Category Archives: Politik Internasional

Apakah George Soros dibelakang Perang atas Hydroxychloroquine? Adam Eliyahu Berkowitz

Tidak seorang pun sanggup mengabdi kepada dua tuan, karena dia akan mebenci yang satu dan mengasihi yang lain, atau ia akan mematuhi yang satu dan mengabaikan yang lian.
Kamu tidak dapat mengabdi kepada Elohim dan Mamon. (Matius 6:24)

George Soros, pemimpin dan pendiri Open Society Fondation Juni 2017

George Soros, Founder and Chairman of the Open Society Foundation gives a speech during Economic Forum in Brussels, Belgium on June 1, 2017 (courtesy: Shutterstock)

Ini versi singkat. Harap lihat aslinya + berisi banyak referensi (links):  Is Soros Behind the War on Hydroxychloroquine? Artikel ini boleh diperbanyak dan di kirim ulang tanpa perlu ijin dari saya, cukup sertakan linknya. Terima kasih.

Meskipun banyak nyawa yang dipertaruhkan, respon terhadap pandemi virus corona telah sangat terpolitisasi. Sedikit penelitian ke dalam elemen terpisah menunjukkan beberapa koneksi yang mengganggu, menunjukkan perang media melawan hydroxychloroquine kemungkinan ada didukung oleh beberapa kekuatan jahat.

Perjalanan Waktu Remdesivir lawan Hydroxychloroquine (HCQ)
19 Maret, Presiden Trump mengumumkan bahwa FDA akanlah membuat persetujuan jalur-cepat tentang pengobatan-pengoban virus corona yang tidak terbukti, termasuk hydroxychloroquine. Dua bulan kemudian, setelah banyak perdebatan sengit dan perang media atas obat tersebut, Trump mengumumkan bahwa ia mengambil hydroxychloroquine sebagai profilaksis (pencegahan penyakit). [HCQ adalah obat yang dikenal umum, obat pencegahan dan pengobatan untuk penyakit Malaria]. HCQ diakui oleh banyak dokter bisa dipakai sebagai obat COVID-19 tingkat dini. HCQ harus dibeli dan dipakai seijin dokter]

Film DOKUMENTASI melacak sumber virus corona Wuhan / ‘CCP Virus’

Satu minggu setelah klaim hydroxychloroquine Trump tersebut. the Food and Drug Administration (FDA) mengeluarkan sebuah Emergency Use Authorization (EUA) untuk pemakaian akut obat Remdesivir bagi perawatan para pasien COVID-19. Remdesivir saat ini ada dalam pengetesan sebagai satu-satunya perawatan khusus bagi COVID-19, dan telah diberi kuasa untuk pemakaian akut di AS dan disetujui dipakai di Jepang bagi orang-orang dengan simpton-simpton yang berat.

Remdesivir awalnya dibuat dan dikembangkan oleh Gilead Sciences pada 2009. Awalnya dimaksudkan sebagai pengobatan untuk Hepatitis C, tidak berhasil. Pada Januari 2020, Gilead memulai pengujian laboratorium Remdesivir untuk mengobati COVID-19.

Pada tanggal 21 Januari, Wuhan Institute of Virology dipakai sebagai “pemakaian patent” Cina, untuk mengobati COVID19. Pada saat itu, tidak ada penelitian yang diterbitkan menunjukkan bahwa Remdesivir ini efektif. Meskipun demikian, obat ini sudah dikerahkan untuk uji klinis di Wuhan dan di tempat lain di Cina.

REMDESIVIR: Milik China atau Amerika?
WUXI Pharmatech dibentuk dari kombinasi Chinese WuXi PharmaTech dan American AppTec Laboratory Services, yang berpusat di Minnesota, Pennsylvania, and Georgia.

Chinese Government VS Chinese People + World Communities

HUBUNGAN KEUANGAN (GEORGE) SOROS
Sejumlah dokumen dari Securities and Exchange Commission di 2011 menunjukkan Soros Fund Management LLC telah menginvestasikan berat-besaran ke WUXI Pharmatech Caymen, Inc., sebuah perusahaan farmasi dan bioteknologi.

