Arsip Blog

Rakyat Iran menyambut 41tahun Revolusi Islam Januari 2020; Penyesalan & Kebencian bertambah

Come to Me, all of you who are weary and burdened, and I will give you rest. All of you, take up My yoke and learn from Me, because I am gentle and humble in heart, and you will find rest for yourselves. For My yoke is easy and My burden is light.” (Matthew 11:28-30)

Rakyat Iran muak dengan sistim kerajaan, lalu mereka menumbangkan Mohammad Reza Pahlavi, dan mengundang Ayatollah Khomeini untuk membentuk negara keagamaan. Protes massa digelar besar-besaran pada hari Jumat, 7 September 78. Semakin hari semakin besar dan kasar. Akhirnya, 15 Januari 79, lebih dari 100.000 (seratus ribu) orang berkumpul di luar Mesjid Bazaar Tehran berteriak-teriak dengan slogan “Long live Khoemeini” dan “Death to the Shah” esok harinya, Mohammad Reza dan isterinya terbang ke luar negeri mencari suaka. Dan Khomeini balik ke Iran dari tempat pembuangannya 31 Januari 1979. Lalu 15 Pebuarinya, Kedutaan Besar Amerika Serikat direbut dengan kekerasan; para pekerjaanya di tahan (selama 444 hari), ratusan orang AS keluar dari Iran. Penerapan Hukum Islam semakin melebar, 7 Maret, Khomeini menetapkan hukum ber-hijab (kerudung kepala) adalah wajib dipakai di luar rumah bagi semua wanita dan anjuran memakai pakaian panjang dan longgar berwarna hitam. Ada puluhan ribu wanita Muslim mendukung keputusan tersebut.

Bulan madu dengan Revoulusi Islam berganti dengan perlawanan. Kelompok masyarakat Iran yang pertama kali merasakan sangat dirugikan oleh Revolusi Islam adalah kaum wanita. Pada masa pemerintahan keluarga Shah, berkerudung sering dipandang sebagai bentuk keterbelakangan, kini dipandang sebagai bentuk kemegahan moral. Hal ini tidak diterima oleh para wanita kelas menengah ke atas, sehari setelah hukum berhijab ini diperkenalkan, 8 Maret, sekitar 100.000 wanita turun kejalan berdemontrasi. 100,000 Iranian Women March Against The Hijab Law In 1979 Tehran, berlanjut sampai saat ini: How Iran’s Hijab Protests Went Viral

Foto-foto: Iranian women – before and after the Islamic Revolution

Kelompok masyarakat Iran yang pertama kali merasakan sangat dirugikan oleh Revolusi Islam adalah kaum wanita

Dr. Shayesteh, adalah satu dari ratusan ribu Muslim Iran yang menyesal. Ia terlibat aktif dalam bangkitnya revolusi Iran, namun kemudian ia harus melarikan diri dari negerinya sendiri, karena aniaya yang ia terima. Dosanya? Mengeritik kebijakan pemerintah Islam. Ia sekarang hidup sebagai seorang pendeta Kristen di Australia. Buku kesaksiannya berjudul The House I Left Behind; A Journey from Islam to Christ. Video kesaksiannya: Ex Muslim Scholar now Preaching Crucified Christ

Rakyat Iran saat itu mendambakan ekonomi yang lebih baik, kehidupan beragama yang lebih besar. Mereka berharap banyak bahwa Revolusi Islam akan menjawab impian mereka tersebut. Namun harapan mereka kandas hanya dalam beberapa tahun saja sejak Khomeini berkuasa, bahkan semakin lama penyesalan dan kebencian mereka nampak semakin bertambah besar.

Pada Peringatan Revolusi Islam ke 39, terjadi suatu demontrasi yang besar, berawal di kota Mashad, jauh dari ibukota Teheran, namun hanya dalam hitungan hari meletus di Teheran dan menyebar ke puluhan kota di Iran. Mereka menuntut janji Presiden Hasan Rouhani memperbaiki ekonomi, lapangan tenaga kerja.

Seorang pemuda berteriak di tengah jalan, “Saya memiliki dua gelar sarjana. Saya telah menghabiskan 15 tahun untuk studi, dan saya tetap tidak dapat hidup di bawah kondisi-kondisi ekonomi ini”
Lainnya, “Sepupuku gajinya tidak dibayar selama tiga bulan, dan kemudian mereka memecatnya. Ketika kami tanya ’Kenapa?,’ mereka hanya menjawab ‘Terima saja kenyataan,” wanita ini berteriak histeris di tengah jalan.
Bukan pernyataan maaf yang rakyat dapatkan, sebaliknya Pemerintah menggilas aksi demo ini, ratusan tewas.

Iran’s massive protests, explained in 4 minutes

November 2019. Menyambut peringatan Revolusi Islam yang ke 41 ini, telah terjadi demontrasi di lebih seratus kota di negara Iran oleh karena pemerintah menaikan harga minyak lebih dari 50%, ini suatu pukulan yang besar bagi rakyat Iran sudah kepayahan dengan kehidupan sehari-hari. Ini adalah akibat dari sangsi yang Pemerintah Amerika lakukan atas pemimpin NRII, semakin sulitnya ekonomi. Kemarahan mereka bukanlah kepada pemerintah AS, tetapi para pemimpin mereka sendiri yang menghabiskan jutaan dollar untuk mendukung ekpansi militer di luar negeri seperti Hamas (di Gaza), Hisbollah (Libanon) dan Yemen serta tentunya Syria.

Presiden Rouhani berkata bahwa alasan dari menaikkan harga bahan bakar adalah agar masyarakat kelas bawah bisa mendapatkan keuntungan. Meresponi komentar konyol Rouhani ini para demo berteriak,

“Harga minyak naik, orang miskin semakin miskin”
“Tidak untuk Gaza, tidak untuk Libanon; saya mengorbankan hidupku bagi Iran!”

Kali inipun aksi demo dihadapi dengan tangan keras. menurut organisasi Amnesty Internasional, sedikitnya telah tewas 143 hanya dalam 5 hari (26/11/19); “Kematian-kematian tersebut adalah hampir seluruhnya akibat penggunaan senjata api,” sebagian lagi karena gas air mata dan setelah pemukulan, sejak harga bensin dinaikkan pada 15 November. Pemerintah Iran berkata 180 pemimpin demo telah ditangkap; namun menurut organisasi HAM dari PBB jumlahnya lebih dari 1000 (seribu) orang.

Dr. Mehrdad Fatehi, seorang professor Iran, berdasarkan hasil surfei berkata antara tiga sampai empat juta orang Iran telah menjadi Kristen (November 2018) IRAN: God Himself Causing Revival

Referensi lainnya:

Read the rest of this entry