Motif utama ibu Sukmawati Soekarno melalui puisi IBU INDONESIA

Ibu Sukmawati Soekarno membaca puisi Ibu Indonesia

Ibu Sukmawati puisi “Ibu Indonesia”

Masalah SARA (Suku, Agama, Ras dan Antargpolongan) adalah masalah yang sangat rapuh dan sensitif di Indonesia sampai sekarang. Karena masalah SARA kita bangsa yang besar telah bisa dijajah selama 350 tahun oleh bangsa Belanda yang negaranya begitu kecil apalagi jika itu dibandingkan dengan luas negara Indonesia. Sesuatu harus diperbaiki! Negara yang Besar dan Maju selalu meneliti menilai perbuatan seseorang berdasarkan motivasi si pelaku. Apa sih sebenarnya motif utama ibu Sukmawati, putri dari Presiden Indonesia membacakan puisi yang dipandang oleh sejumlah umat Islam sebagai ”penghujatan agama Islam? – ini yang kita perlu ketahui dan pelajari sebelum memberi komentar negatif maupun positif. Kita pelu mempelajari isi puisi, kondisi dan pikiran Sukmawati, dan meneliti dari mulutnya sendiri: ”mengapa beliau menyinggung di depan banyak orang perkara yang rapuh dan sensitif ini?” Mari kita bahas bersama.

Isi dari puisi Sukmawati sebagaimana nampak di video ini yang ia bacakan pada Kamis 29 Maret 2018

IBU INDONESIA

Aku tak tahu Syariat Islam
Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah

Lebih cantik dari cadar dirimu
Gerai tekukan rambutnya suci
Sesuci kain pembungkus ujudmu

Rasa ciptanya sangatlah beraneka
Menyatu dengan kodrat alam sekitar
Jari jemarinya berbau getah hutan
Peluh tersentuh angin laut

Lihatlah ibu Indonesia
Saat penglihatanmu semakin asing
Supaya kau dapat mengingat

Kecantikan asli dari bangsamu
Jika kau ingin menjadi cantik, sehat, berbudi, dan kreatif
Selamat datang di duniaku, bumi Ibu Indonesia

Aku tak tahu syariat Islam
Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok

Lebih merdu dari alunan azan mu
Gemulai gerak tarinya adalah ibadah
Semurni irama puja kepada Illahi
Nafas doanya berpadu cipta

Helai demi helai benang tertenun
Lelehan demi lelehan damar mengalun
Canting menggores ayat ayat alam surgawi

Pandanglah Ibu Indonesia
Saat pandanganmu semakin pudar
Supaya kau dapat mengetahui kemolekan sejati dari bangsamu

Sudah sejak dahulu kala riwayat bangsa beradab ini cinta dan hormat kepada ibu Indonesia dan kaumnya.

Sekarang kita lihat perkataan ibu Sukmawati Soekarno, setelah NU meminta klarifikasi dari perbuatannya tersebut. Pada video ini, ia memberikan 5 poin alasan di depan para wartawan. Tulisan di bawah ini, saya kutip sepenuhunya dari BeritaJatim.com:

  1. Puisi Ibu lndonesia yang saya bacakan adalah sesuai dengan tema dari acara pagelaran busana yakni cultural identiti, yang mana semata mata adalah pandangan saya sebagai seniman dan budayawan dan murni merupakan karya sastra Indonesia.

  2. Saya mewakili pribadi, tidak ada niatan untuk menghina umat Islam Indonesia dengan Puisi Ibu indonesia. Saya adalah seorang muslimah yang bersyukur dan bangga akan keislaman saya, putri seorang Proklamator Bung Karno yang dikenal juga sebagai tokoh Muhammadiyah dan juga tokoh yang mendapatkan gelar dari Nahdlatul Ulama sebagai Waliyul Amri Ad Dharuri Bi Assyaukah (pemimpin pemerintahan di masa darurat yang kebijakan kebijakannya mengikat secara de facto dengan kekuasaan penuh).

  3. Puisi lbu Indonesia adalah salah satu puisi yang saya tulis, yang menjadi bagian dari Buku Kumpulan Puisi Ibu lndonesia yang telah diterbitkan pada 2006. Puisi Ibu Indonesia ini ditulis sebagai refleksi dari keprihatinan saya tentang rasa wawasan kebangsaan dan saya rangkum semata mata untuk menarik perhatian anak-anak bangsa untuk tidak melupakan jati diri Indonesia Asli.