[Ada sebuah film dokumentasi “Plandemic”, awal Mei 2020, dokter virologist Judy Mikovits membagikan apa yang ia tahu dan saksikan sekaitan bisnis COVID-19 ini, Dokter Dan Erickson serta Artin Massihi juga tampil; namun YouTube mencabut film ini setelah viral. Orang lain memuat kembali film ini. Point saya di sini, bukan masalah sebuah klaim (entah Dr. Mikovits benar atau salah), tetapi keterbukaan dan kebebasan berpendapat. Mensensor pendapat bukanlah kemajuan berpikir dan hidup, tetapi awal dari kehancuran hidup manusia. Judy dan Kent Heckenlively JD menerbitkan bukunya April 2020: Plague of Corruption: Restoring Faith in the Promise of Science (Children’s Health Defense)]

Pada 2012, WuXi AppTec membuka pusat penelitian dan pengembangan di Wuhan. Pada 2015, Wuxi bekerja sama dengan Gilead Sciences dalam mendirikan sebuah fasilitas pengujian analitis dan stabilitas di Shanghai.

WuXi AppTec beroperasi di 15 tempat di seluruh AS, Eropa, dan Timur Tengah. Satu tahun sebelum Soros menginvestasi dalam perusahaan ini, mereka mengumumkan rencana untuk membangun sebuah pusat penelitian dan pengembangan bernilai $100.000.000 di Wuhan. Pusat ini dibuka satu tahun setelah investasi Soros, laboratorium Wuhan dibuka.

SOROS SUPER PAC MENYERANG PRO-HYDROXYCHLOROQUINE TRUMP
Bulan lalu, Washington Free Beacon melapor bahwa Priorities USA Action, yakni PAC terbesarnya Partai Demokrat (USA), akan menyalurkan puluhan juta dollar untuk iklan-iklan mengeritik Trump bagi respon dia atas pandemic virus corona tersebut. Menurut laporan itu, Priorities USA ACTION menerima 3 juta $ dalam kontribusi dari organisasi politik milik Soros pada 21 Pebuari. Laporan berkata bulan lalu PAC telah menerima 77% dari 3,9 juta $ dari Soros.

Dana politik (Partai) Demokrasi lainnya terkait dengan Jurubicara Gedung Putih Nancy Pelosi, mantan Menteri Luar Negeri Hillary Clinton, dan calon Presiden Partai Demokrat Joe Biden adalah satu kamp, menginvestasi besar-besaran dalam mempolitisasikan pandemi ini.

Tucker: Big Tech censors dissent over coronavirus lockdowns ( > 4,1 millions views)

MENGAPA REMDESIVIR DAN BUKAN HYDROXYCHLOROQUINE?
Obat apapun belumlah diuji adanya perbedaan yang berarti di antara mereka. Remdesivir, patentnya dimiliki oleh Gilead, diperkirakan akan mengenakan biaya antara 390-4.000 $ untuk pemakaian penuh obatnya.
Hydroxychloroquine telah disetujui untuk pemakaian pengobatan di Amerika Serikat sejak tahun 1955 dan tidak memiliki hak patent. Harganya sekitar 60 sent $ per tabet.

Pembaca bebas memakai artikel TheCamelSpeaksOut.wordpress.com sejauh tidak merubah tulisan aslinya dan menyertakan link situsnya. Hargailah karya cipta orang lain.
Terima kasih, The Camel Speaks Out / Unta Angkat Bicara

 

 

 

 

 

Chinese Government VS Chinese People + World Communities

Justice executed is a joy to the righteous but a terror to those who practice iniquity. (Proverbs 21:15, HCSB)

Human rights in China have been questioned for decades, since the Chinese Communist Party (CCP) has been controlling the country. But it is seem that the world did not care of the cries of Chinese people suffering. Now, things are changing, the coronavirus pandemic, started from Wuhan, which has infected over 5.2 million and killed at least 340,000 people, plus destroying economy worldwide have put the Chinese government under the spotlight on international media! This overheated now reaching the CCP, it can bring big damage to the Communist Party; Reuter called it “Tiananmen-like global backlash” three decades ago, the story that the CCP has been trying hardly to erase from the Chinese people (CBS). Here is some news and links are talking about it

I. Chinese People against their own government, the CCP

Freedom comes when we stop accepting tyranny and challenge those who would preserve it – Anastasia Lin

