Arsip Blog

Ismael kembali ke Kristianiti setelah 16 tahun belajar dan membela Islam

Kuduslah kamu, sebab Aku, YAHWEH, Elohimmu, kudus (Imamat 19:2)

Ismael don't convert to IslamIsmael (nama samaran) adalah seorang Muslim kulit putih yang sangat serius dalam masalah kerohanian. Setelah ia menjadi orang Islam, ia tidak hanya beribadah dengan tekun, lebih dari itu ia belajar bahasa Arab dan belajar agama Islam di universitas. Selama 16 tahun sebagai orang Islam, Ismael pernah tinggal di Arab Saudi dan Mesir, menjabad sebagai seorang Katif Islam, ia mengajar di Mesjid-mesjid dan di bangku-bangku universitas. Ia dahulu terkenal sebagai seorang ”apologetis Islam” (pembela doktrin Islam) dengan situsnya ”Convert2Islam.” Situs barunya “Don’tConvert2Islam
Dalam videonya ”Why I Left Islam” (Mengapa Saya Meninggalkan Islam) ia memberikan alasan mengapa agama yang ia tekuni dan bela mati-matian tersebut sekarang ia tinggalkan dan berbalik 180 derajat menjadi pembela ajaran Alkitab. Di bawah ini adalah ringkasan pengakuannya sendiri.

“Saya telah menjadi Muslim (orang Islam) selama 16 tahun, namun beberapa tahun belakangan ini saya telah terganggu dengan masalah-masalah sekarang ini yang memaksa saya mempertanyakan iman Islamku.
Pertanyaan ”Mengapa saya meninggalkan Islam?” Jawaban dari pertanyaan ini adalah Kuran dan Muhammad, ajaran keduanya tentang moral dan tingkah-laku. Beberapa tahun belakangan ini saya tidak mampu lagi membela Kuran, khususnya Muhammad dalam masalah moral dan tingkah-laku. Pada masa lalu saya telah melakukan sebisa saya membela Islam dan khususnya Muhammad, berkali-kali.

Saya seorang Islam yang terdidik dengan baik dan telah mempelajari bidang apologetis Islam bertahun-tahun. Namun sementara saya berdebat membela Islam dan Muhammad saya sadari bahwa banyak kritik tentang Islam adalah sungguh valid (berlaku) dan didasari dari sumber-sumber Islam awal yang autentik. Saya temukan diri saya sendiri kalah dalam menemukan jawaban yang layak dan jujur dalam meresponi mereka.
Ismael memberi satu contoh dari sejumlah masalah yang ia hadapi dalam Kuran berkaitan dengan masalah moral dan tingkah-laku.
Apakah dihalalkan pria Muslim memperkosa seorang wanita, khususnya wanita yang suaminya masih hidup dan bukan Muslim?, ia membuka sebuah kasus. Ismael menemukan jawabannya di Kuran pada An-Nisa (surah) 4:22-24,

”Juga (adalah terlarang) wanita-wanita yang telah menikah, kecuali mereka (budak-budak) yang tangan kananmu miliki. Itu semua Allah telah berikan kepadamu. (Surah 4:24).

Abdul Katir, seorang Komentator Islam klasik, menulis ”itu dihalalkan” asal ”setelah yakin sebelumnya bahwa mereka (wanita-wanita rampasan perang tersebut) tidak sedang hamil” – Abdul Katir mengutip jawaban Muhammad atas pertanyaan Abu Sa’id Al-Khudri.
Kenyataan ini membuat Ismael sendiri terkejut, dan hampir tidak percaya apa yang ia telah temukan. Lalu ia menggali sumber islam lainnya yang lebih autentik untuk memastikannya, ternyata sumber lain meneguhkan penghalalan tingkah laku tersebut. Di kitab Hadith sahih Sunan Abu Dawud vol.2 no.1161-2174; pada nomor 2155 dijelaskan bahwa Muhammad mendapat pewahyuan tersebut dari Allah.
Di sini Ismael memberi sebuah analogi untuk menjawab moral dan tingkah-laku yang diajarkan Kuran dan Muhammad: ”Jika wanita tersebut adalah istri kamu, atau salah satu wanita dari keluarga kamu atau putri kamu dipaksa untuk menceraikan suami resminya, lalu dipaksa untuk menikahi tentara musuh dan kemudian dipaksa bersetubuh, apakah kamu pikir istrimu, saudari kandungmu, putrimu, ibumu akanlah setuju pemaksaan yang melecehkan mereka?”

