Category Archives: HAM / Human Right

Chinese Government VS Chinese People + World Communities

Justice executed is a joy to the righteous but a terror to those who practice iniquity. (Proverbs 21:15, HCSB)

Human rights in China have been questioned for decades, since the Chinese Communist Party (CCP) has been controlling the country. But it is seem that the world did not care of the cries of Chinese people suffering. Now, things are changing, the coronavirus pandemic, started from Wuhan, which has infected over 5.2 million and killed at least 340,000 people, plus destroying economy worldwide have put the Chinese government under the spotlight on international media! This overheated now reaching the CCP, it can bring big damage to the Communist Party; Reuter called it “Tiananmen-like global backlash” three decades ago, the story that the CCP has been trying hardly to erase from the Chinese people (CBS). Here is some news and links are talking about it

I. Chinese People against their own government, the CCP

Freedom comes when we stop accepting tyranny and challenge those who would preserve it – Anastasia Lin

Dr. Li Wenliang, a Martyr from Wuhan

Dr. Li Wenliang of Wuhan

Tiffany Meier, a Chines American journalist from China in Focus (up-dated news about China)
ChinaAid.org. Bob Fu. ChinaAid endeavors to expose the systematic persecution, harassment, torture and imprisonment of Chinese Christians and human rights lawyers in China
Bitter Winter Org. A magazine on religious liberty and human rights in China. its network of several hundred correspondents in all Chinese provinces.
Radio Free Asia

ANASTASIA LIN | CHINA’S DARK SECRET | OFF in JOBURG

Deeper understanding about the Tiananmen tragedy: 31 Tahun setelah Tragedi Tiananmen, bagaimana masyarakat Tionghua dan Dunia melihat Pemerintah RRC?

II. The World Communities Versus the CCP

You can fool all of the people some of the time, You can fool some of the people all the time, But you can’t fool all of the people all of the time!” – Abraham Lincoln

 “The West has tolerated China’s authoritarianism for too long” – Sky News Australia

People call it as CCP Virus

Some people call the Coronavirus as CCP Virus

Africa

Asia

Australia:

Uni Europe:

UK:

United States of America

‘You are government mouthpiece,’ Trump sets new rule for Chinese media

Pembaca bebas memakai artikel TheCamelSpeaksOut.wordpress.com sejauh tidak merubah tulisan aslinya dan menyertakan link situsnya. Hargailah karya cipta orang lain.
Terima kasih, The Camel Speaks Out / Unta Angkat Bicara

31 Tahun setelah Tragedi Tiananmen, bagaimana masyarakat Tionghua dan Dunia melihat Pemerintah RRC?

30 Years After Tiananmen, a Chinese Military Insider Warns, Never Forget

Tanggal 4 Juni 1989 adalah peristiwa sejarah yang tidak bisa dilupakan dan tidak mudah dilupakan oleh Dunia, khususnya rakyat Tiongkok / Cina generasi tua. Itu adalah hari pembantaian massal tentara Cina atas para aksi protes pro-demokrasi di Lapangan Tiananmen, di pusat kota Beijing. Kebrutalan pemerintah RRC atas rakyatnya sendiri sungguh telah mengejutkan Dunia Barat, sehingga mereka setuju memberi sejumlah sangsi, termasuk menghentikan menjual alat persenjataan dan tranfer teknologi. Bahkan Presiden Russia, Mikhail Gorbachev, rekan baik Presiden RRC, Deng Xioping, memberi pernyataan sedihnya; berharap PKC mengadopsi program reformasi dan mulai mendemokrasikan sistim politik Cina tersebut.

Bulan Mai 1989, hampir satu juta Tionghua, mayoritas para pelajar, membanjiri pusat kota Beijing untuk memprotes: 1. Menuntut sistim demokrasi yang lebih besar. 2. Menuntut mundurnya para pemimpin PKC. Hampir tiga minggu para demontran tetap aktif menyuarakan tuntutan mereka: berbaris, meneriakkan slogan-slogan. Para wartawan Barat meliput hampir semua kejadian untuk para penonton televisi dan surat kabar di Amerika Serikat dan Eropa.

Pada 4 Juni 1989, polisi dan tentara menyerbu masuk Lapangan Tiananmen dengan sejumlah kendaran berat militer mereka, truk-truk dan sejumlah tank perang. Para wartawan, pekerja asing dan diplomat Barat yang ada ditempat kejadian memperkirakan sedikitnya 300, dan mungkin ribuan demontran terbunuh dan sebanyak 10.000 ditahan.