Dr. Li Wenliang, a Martyr from Wuhan

Dr. Li Wenliang of Wuhan

Tiffany Meier, a Chines American journalist from China in Focus (up-dated news about China)
ChinaAid.org. Bob Fu. ChinaAid endeavors to expose the systematic persecution, harassment, torture and imprisonment of Chinese Christians and human rights lawyers in China
Bitter Winter Org. A magazine on religious liberty and human rights in China. its network of several hundred correspondents in all Chinese provinces.
Radio Free Asia

ANASTASIA LIN | CHINA’S DARK SECRET | OFF in JOBURG

Deeper understanding about the Tiananmen tragedy: 31 Tahun setelah Tragedi Tiananmen, bagaimana masyarakat Tionghua dan Dunia melihat Pemerintah RRC?

II. The World Communities Versus the CCP

You can fool all of the people some of the time, You can fool some of the people all the time, But you can’t fool all of the people all of the time!” – Abraham Lincoln

 “The West has tolerated China’s authoritarianism for too long” – Sky News Australia

People call it as CCP Virus

Some people call the Coronavirus as CCP Virus

Africa

Asia

Australia:

Uni Europe:

UK:

United States of America

‘You are government mouthpiece,’ Trump sets new rule for Chinese media

Pembaca bebas memakai artikel TheCamelSpeaksOut.wordpress.com sejauh tidak merubah tulisan aslinya dan menyertakan link situsnya. Hargailah karya cipta orang lain.
Terima kasih, The Camel Speaks Out / Unta Angkat Bicara

31 Tahun setelah Tragedi Tiananmen, bagaimana masyarakat Tionghua dan Dunia melihat Pemerintah RRC?

30 Years After Tiananmen, a Chinese Military Insider Warns, Never Forget

Tanggal 4 Juni 1989 adalah peristiwa sejarah yang tidak bisa dilupakan dan tidak mudah dilupakan oleh Dunia, khususnya rakyat Tiongkok / Cina generasi tua. Itu adalah hari pembantaian massal tentara Cina atas para aksi protes pro-demokrasi di Lapangan Tiananmen, di pusat kota Beijing. Kebrutalan pemerintah RRC atas rakyatnya sendiri sungguh telah mengejutkan Dunia Barat, sehingga mereka setuju memberi sejumlah sangsi, termasuk menghentikan menjual alat persenjataan dan tranfer teknologi. Bahkan Presiden Russia, Mikhail Gorbachev, rekan baik Presiden RRC, Deng Xioping, memberi pernyataan sedihnya; berharap PKC mengadopsi program reformasi dan mulai mendemokrasikan sistim politik Cina tersebut.

Bulan Mai 1989, hampir satu juta Tionghua, mayoritas para pelajar, membanjiri pusat kota Beijing untuk memprotes: 1. Menuntut sistim demokrasi yang lebih besar. 2. Menuntut mundurnya para pemimpin PKC. Hampir tiga minggu para demontran tetap aktif menyuarakan tuntutan mereka: berbaris, meneriakkan slogan-slogan. Para wartawan Barat meliput hampir semua kejadian untuk para penonton televisi dan surat kabar di Amerika Serikat dan Eropa.

Pada 4 Juni 1989, polisi dan tentara menyerbu masuk Lapangan Tiananmen dengan sejumlah kendaran berat militer mereka, truk-truk dan sejumlah tank perang. Para wartawan, pekerja asing dan diplomat Barat yang ada ditempat kejadian memperkirakan sedikitnya 300, dan mungkin ribuan demontran terbunuh dan sebanyak 10.000 ditahan.

Former protesters recount 1989’s crackdown; Wu’er Kaixi, Doeng Shengkun, Pu Zhiqiang, (YouTube)

Pengakuan Saksi mata, mantan wartawan Tentara Pembebasan Rakyat (sebuah badan militer PKC)*

Jiang Lin, letnan saat itu, melihat langsung baik pembantaian dan gagalnya para komando meyakinkan para pemimpin Cina untuk tidak memakai kekuatan militer. Memperinggati 30 tahun tragedi Tiananmen (2019), Jiang, 66 tahun, telah memutuskan untuk pertama kalinya menceritakan pengalamannya.