”Saya tidak percaya bahwa pewahyuan ini datang dari Elohim (God). Karena itu saya menolak Kuran dan Muhammad dalam masalah ini,” Ismael berkata, dan melanjutkan, “Nah sekarang Anda mengerti mengapa saya meninggalkan Islam. Terima kasih dan Elohim memberkati Anda, saya dan semuanya. Amin.”

Read the rest of this entry

Arti Difinisi kata Kafir dalam Kitab Suci Alkitab; Ahok vs Muhammad Asroi

gubernur-dki-basuki-t-purnama-vs-muhammad-arsoi-tentang-orang-kafir

Basuki T.Purnama vs Muhammad Asroi tentang “orang kafir”

Gubernur Basuki T. Purnama atau Ahok (nama akrabnya) Januari ini marah besar di ruang pengadilan karena disebut sebagai “orang kafir” oleh saksi penuduhnya, Muhmmad Asroi. Uraian fakta di bawah ini mungkin akan mengejutkan jutaan orang Indonesia.

Tengok dahulu bagaimana bapa Ahok dan Muhmmad Asroi mendifinisikan kata “orang kafir.”

Gubernur DKI Basuki / Ahok: Saya keberatan Anda menganggap saya kafir karena saya ber-Tuhan dan saya menerima Yesus adalah Tuhan dan hak saya di negeri Pancasila ini, dan setiap warga negara Indonesia ini saya berhak menjadi apapun di Republik ini.”  Ini dikatakan Ahok dengan nada tinggi disertai muka yang memerah karena terhina.

Muhammad Asroi Saputra, Sarjana Islam asal Padang Sidempuan, di depan para wartawan menjelaskan arti ”orang kafir” berlandaskan dua kalimat Sahadat, aka ”tauhit Islam,”  ia berkata: ”Iailah hailloulo,” tidak ada ilah selain Allah.” Ia melanjutkan, dari ”bahasa Kuran” ini, maka ”itu siapa saja yang belum masuk Islam, tidak mengakui Allah, tidak mengakui Muhammad” tergolong kafir. Lihat videonya di sini pada menit 2:00 – 2:15: Saksi Pelapor Peluk Ahok Ketika Sidang, Ahok Murka Disebut Kafir di Persidangan

Pembahasan istilah kata ”orang kafir.”

Kata ”Kafir” sekalipun banyak orang telah memakainya dan berpikir mereka tahu apa artinya, namun sesungguhnya mereka tidak mengerti makna dan filosofi agama yang terkandung di dalam kata tersebut.

Jauh bertahun-tahun sebelum Kuran diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, missionari Belanda di Indonesia telah menterjemahkan Alkitab ke dalam Bahasa Indonesia, terjemahan tersebut bernama Indonesia Terjemahan Lama (ITL), diterbitkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia tahun 1958, gabungan dari Perjanjian Baru (PB) terbitan 1879 dan Perjanjian Lama (PL) terbitan tahun 1938. Sumber terjemahan ITL ini diambil dari Alkitab bahasa Arab. Di Alkitab ITL (Alkitab online) ini ada terdapat 274 kali kata “kafir;” 170 di Perjanjian Lama (PL); 3 kali di kitab Torah (Taurat), dan 32 kali di kitab Mazmur (Zabur, jika anda suka menyebutnya). Di Perjanjian Baru (PB) 104 kali; 16 kali di Injil dan 32 kali di Kitab para Rasul, dan 20 kali di kitab Roma.

Mazmur 2:1Apakah sebabnya maka gempar orang kafir itu; mengapa maka bangsa-bangsa itu mereka perkara yang sia-sia? (ITL). Klik pada linknya untuk melihat artikel nubuatan Mazmur 2 ini.

