kesehatan wanita, pendidikan, kekuatan politik dan ekonomi.

Bahan diskusi:

  • Dapatkah “honor killing”  (teror dan jihad di dalam keluarga sendiri) di dalam masyarakat Muslim dihentikan tanpa meninggalkan ajaran Islam?
  • Dapatkah para Muslim meninggalkan ayat-ayat jihad yang Muhammad perintahkan para pengikutnya setelah pindah ke Medina?
  • Atau bagaimanakah Sariah Islam harus diinterpretasikan?

Referensi: 

Pembaca bebas memakai artikel TheCamelSpeaksOut.wordpress.com sejauh tidak merubah tulisan aslinya dan menyertakan link situsnya. Hargailah karya cipta orang lain. Terima kasih, The Camel Speaks Out / Unta Angkat Bicara

Iklan

Posted on 07/10/2016, in Dokma & Praktis, Pelecehan Wanita and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: