Category Archives: Dokma & Praktis

PM Israel Netanyahu menyatakan pesan Selamat Natal regim Iran sebagai puncak kemunafikan

Perhatikan ini baik-baik: Hanya beberapa hari yang lalu, Mentri Luar Negeri Iran men-tweet “Natal yang sangat berbahagia dan damai bagi semua.”

Saya bertanya-tanya apa yang orang-orang Kristen yang dipenjarakan di bulan ini akan berpikir tentang tweet tersebut

Saya bertanya-tanya apa yang remaja Iran akanlah berpikir tentang tweet tersebut, tetapi sedihknya regim melarang Twitter

Terkecuali, tentunya, jika Anda adalah seorang pejabat tingkat tinggi.

Sekarang bayangkan berdoa secara pelan-pelan dalam rumahmu, dikelilingi oleh keluargamu. Dan secara mendadak, orang yang kasar bersenjata menerjang masuk dan menyeret anda keluar masuk penjara. Mereja menyiksa anda hanya karena mempraktekan iman Kristen Anda.

Selamat datang di Iran!

Mengatakan “Selamat Natal” sementara memenjarakan orang-orang Kristen dalam negaramu sendiri adalah puncak kemunafikan

Jika Anda berdiri bagi kebebasan, sebarkan pesan ini

Jika Anda berdiri menentang kemunafikan, sebarkan pesan ini

Dan di atas semuanya, katakan sebuah doa yang hening bagi para saudara dan saudari kita yang sedang menderita di tangan regim Iran yang jahat ini

Kami berdiri bersama kalian, para saudara dan saudari

Dunia berdiri bersama kalian.

Baca juga;

Read the rest of this entry

Iklan

Petinggi HAMAS: “Siapakah orang-orang Palestina?, kami adalah…”

Manusia dapat menimbang-nimbang dalam hati, tetapi jawaban lidah berasal dari YAHWEH (Amsal 16:1)

 

orang Palestina di Israel

Orang Palestina tinggal di Israel

Pertanyaan “siapakah sesungguhnya orang atau bangsa Palestina” telah menjadi perdebatan puluhan tahun, apalagi jika itu dikaitkan secara langsung dengan negara Israel dan kota Yerusalem. Pernyataan Menteri Dalam Negeri dan Keamanan National Hammas, Fathi Hammad, dipancarkan oleh TV Al-Hekma pada 23 Maret 2012 menyelesaikan perdebatan tersebut.

 

Petinggi Hamas ini, dengan emosi yang tinggi menyatakan fakta kebenaran berdasarkan sejarah siapa sesungguhnya bangsa yang dunia kenal sebagai “bangsa Palestina” atau “orang-orang Palestina.” Berikut ini adalah ringkasan dari program TVnya: Hamas Minister of the Interior and of National Security Fathi Hammad Slams Egypt over Fuel Shortage in Gaza Strip

“Saudara-saudara, ada 1,8 juta kami di Gaza,” Hammad berkata, “Al-Aqsa dan Tanah Palestina mewakili ujung-tombak bagi Islam dan bagi para Muslim. Karenanya, ketika kami mencari pertolongan dari saudara-saudara Arab kami, kami tidak mencari pertolongan mereka supaya bisa makan, hidup, minum, berpakaian, atau hidup kehidupan yang mewah. Tidak. Ketika kami mencari pertolongan mereka itu supaya bisa melanjutkan tugas jihad.
Allah ada ditinggikan, kita semua memiliki akar-akar Arab, dan setiap orang Palestina, di Gaza dan seluruh (tanah) Palestina dapat membuktikan akar Arabnya – entah dari Arab Saudi, dari Yaman, atau dari manapun juga. Kita memiliki ikatan-ikatan darah. Jadi dimana ketertarikan dan belas kasihan kalian? (Hammad sedang berbicara kepada Pemerintah Mesir; mengemis suplai minyak untuk penduduk jalur Gaza yang dihentikan Mesir)
Secara pribadi, separuh dari keluargaku adalah orang Mesir. Kami semua seperti itu. Lebih dari 30 keluarga di Jalur Gaza adalah disebut Al-Masri (Orang Mesir). Saudara-saudara, separuh dari orang-orang Palestina adalah orang Mesir dan separuh lainnya adalah orang (Arab) Saudi.
Siapakah orang-orang Palestina? Kami memiliki banyak keluarga disebut Al-Masri, yang akarnya adalah orang Mesir. Orang Mesir! Mereka bisa jadi dari Alexandria, dari Kairo, dari Dumietta, dari Utara, dari Aswan, dari Mesir Utara atas (Upper Egypt). Kami adalah orang-orang Mesir. Kami adalah orang-orang Arab. Kami adalah orang-orang Muslim. Kami adalah sebuah bagian dari kalian.