Former protesters recount 1989’s crackdown; Wu’er Kaixi, Doeng Shengkun, Pu Zhiqiang, (YouTube)

Pengakuan Saksi mata, mantan wartawan Tentara Pembebasan Rakyat (sebuah badan militer PKC)*

Jiang Lin, letnan saat itu, melihat langsung baik pembantaian dan gagalnya para komando meyakinkan para pemimpin Cina untuk tidak memakai kekuatan militer. Memperinggati 30 tahun tragedi Tiananmen (2019), Jiang, 66 tahun, telah memutuskan untuk pertama kalinya menceritakan pengalamannya.

Setelah kejadian, petugas pemerintah mengirim para demontran ke penjara dan menghapus ingatan pembunuhan itu. Pihak pemerintah menangkapi secara rutin mantan pemimpin demo, para orang tua pelajar dan penduduk dari mereka yang terbunuh. Jiang tidak berkata apapun, tetapi hati nuraninya telah tersiksa.

Lihat:

Sampai sekarang banyak generasi muda Cina tidak tahu apa-apa tentang hal ini, baru terkejut setelah mereka keluar dari RRC, seperti pengakuan Vicky Xu di atas.

“Penderitaan telah memakan diriku selama 30 tahun,” Jiang berkata pada sebuah wawancara di Beijing. “Setiap orang yang telah terlibat harus angkat bicara tentang apa yang mereka tahu telah terjadi. Itu adalah tugas kita bagi yang telah meninggal, masih selamat dan anak-anak masa depan.”

Protes-protes telah terjadi di bulan April di berbagai kota ketika para pelajar berbaris untuk berduka kematian mendadak dari Hu Yaobang, seorang pemimpin reformasi yang terkenal; menuntut pemerintah untuk lebih bersih dan terbuka.

Jiang telah merasakan ketakutan di bulan Mai ketika berita di radio dan TV mengumumkan pemerintah akan memakai kekerasan militer. Jendral Xu Qinxian, ketua Divisi 38 dari Tentara Rakyat menolak memimpin tentaranya masuk Beijing tanpa surat tertulis. 7 Komandan juga menandatangi surat penolakan tugas yang dialamatkan ke Komisi Pusat Militer: “Tentara Pembebasan Rakyat adalah kekuatan militer rakyat dan itu seharusnya tidak memasuki kota atau menembaki masyarakat sipil.” Jiang semangat untuk menyebarkan surat itu ke media militer. Atasnya melarang menerbitkan surat tsb.

Malam sebelum 4 Juni, Jiang sempat meninjau lapangan dengan berpakaian sipil.

4 Juni menjelang gelap, tentara beraksi secara penuh. Mereka menembaki bahkan yang mencoba melarikan diri, sebagian tergilas tank baja. Ia melihat sendiri pria muda membawa wanita yang terluka dikepalanya dengan gerobak sepedanya ke rumah sakit, sementara yang mati dan terluka berdatangan berpuluh-puluh. Jing berkata, “Itu serasa menonton ibu saya sendiri ada diperkosa. Tidak mampu melihatnya.”

Beberapa bulan setelah kejadian, ia ditahan dan dua kali diperiksa sekaitan catatan pribadi yang ia tulis. Ia tinggalkan dunia militer 1996.

Tahun-tahun telah lewat, ia telah menunggu seorang pemimpin Cina maju ke depan menceritakan ke bangsanya bahwa pembubaran bersenjata tersebut adalah sebuah kesalahan, tetapi hari itu tidak pernah terjadi.

Jiang berkata dan percaya bahwa stabilitas dan dan kemakmuran Cina akanlah ada rapuh selama Partai (Komunis Cina) tidak mau menebus banjir darah tersebut;

“Sema ini dibangun di atas pasir. Tidak ada fondasi yang keras. Jika kalian dapat menolak bahwa masyarakat telah terbunuh, maka setiap kebohongan adalah mungkin.”

Selama bertahun-tahun, sekelompok sejarawan, penulis dan fotografer dan aktifis Tionghua telah mencoba mencatat dalam sejarah Cina yang Partai berusaha melupakannya. Cerita lengkap harap lihat sumber aslinya, di bawah.