  4. Puisi itu juga saya tulis sebagai bentuk dari upaya mengekspresikan dari melalui “suara kebudayaan “sesuai dengan tema acara… Saya pun tergerakkan oleh cita2 untuk semakin memahami masyarakat Islam Nusantara yang Berkemajuan sebagaimana cita cita Bung Karno. Dalam hal ini Islam yg bagi saya begitu agung, mulia dan indah Puisi itu juga merupakan bentuk penghormatan saya terhadap Ibu Pertiwi Indonesia yang begitu kaya dengan tradisi kebudayaan dalam susunan masyarakat Indonesia yang begitu berbhinneka namun tetap tunggal ika.

  5. Namun karena karya sastra dari Puisi Ibu Indonesia ini telah memantik kontroversi di berbagai kalangan, baik pro dan kontra khususnya dikalangan umat Islam, dengan ini dari lubuk hati yang paling dalam, saya MOHON MAAF LAHIR BATHIN kepada umat Islam Indonesia khususnya bagi yang merasa tersinggung dan berkeberatan dengan Puisi Ibu Indonesia.

Selain itu saya menyampaikan permohonan maaf kepada Anne Aventie dan keluarga, serta apresiasi dan terimakasih kepada seluruh fashion designer Indonesia agar tetap berkreasi dan produktif.

Mencari motif utama ibu Sukmawati Soekarno; pembelaan dirinya:

  • Puisi Ibu Indonesia ini ia bacakan berkaitan dengan acara indentitas budaya  Sukmawati Soekarno dengan bukunya Puisi Ibu Indonesia terbit 2006tepatnya busana (p.1), dan juga, “bentuk penghormatan saya terhadap Ibu Pertiwi Indonesia … tunggal ika.” (p.4)
  • Puisi Ibu Indonesia ini bukanlah barang baru, itu bagian dari buku karya tulisnya sendiri yang ia telah terbitkan pada tahun 2006; alasan penulisan: keprihatinan saya tentang rasa wawasan kebangsaan … semata-mata untuk menarik perhatian anak-anak bangsa untuk tidak melupakan jati diri Indonesia Asli.” (7x menyebut ”Ibu Indonesia” pada Puisinya) (p.3)
  • Isi puis semata-mata “pandangan saya” sendiri dan “murni karya sastra Indonesia” (p.1) dan tidak mewakili siapapun, kecuali pribadinya sendiri. (p.2)
  • Sukmawati menyangkal menghina umat Islam Indonesia dengan puisi tersebut (2x ia menyebut “Syariat Islam”), sebab ia sendiri “seorang Muslimah,” yang bangga dengan Islamnya sekaligus putri dari  Proklamator Bung Karno, tokoh Muhammadiyah dan mendapat gelar penghormatian dari NU organisasi Islam terbesar di Indonesia (p.2)
  • Ia sedih dan menyesalkan puisinya telah “memantik kontroversi,” dan telah “MOHON MAAF LAHIR BATIN kepada umat Islam Indonesia” yang tersinggung dan keberatan dengan puisi Ibu Indonesia tersebut. (p.5)

Saya tidak meragukan Nasionalisme dari ibu Sukmawati, khususnya ia berasal dari keluarga anak Proklamator dan putri dari Presiden pertama Indonesia. Kurang dari 1½ tahun yang lalu (kamis, 27 Oktober 2016) berdasarkan video ini, ibu Sukmawati pernah melaporkan ketua FPI Rizieq Shihab ke Bareskrim Markas Besar Polri dengan tuduhan Menghina Pancasila dan serta menghina Presiden pertama Indonesia Soekarno, yakni ayah kandung dari ibu Sukmawati. Ketua FPI ini sampai sekarang masih buron. Kita tidak tahu apakah perkara dengan Rizieq ini ada kaitannya dengan pembacaan puisi Ibu Indonesia, beliau sendiri yang tentunya yang bisa menjawabnya.

Satu dari Amsal raja Salomo yang terkenal adalah, “Manusia dapat menimbang-nimbang dalam hati, tetapi jawaban lidah berasal dari pada YAHWEH.”  (Amsal 16:1, ITB). Jika 5 point di atas, bukanlah berasal dari hati nuraninya, marilah kita berdoa kepada Elohim, agar cepat atau lambah motivasi murni ibu Sukmawati ini keluar dari mulutnya. Elohim memberkati kita semua!