Read the rest of this entry

Ismael kembali ke Kristianiti setelah 16 tahun belajar dan membela Islam

Kuduslah kamu, sebab Aku, YAHWEH, Elohimmu, kudus (Imamat 19:2)

Ismael don't convert to IslamIsmael (nama samaran) adalah seorang Muslim kulit putih yang sangat serius dalam masalah kerohanian. Setelah ia menjadi orang Islam, ia tidak hanya beribadah dengan tekun, lebih dari itu ia belajar bahasa Arab dan belajar agama Islam di universitas. Selama 16 tahun sebagai orang Islam, Ismael pernah tinggal di Arab Saudi dan Mesir, menjabad sebagai seorang Katif Islam, ia mengajar di Mesjid-mesjid dan di bangku-bangku universitas. Ia dahulu terkenal sebagai seorang ”apologetis Islam” (pembela doktrin Islam) dengan situsnya ”Convert2Islam.” Situs barunya “Don’tConvert2Islam
Dalam videonya ”Why I Left Islam” (Mengapa Saya Meninggalkan Islam) ia memberikan alasan mengapa agama yang ia tekuni dan bela mati-matian tersebut sekarang ia tinggalkan dan berbalik 180 derajat menjadi pembela ajaran Alkitab. Di bawah ini adalah ringkasan pengakuannya sendiri.

“Saya telah menjadi Muslim (orang Islam) selama 16 tahun, namun beberapa tahun belakangan ini saya telah terganggu dengan masalah-masalah sekarang ini yang memaksa saya mempertanyakan iman Islamku.
Pertanyaan ”Mengapa saya meninggalkan Islam?” Jawaban dari pertanyaan ini adalah Kuran dan Muhammad, ajaran keduanya tentang moral dan tingkah-laku. Beberapa tahun belakangan ini saya tidak mampu lagi membela Kuran, khususnya Muhammad dalam masalah moral dan tingkah-laku. Pada masa lalu saya telah melakukan sebisa saya membela Islam dan khususnya Muhammad, berkali-kali.

Saya seorang Islam yang terdidik dengan baik dan telah mempelajari bidang apologetis Islam bertahun-tahun. Namun sementara saya berdebat membela Islam dan Muhammad saya sadari bahwa banyak kritik tentang Islam adalah sungguh valid (berlaku) dan didasari dari sumber-sumber Islam awal yang autentik. Saya temukan diri saya sendiri kalah dalam menemukan jawaban yang layak dan jujur dalam meresponi mereka.
Ismael memberi satu contoh dari sejumlah masalah yang ia hadapi dalam Kuran berkaitan dengan masalah moral dan tingkah-laku.
Apakah dihalalkan pria Muslim memperkosa seorang wanita, khususnya wanita yang suaminya masih hidup dan bukan Muslim?, ia membuka sebuah kasus. Ismael menemukan jawabannya di Kuran pada An-Nisa (surah) 4:22-24,

”Juga (adalah terlarang) wanita-wanita yang telah menikah, kecuali mereka (budak-budak) yang tangan kananmu miliki. Itu semua Allah telah berikan kepadamu. (Surah 4:24).

Abdul Katir, seorang Komentator Islam klasik, menulis ”itu dihalalkan” asal ”setelah yakin sebelumnya bahwa mereka (wanita-wanita rampasan perang tersebut) tidak sedang hamil” – Abdul Katir mengutip jawaban Muhammad atas pertanyaan Abu Sa’id Al-Khudri.
Kenyataan ini membuat Ismael sendiri terkejut, dan hampir tidak percaya apa yang ia telah temukan. Lalu ia menggali sumber islam lainnya yang lebih autentik untuk memastikannya, ternyata sumber lain meneguhkan penghalalan tingkah laku tersebut. Di kitab Hadith sahih Sunan Abu Dawud vol.2 no.1161-2174; pada nomor 2155 dijelaskan bahwa Muhammad mendapat pewahyuan tersebut dari Allah.
Di sini Ismael memberi sebuah analogi untuk menjawab moral dan tingkah-laku yang diajarkan Kuran dan Muhammad: ”Jika wanita tersebut adalah istri kamu, atau salah satu wanita dari keluarga kamu atau putri kamu dipaksa untuk menceraikan suami resminya, lalu dipaksa untuk menikahi tentara musuh dan kemudian dipaksa bersetubuh, apakah kamu pikir istrimu, saudari kandungmu, putrimu, ibumu akanlah setuju pemaksaan yang melecehkan mereka?”

”Saya tidak percaya bahwa pewahyuan ini datang dari Elohim (God). Karena itu saya menolak Kuran dan Muhammad dalam masalah ini,” Ismael berkata, dan melanjutkan, “Nah sekarang Anda mengerti mengapa saya meninggalkan Islam. Terima kasih dan Elohim memberkati Anda, saya dan semuanya. Amin.”

Read the rest of this entry

A Moment for Truth (about Islam) by Dave Hunt

America awakened September 11 to appalling scenes on TV of passenger planes deliberately crashing into the towers of the World Trade Center and into the Pentagon. Stunned disbelief gave way to the question, who could so carefully plan and efficiently execute such incredibly inhumane destruction and slaughter? What cause could so powerfully motivate educated and trained individuals to sacrifice their own lives and the lives of so many total strangers in this manner? In the minds of civilized people these men were unbelievable fanatics. But were they?