Mai 2021. Laporan orang dalam PKC memperingatkan bahwa Pemerintah Beijing menghadapi serangan balik global seperti-Tiananmen atas pandemic virus corona. Inti laporan: adanya sentiment anti-china secara global sedang pada puncaknya sejak 1989 tragedi Lapangan Tiananmen, sumber-sumber berkata. Laporan tersebut dihadirkan bulan April oleh Menteri Keamanan Negara ke para pemimpin teras atas Beijing termasuk Presiden Xi Jinping, Reuter menulis. Internal Chinese report warns Beijing faces Tiananmen-like global backlash over the corona virus pandemic.

Pertanyaan:
Dua minggu lagi, 4 Juni 2021, Dunia memperingati Tragedi Tiananmen ke-31 di tengah wabah COVID-19 yang berasal dari Wuhan, yang ditutupi oleh Pemerintah PKC lebih dai 4 minggu, sehingga menjadi pandemi global.

  • Menarik untuk kita amati, bagaimana tanggapan para pemimpin bangsa dan PBB, NATO tentang Tragedi Tiananmen tersebut, apakah mereka masih tetap tutup mata dan mulut demi uang (bisnis) atau angkat bicara menegur Pemerintah Cina untuk ikut dalam sitim demokrasi dan menghargai Hak Asasi Manusia?
  • Reaksi masyarakat Tionghua di perantauan, termasuk di Indonesia, apakah mereka masih menutup mata dan telinga – dan bahkan membela – atas segala perbuatan kotor Pemerintah Komunis Cina ini?

Pesan Mordekai, paman Esther, ratu dari raja Persia ini mungkin bisa menjadi renungan untuk kita semua – Tionghua dan bukan Tionghua:

Jangan kira, karena engkau di dalam istana raja, hanya engkau yang akan terluput dari antara semua orang Yahudi. Sebab sekalipun engkau pada saat ini berdiam diri saja, bagi orang Yahudi akan timbul juga pertolongan dan kelepasan dari pihak lain, dan engkau dengan kaum keluargamu akan binasa. Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu.” (Esther 4:13-14)

Lihat juga:
Tiananmen Square Protests 1989: Chinese Soldiers Open Fire on Civilians (YouTube)

China hides history in attempt to conceal Tiananmen Square events (YouTube)

Tiananmen Square: What happened in the protests of 1989? – BBC News (YouTube)

Sumber acuan:

Pembaca bebas memakai artikel TheCamelSpeaksOut.wordpress.com sejauh tidak merubah tulisan aslinya dan menyertakan link situsnya. Hargailah karya cipta orang lain.
Terima kasih, The Camel Speaks Out / Unta Angkat Bicara

Pro dan kontra “Ceramah Sukmawati 11 Oktober” dianggap menodai agama Islam

Orang yang tak berpengalaman percaya kepada setiap perkataan, tetapi orang yang bijak memperhatikan langkahnya.  (Amsal Salomo 14:15)

Media YouTube dipenuhi dengan lebih dari seratus video berisi kemarahan para pemuka dan simpatisan Islam yang disertai dengan komentar-komentar yang sangat pedas. Judul yang umum dipakai adalah kira-kira berbunyi: “Sukmawati membandingkan Al-Quran dengan Pancasila, Nabi Muhammad dengan Ir. Soekarno.”

Saya juga terkejut ketika melihat video tersebut, kemudian melihat ke kolom komentar, dan saya berkomentar dalam hati, “Tidak heran umat Islam marah besar!” dan berpikir “Mengapa ibu Sukmawati mencari gara-gara lagi? Bukankah kita baru saja memulai periode pemerintahan yang baru?”

Bacaan berkait:

Ingin sekali saya mengkomentari ceramah ibu Sukmawati yang saya anggap “kurang pantas baik waktu maupun tempat, apalagi isinya;” namun tiba-tiba saya teringat ayat Firman Tuhan:

Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.  (Yakobus 1:19-20).

Teringat juga perkataan anak laki-laki saya, dimana guru sekolah SMAnya menasehati para murid: ”Janganlah kamu percaya begitu saja apa yang kamu lihat di internet dan TV!”

Maka segera saya cari melalui mesin pencari Google dan di YouTube ”ceramah lengkap Sukmawati membandingkan nabi Muhammad dengan Ir. Soekarno.”