Read the rest of this entry

Iklan

Perjalanan Imanku; perpindahan dari Islam ke Ha Mashiah (Masud Masihiyyen)

Saya terlahir dalam sebuah keluarga Muslim. Saya tidak pernah menghadari sembayang Jumat, bagaimanapun saya sering membaca Kuran dan sembayang lima waktu secara rutin untuk beberapa tahun, dan juga berpuasa di bulan Ramadan. Saya sangat tertarik cerita-cerita tentang kehidupan Yeshua sehingga saya membaca Surah 19 (kitab Mariam, atau Maria orang Kristen menyebutnya) hampir setiap hari.

Perjalanan imanku dengan dan untuk Yeshua dimulai ketika aku masih kanak-kanak sekitar usia sepuluh tahun. Paman dari ayahku memiliki seorang putra yang sering berpergian ke beberapa negara Eropa, satu dari koleksi barangnya adalah sebuah salib kecil. Ketika aku ingin tahu apa artinya salib tersebut, sepupuku secara singkat mengkaitkannya kepada cerita Nabi Yeshua.

Ketika saya berusia 13 tahun, saya mendapat kesempatan belajar lebih tentang Kristianiti dengan bantuan kelas agamaku.

Masud secara panjang lebar bercerita bagaimana di negaranya masyarakat Muslim berpikir tentang Kristianiti dan Alkitabnya – semuanya buruk, yang paling benar adalah Islam dan Kurannya.

Saya tidak pernah mendapat kesempatan mendapatkan kitab suci Kristen sampai suatu hari beberapa sepupuku meminta saya pergi bersama mereka dan menolong satu dari sepupu kami dengan projek sekolahnya. Kami bertemu dan pergi ke toko kecil dimana buku-buku bekas dijual. Pada sebuah rak buku mataku melihat sebuah buku sangat tipis berdebu. Ketika saya ambil itu, itu ternyata kitab Injil Markus! Saya merasa kakiku tidak menginjak bumi oleh karena ketidak sabaranku tidak tertahan – saya ingin segera terbang pulang dan membacanya.

Saya membaca Injil Markus ini lebih dari tiga kali pada hari yang sama tersebut. Buku tipis ini secara sempurna menjabarkan apa artinya salib dalam kehidupan Yeshua dan bagaimana salib datang mewakili Yeshua.

Ketika berita tersiar di rumah bahwa saya telah membeli Injil Markus tersebut, kemarahan ibuku menyala-nyala. Yang mengejutkan setiap orang ayahku nampak tertarik untuk membacanya – ia telah lama ingin membaca kitab Injil. Jadi ayahnya membaca Injil Markus tersebut.

Sehari setelah hari Natal, secara berani saya bercerita kepada kedua orang tuaku bahwa saya telah merayakan Natal pertamaku; ia bikin sendiri meniru dari acara TV Kristen. Ini membuat kedua orang tuanya marah dan mengundang ahli agama ke rumah untuk membawa saya kembali ke Islam. Masud menangkis semua celaan tamu ini atas Kristianiti, “Saya berkata bahwa kesimpulannya tidaklah logis” dan “Kuran secara umum lebih tebal oleh karena itu mengulang-ulang cerita-cerita yang sama terus menerus.”

Jawaban saya ini membuat orang tua saya marah, khususnya ayah saya, yang siap memukulku. Saya diminta memilih satu dari dua kemungkina: melupakan Kristianiti dan kembali ke Muslim, atau meninggalkan rumah. Saya menjadi susah dan takut, ada sebagai anak remaja. Sementara air mata turun membasahi pipiku, saya berjanji untuk meninggalkan Kristianiti dan berhenti menjelekan Islam.

Tepatnya, kembaliku ke Islam tidaklah berarti melakukan praktek Islam. Saya tidak pernah lagi membaca Kuran atau sembayang lima waktu.

Setelah beberapa bulan kemudian, saya melakukan puasa Islam bersama ayahku. Bagaimapun, saya tidak dapat menahan ketertarikanku dalam Kristianiti.

Beberapa malam saya bermimpi Yeshua turun dari langit pada Hari Penghakiman. Pada suatu akhir minggu, saya pergi ke gereja terdekat ketika hujan deras turun dengan perasaan sukacita dan takut dan menunggu gerbang utama ada dibuka. Malangnya, gerbang belum dibuka, sebab ternyata saya tiba dua jam sebelum waktunya. Satu-satunya yang saya bisa lakukan adalah kembali ke rumah sementara hujan semakin deras.