Could one call the spiritual leader of an entire major country a “fanatic,” a man universally recognized as properly representing his religion? Who would know his religion better than the spiritual leader himself? Such was Iran’s Ayatollah Khomeini when he declared, “The purest joy in Islam is to kill and be killed for Allah.”1 Is that fanaticism? Read the rest of the article

Read also:

Read the rest of this entry

Medinah: Ajaran Rizieq Ketua FPI “memanipulasi fakta via media” dalam kehidupan bangsa Indonesia

Rizieq memakai istilah yang dibuat oleh RAND Corporation, organisasi Amerika melihat dunia Islam, RAND Corp. membagi dunia Islam kedalam 4 kelompok Muslim, dikutip dari penjelasan Rizieq:

  • Islam Fundamentalist: mendukung Syariah Islam (SI), mendukung penegakan negara Kalifat, anti Demokrasi, sangat kritis terhadap pemikiran dan budaya Barat
  • Islam Moderat / Mordernist: anti SI, anti Kilafah, pro demokrasi, sedikit kritis terhadap Barat
  • Islam Liberalist: 1-3 sama dengan Moderat. Pro budaya Barat
  • Islam Tradisionalist: Sama dengan Fundamentalist tapi netral terhadap sistim demokrasi.

WAJIB N0NT0N !! CERAMAH Terbaru HABIB RIIZEQ Di MADINAH Saudi ARABIA

 

Ketua Front Pembela Islam (FPI) ini, pada ceramahnya di Medinah, Mei 2017, mengajar para pendengarnya bagaimana berurusan dengan Pemerintah; dimulut (media) menolak suara-suara yang keluar dari “Muslim Fundamentalist” namun dalam praktek tetap radikal: “kalau tidak bisa dirangkul, dipukul” dan “kalau tidak bisa dipeluk, digebuk,” Rizieq memerintahkan.

Berikut ini sedikit salinan apa yang ketua FPI ini ajarkan kepada umat Muslim Indonesia saat berada di Medinah:

“Jangan pernah memberitakan segala kebaikan sebesar apapun yang dilakukan kelompok Fundamentalist.” Sebaliknya, “Segala kesalahan sekecil apapun yang dilakukan kelompok Fundamentalist harus di-viral-kan, harus disebar luaskan dan harus di-ulang-ulang supaya itu melekat di hati masyarakat bahwa mereka orang-orang yang tidak layak diberikan tempat di kita punya negeri.”

Rizieq berlanjut: “jangan mencantumkan titel mereka baik kehormatan maupun akademi supaya memberi opini ke masyarakat bahwa mereka ‘kuper, bodoh, tidak berpendidikan dan tidak punya gelar.’”

Sebaliknya ia meminta semua umat Islam untuk memperlakukan Kelompok (Muslim) Modernist dan Liberal dengan rasa hormat yang tinggi.

“Berikan ruang bicara, jika ada dari mereka berbuat kesalahan jangan di-veral-kan, tapi jika berbuat baik sekecil apapun itu harus di-viral-kan dan harus disebar luaskan, dengan tujuan “seolah-olah itu adalah pendapat Islam Internasional”

Ia menambahkan, “Kejelekan mereka sebesar apapun harus disembunyikan. Penyebutan nama mereka harus lengkap dengan segala gelar kehormatan dan akademisnya.”

Sederhananya tak-tik Rizieq, ketua FPI, bagaimana umat Islam bisa membela dan memenangkan Islam di Indonesia melalui media: Pada satu sisi mempermalukan kelompok intelektual Islam dan Kuran yang berani bicara terang-terangan, yang disebut “Islam Fundamentalist” (menolak kenyataan) dan pada sisi lainnya, menjunjung tinggi “kelompok Islam Moderat” dan “Islam Liberal” sekalipun merekia tidak mengerti ajaran Islam dan kitab sucinya (menampilkan wajah manis)

Dengan kata lain ketua FPI ini mengajar: “menolak fakta Islam yang diberitakan oleh para Intelektual Islam dan menjadikan opini-opini Muslim Nominal/ KTP (Modernist dan Liberal) sebagai fakta Islam” – untuk mengelabui masyarakat dan Pemerintah.

Dalam dunia perang, tak-tik Rizieq ini dikenal sebagai taktik gerilya (menyerang ketika musuh lengah), dan taktik musuh dalam selimut (berpura-pura sepihak, menghancurkan dari dalam).  Taktik ini dipakai oleh NIK (Daesh/ ISIS) pada tahun-tahun pertama gerakan militer mereka, hasilnya banyak pemuda dan pemudi Muslim dari berbagai dunia tertarik untuk bergabung. Namun hanya dalam dua tahun NIK menunjukkan karakter aslinya, mereka membantai tanpa belas kasihan bukan saja tentara Muslim Pemerintah Irak dan Syria, namun juga anggota mereka sendiri yang berbeda pendapat tentang berperang dan yang ingin pulang.

Read the rest of this entry