Yes, I got it!, saya berkata kegirangan. Tuan rumah Kompas mewawancarai langsung ibu Sukma. Namun sedih benar, video klaim ibu Sukma “saya merasa sangat dirugikan oleh media online yang mempunyai pemikiran usil, tangan-tangan jail untuk merubah kata-kata saya dan juga mengedit kata-kata saya,” ternyata selesai saat pemandu acara mau membuktikan klaim ibu ini melalui menayangkan isi ceramah tersebut.

Klarifikasi Sukmawati Soekarnoputri: Video Itu Diedit Tangan-Tangan Jahil

Klaim ibu Sukma ini menarik perhatian saya, maka saya cari lagi dan ketemu. Ternyata ceramanya berdurasi lebih dari 20 menit! Bukan 2 menit seperti nampak ada di banyak video. Dari video itu nampak ceramahnya berkaitan erat dengan Hari Pahlawan 10 Oktober; ceramah diadakan pada tanggal 11 yang dihadiri oleh mayoritas mahasiwa. Thema acara tersebut tertulis besar-besar di dinding panggung:

BANGKITKAN NASIONALISME;
BERSAMA KITA TANGKAL RADIKALISMSE
DAN MEMERANGI TERORISME

Lihat di bawah ini, tidak asli dari panitia penyelenggara, namun setidaknya cukup lengkap

Sukmawati: Soekarno Lebih Berjasa dari Nabi Muhammad SAW

Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada Hari Penghakiman,” Yeshua Ha Mashiah (Matius 12:36)*

Dan tanggal 21 November, TVOne menghadirkan 4 pembicara di acara DUA SISI; Damai Hari Lubis (Pelapor Kasus Sukmawati) dan Nasir Djamil (Anggota DPR RI F-PKS) dan sisi lawannya yakni yang menolak bahwa ceramah tersebut sebagai penistaan kepada Islam, khususnya nabi Muhammad, yaitu Ibnu Prakoso (Sekjen PNI Marhaenisme) dan Petrus Selestinus (Kuasa Hukum Sukmawati)

Apakah Sukmawati Menodai Agama? Begini Penjelasan Sekjen PNI Marhaenisme vs Pelapor Kasus..

Setelah kita menyaksikan ketiga video ini, apa pendapat kalian tentang ceremah ibu Sukmawati pada acara Peringatan Hari Pahlawan tersebut: apakah ceramah tersebut terbukti menghina agama Islam dan nabinya, atau tepat sejalan dengan thema acara tersebut? Beri komentar kalian. Terima kasih!

*) Kata sia-sia (idle word) artinya perkataan yang lahir dari kurangnya rasa menahan diri atau tidak ada tanggung jawab alias ceroboh.

Pembaca bebas memakai artikel TheCamelSpeaksOut.wordpress.com sejauh tidak merubah tulisan aslinya dan menyertakan link situsnya. Hargailah karya cipta orang lain.
Terima kasih, The Camel Speaks Out / Unta Angkat Bicara

Persians speak out! Interviewing Persians At Iran Protest In Los Angeles

This is very interesting video, knowing what do the people of Iran, Persians, really think about and wish to have in Iran.

 

Sarah Zoabi wanita Muslim yang tanpa takut membuka kebenaran tentang Israel

Sarah Zoabi Arab, seorang muslim hidup di Israel. Sarah mengeritik orang-orang Muslim yang berlaku tidak adil kepada bangsa dan negara Israel, sebuah negara yang telah merawat ribuan orang Suriah yang terluka selama perang sipil 6 tahun sementara negara-negara Arab menolak untuk menerima mereka untuk perawatan dan menutup perbatasan-perbatasan negara mereka untuk para pengungsi perang dengan tanpa memberi pertolonganan apapun – namun “kamu mengklaim bahwa Israel adalah sebuah negara apartheid,” Sarah berkata.

Dan Sarah memanggil orang-orang dari dunia Arab untuk menyelidiki hati nurani mereka – mereka yang menyadari kesalahan tersebut namun berdiam diri , “Kalian haruslah malu dengan sikap tutup mulut kalian …”

Pembaca bebas memakai artikel TheCamelSpeaksOut.wordpress.com sejauh tidak merubah tulisan aslinya dan menyertakan link situsnya. Hargailah karya cipta orang lain. Terima kasih, The Camel Speaks Out / Unta Angkat Bicara