Setelah kejadian, petugas pemerintah mengirim para demontran ke penjara dan menghapus ingatan pembunuhan itu. Pihak pemerintah menangkapi secara rutin mantan pemimpin demo, para orang tua pelajar dan penduduk dari mereka yang terbunuh. Jiang tidak berkata apapun, tetapi hati nuraninya telah tersiksa.

Lihat:

Sampai sekarang banyak generasi muda Cina tidak tahu apa-apa tentang hal ini, baru terkejut setelah mereka keluar dari RRC, seperti pengakuan Vicky Xu di atas.

“Penderitaan telah memakan diriku selama 30 tahun,” Jiang berkata pada sebuah wawancara di Beijing. “Setiap orang yang telah terlibat harus angkat bicara tentang apa yang mereka tahu telah terjadi. Itu adalah tugas kita bagi yang telah meninggal, masih selamat dan anak-anak masa depan.”

Protes-protes telah terjadi di bulan April di berbagai kota ketika para pelajar berbaris untuk berduka kematian mendadak dari Hu Yaobang, seorang pemimpin reformasi yang terkenal; menuntut pemerintah untuk lebih bersih dan terbuka.

Jiang telah merasakan ketakutan di bulan Mai ketika berita di radio dan TV mengumumkan pemerintah akan memakai kekerasan militer. Jendral Xu Qinxian, ketua Divisi 38 dari Tentara Rakyat menolak memimpin tentaranya masuk Beijing tanpa surat tertulis. 7 Komandan juga menandatangi surat penolakan tugas yang dialamatkan ke Komisi Pusat Militer: “Tentara Pembebasan Rakyat adalah kekuatan militer rakyat dan itu seharusnya tidak memasuki kota atau menembaki masyarakat sipil.” Jiang semangat untuk menyebarkan surat itu ke media militer. Atasnya melarang menerbitkan surat tsb.

Malam sebelum 4 Juni, Jiang sempat meninjau lapangan dengan berpakaian sipil.

4 Juni menjelang gelap, tentara beraksi secara penuh. Mereka menembaki bahkan yang mencoba melarikan diri, sebagian tergilas tank baja. Ia melihat sendiri pria muda membawa wanita yang terluka dikepalanya dengan gerobak sepedanya ke rumah sakit, sementara yang mati dan terluka berdatangan berpuluh-puluh. Jing berkata, “Itu serasa menonton ibu saya sendiri ada diperkosa. Tidak mampu melihatnya.”

Beberapa bulan setelah kejadian, ia ditahan dan dua kali diperiksa sekaitan catatan pribadi yang ia tulis. Ia tinggalkan dunia militer 1996.

Tahun-tahun telah lewat, ia telah menunggu seorang pemimpin Cina maju ke depan menceritakan ke bangsanya bahwa pembubaran bersenjata tersebut adalah sebuah kesalahan, tetapi hari itu tidak pernah terjadi.

Jiang berkata dan percaya bahwa stabilitas dan dan kemakmuran Cina akanlah ada rapuh selama Partai (Komunis Cina) tidak mau menebus banjir darah tersebut;

“Sema ini dibangun di atas pasir. Tidak ada fondasi yang keras. Jika kalian dapat menolak bahwa masyarakat telah terbunuh, maka setiap kebohongan adalah mungkin.”

Selama bertahun-tahun, sekelompok sejarawan, penulis dan fotografer dan aktifis Tionghua telah mencoba mencatat dalam sejarah Cina yang Partai berusaha melupakannya. Cerita lengkap harap lihat sumber aslinya, di bawah.

Mai 2021. Laporan orang dalam PKC memperingatkan bahwa Pemerintah Beijing menghadapi serangan balik global seperti-Tiananmen atas pandemic virus corona. Inti laporan: adanya sentiment anti-china secara global sedang pada puncaknya sejak 1989 tragedi Lapangan Tiananmen, sumber-sumber berkata. Laporan tersebut dihadirkan bulan April oleh Menteri Keamanan Negara ke para pemimpin teras atas Beijing termasuk Presiden Xi Jinping, Reuter menulis. Internal Chinese report warns Beijing faces Tiananmen-like global backlash over the corona virus pandemic.

Pertanyaan:
Dua minggu lagi, 4 Juni 2021, Dunia memperingati Tragedi Tiananmen ke-31 di tengah wabah COVID-19 yang berasal dari Wuhan, yang ditutupi oleh Pemerintah PKC lebih dai 4 minggu, sehingga menjadi pandemi global.