Seorang dari sepupuku (dengan siapa saya merayakan Natal pertama saya) merayakan ulang tahunnya pada 15 Maret, saya mengunjunginya bersama sepupu lainnya (dengan siapa saya pergi ke toko buku dan membeli Injil Markus). Sekembali dari pesta, kami melewati gedung gereja, gerbang terbuka, jadi kami masuk dan melihat ibadah tersebut. Ini merupakan kunjungan gereja yang pertama bagi Masud. Ia berkata mengingat kejadian tersebut, “Benih dari imanku dalam Mashiah yang belum dewasa mulai berkembang ketika saya berada di jemaat tersebut, roh sukacita yang tidak bisa ditahan, kedamaian dan ringan. Roh tersebut menyakinkanku bahwa Yeshua hadir di Gereja dan saya tidak memerlukan agama lainnya untuk mencari Dia atau kebernaran-Nya.”

Karena saya masih dibawah usia 18 tahun, saya perlu mendapatkan permisi dari ayahku untuk menghadiri ibadah-ibadah Gereja. [Penterjemah: saya menduka, kejadian ini Mesir, ini adalah peraturan pemerintah Mesir untuk orang Islam yang ingin pindah ke Kristianiti]

Hal-hal mulai berubah untuk lebih baik ketika saya berhasil masuk universitas dan jauh dari kota dimana saya tinggal. Ini memampukan orangtuaku merindukanku dan mengevaluasi kasih mereka kepadaku. Tahun pertama sukses pendidikanku telah membuat kedua orangtuaku sangat bahagia dan menyebabkan mereka menghargai agama baruku. Ayaku kususnya lebih bahagia dari ibuku sebab saya pria satu-satunya dalam anggota keluarga yang mendapat gelas sarjana. Ini adalah telah menjadi impian dari kakekku bertahun-tahun.

Sebagai sorang Kristen muda setelah baptisanku, saya mulai bertanya entah saya layak mengikuti Yeshua. Saya secara salah telah berpikir bahwa pertobatanku akanlah membuat saya menjadi seorang pribadi yang sempurna dalam sekejap mata, namun saya gagal dan merasa mengecewakan Adonai. Suatu hari saya meninggalkan Alkitab di kamar saya dan pergi ke kamar lain untuk menghidupkan TV. Hal pertama yang saya dengan ketika saya hidupkan TV adalah kalimat “Bapa, ampunilah mereka; sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat!” Itu adalah tayangan dari sebuah film Kristen (saya tidak ingat namanya sekarang) dan saya mengerti ketidak sengajaan ini adalah satu dari jalan-jalan rahasia dengan apa belah kasihan Yeshua memilih untuk berkomunikasi dengan ku. [Ini kemungkinan besar Film Jesus menurut Injil Lukas, lihat Lukas 23:34]

Ini bukanlah satu-satunya kejadian yang membuat saya yakin tentang kehadiran aktif Yeshua dalam kehidupanku. Suatu ketika saat saya sangat sakit dan jauh dari rumahku. Saya tidak tahu bagaimana mengatasi masalah-masalahku. Setelah berulang kali meminta Yeshua mengangkat ku dari bumi ini, saya menjadi sangat letih dari semua tagisan dan jeritan. Lalu saya jatuh tertidur, dalam mimpi saya saya melihat pintu kamar saya terbuka dan seorang pria dengan jubah putih datang ke ranjangku dan duduk pada sisi kakiku. Saya dapat mendengar Ia mengatakan sebuah kalimat yang saya belum pernah dengan sebelumnya, ”Therefore always being confident, and knowing that while we are in the body, we are away from home from the Lord.” Setelah mengatakan kalimat tersebut, pria tersebut menyentuh kakiku dan segera saya terbangun dengan kagum. Kemudian waktu saya temukan bahwa kalimat itu adalah sebuah ayat dari Kitab Suci Alkitab* dan menyimpulkan bahwa Adonai ada disana sebagaimana Dia selalu besertaku untuk menghibur dan menuntunku.

Diberkatilah Nama-Nya selamanya. Saya berharap tetap bertumbuh dalam iman dan menjadi layak bagi panggilan-Nya. Masud

  • 2 Corinthians 5:6, EMTV)

Catatan dari penterjemah: Terjemahan Indonesia ini adalah ringkasan dari terjemahan Inggris. Lengkapnya bisa dilihat disini: My Journey of Faith Conversion from Islam to the Messiah

Masud telah banyak menulis artikel perbandingan Alkitab dan Quran, sedikitnya 40 artikel, tiga diantaranya seperti ini:

Read the rest of this entry