  • Menarik untuk kita amati, bagaimana tanggapan para pemimpin bangsa dan PBB, NATO tentang Tragedi Tiananmen tersebut, apakah mereka masih tetap tutup mata dan mulut demi uang (bisnis) atau angkat bicara menegur Pemerintah Cina untuk ikut dalam sitim demokrasi dan menghargai Hak Asasi Manusia?
  • Reaksi masyarakat Tionghua di perantauan, termasuk di Indonesia, apakah mereka masih menutup mata dan telinga – dan bahkan membela – atas segala perbuatan kotor Pemerintah Komunis Cina ini?

Pesan Mordekai, paman Esther, ratu dari raja Persia ini mungkin bisa menjadi renungan untuk kita semua – Tionghua dan bukan Tionghua:

Jangan kira, karena engkau di dalam istana raja, hanya engkau yang akan terluput dari antara semua orang Yahudi. Sebab sekalipun engkau pada saat ini berdiam diri saja, bagi orang Yahudi akan timbul juga pertolongan dan kelepasan dari pihak lain, dan engkau dengan kaum keluargamu akan binasa. Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu.” (Esther 4:13-14)

Lihat juga:
Tiananmen Square Protests 1989: Chinese Soldiers Open Fire on Civilians (YouTube)

China hides history in attempt to conceal Tiananmen Square events (YouTube)

Tiananmen Square: What happened in the protests of 1989? – BBC News (YouTube)

Sumber acuan:

Pembaca bebas memakai artikel TheCamelSpeaksOut.wordpress.com sejauh tidak merubah tulisan aslinya dan menyertakan link situsnya. Hargailah karya cipta orang lain.
Terima kasih, The Camel Speaks Out / Unta Angkat Bicara

Film DOKUMENTASI melacak sumber virus corona Wuhan / ‘CCP Virus’

Kita mengharapkan damai, tetapi tidak datang sesuatu yang baik, mengharapkan waktu kesembuhan, tetapi yang ada hanya kengerian!  (Yeremiah 8:15)

buku Strategi Perang Komunis Cina melawan Amerika dan NATO

Strategi perang PKC melawan Amerika

The first documentary movie on CCP virus, Tracking Down the Origin of the Wuhan Coronavirus (the full film in the bottom) adalah nama asli film ini; suatu film dokumentasi yang teliti dan melibatkan banyak pakar dari berbagai  keahlian. Film yang membuat penontonnya berpikir lebih jauh daripada sekedar ‘bagaimana mengatasi wabah COVIC-19?’ Bagus untuk ditonton!

Film dokumentasi dihadirkan oleh The Epoch Times dan NTD. Joshua Philip, wartawan investigasi Epoch Times telah membuat suatu penyelidikan yang dalam pada perkembangan pandemik virus corona dari Januari ke April. Film dokumentasi COVIC-19 ini menolong menjawab pertanyaan seperti:

  • Apakah virus ini berkembang secara natural dari pasar merangkap restoran binatang liar atau dari produksi laboratorium?
  • Dari negara mana sesungguhnya asal virus corana tersebut?
  • Apa yang sesungguhnya terjadi di Wuhan sebelum dan semasa wabah ini terjadi yang tidak dilaporkan oleh Pemerintah Partai Komunis Cina (PKC)?
  • Sejumlah pakar orang Cina Amerika buka suara. Apa kaitan Dr. Shi Zhengli, peneliti dan pakar virus dan penyebaran penyakit dari Wuhan Institute of Virology (WIV) dengan COVIC-19?
  • Dan mengapa sejumlah media menyebut COVID-19 ini dengan nama “CCP Virus” (Chines Communis Party Virus)?
  • Apakah “CCP Virus” ini bagian dari strategi perang pemerintah Cina melawan Amerika dan sekutunya yakni NATO?
  • Bagaimana Barat melihat hubungan WHO dengan Pemerintah PKC, dan mengkonter PKC?

Pembaca bebas memakai artikel TheCamelSpeaksOut.wordpress.com sejauh tidak merubah tulisan aslinya dan menyertakan link situsnya. Hargailah karya cipta orang lain.
Terima kasih, The Camel Speaks Out / Unta Angkat Bicara