Raja Daud, dalam kitab Mazmurnya 79:6 menulis, “Curahkanlah kiranya kehangatan murka-Mu kepada segala orang kafir, yang tiada mengenal akan Dikau, dan kepada segala kerajaan yang tiada menyebut nama-Mu.” (ITL)

Inilah adalah sebuah nubuatan raja Israel, Daud putra Isai, dalam bentuk doa syafaat. Ia sebagai orang Yahudi, keturunan dari suku Yehuda, pada pasal 79 ini, berdoa syafaat menuntut balas karena orang kafir telah masuk ke negara Israel, dan menajiskan Bait Suci-Nya dan menjadikan kota Yerusalem hancur, dan membunuh banyak orang dari bangsanya. Lihat ayat 1 dan 2.

Baca juga:

Alkitab menulis orang kafir pada nubuatan Daud ini adalah:

  • Bangsa Babilonia (Irak), dibawah pimpinan raja Nebukadnezar. Tertulis di kitab nabi Yeremia pasal 52
  • Bangsa Yunani, di bawah pimpinan Antoichus. Tertulis dalam kitab Apocrypha 1 Maccabees pasal.
  • Bangsa Romawi (Roma, Itali), di bawah pimpinan Jenderal Titus. Yeshua menubuatkan ini di kitab Matius pasal 23:36-39 dan Mat 24:1-2
  • Dan yang akan terulang lagi, segera – untuk terakhir kalinya. Kali ini oleh banyak kualisi bangsa-bangsa yang mayoritas adalah negara-negara Islam, dibawah pimpinan raja Gog dari tanah Magog. Negara-negara yang terlibat diantaranya: Iran, Etiopia, Libia, Turki. Baca kitab Yehezkiel 38.

Di sini kita lihat bahwa kata ”orang Kafir” dan ”bangsa Kafir” mengacu kepada setiap orang dari setiap bangsa yang bukan orang Israel dan bukan bangsa Israel, termasuk bangsa dan negara Indonesia terlepas agama apa pun yang kita anut. Termasuk saya sendiri! 😉

Orang Israel dalam Alkitabnya menyebut orang di luar bangsa Israel sebagai goy dan goyim (jamak), dalam Alkitab bahasa Inggris diterjemahkan sebagai “heathen” atau “gentiles,” atau:   “bangsa-bangsa” di luar bangsa Israel.

Pada Kitab Kisah para Rasul pasal 10, tercatat dimana rasul Petrus, satu dari 12 murid Yeshua, ingat bahwa semua murid Yeshua adalah orang Yahudi asli. Petrus sedang berdoa ketika ia melihat suatu penglihatan benda berbentuk kain lebar turun dihadapannya dari langit dimana di dalam kain tersebut terdapat berbagai jenis binatang yang tidak boleh dimakan menurut perintah Torah. Selagi ia masih terkejut suatu suara berkata, ”Bangunlah, hai Petrus, sembelilah dan makanlah!” Jawaban Petrus tegas, “Tidak, Tuhan, tidak, sebab aku belum pernah makan sesuatu yang haram dan yang tidak tahir.” Perintah ini terjadi tiga kali, sebelum benda itu kembali terangkat ke langit.

Saat ia bertanya-tanya apa arti dari penglihatan tersebut, pintu rumah dimana ia bermalam diketuk oleh tentara Romawi, utusan dari Kornelius, seorang perwira pasukan Romawi yang bertugas di Kaisarea (kota tepi pantai di atas kota Tel Aviv, Israel). Sehari sebelumnya malaikat YAHWEH bicara kepada Kornelius: “Semua doamu dan sedekahmu telah naik ke hadiran Elohim dan Elohim megingat enkau.” Malaikat inilah yang menyuruh Kornelius untuk mengutus pegawainya memanggil rasul Paulus mengajar “Jalan YAHWEH. Sekarang rasul Paulus mengerti arti dari penglihatan tersebut bahwa ”binatang haram dan tidak tahir tersebut adalah keluarga Kornelius. Singkat cerita, Petrus disertai beberapa orang Yahudi pergi masuk ke rumah Kornelius dan mengajar Injil. Petrus berkata kepada isi rumah tersebut:

“Kamu tahu, betapa kerasnya larangan bagi seorang Yahudi untuk bergaul dengan orang-orang yang bukan Yahudi atau masuk ke rumah mereka. Tetapi Elohim telah menunjukkan kepadaku (tiga kali: “makanlah”), bahwa aku tidak boleh menyebut orang najis atau tidak tahir.” (ITB)

“Kamu sendiri mengetahui, bahwa tiada halal bagi seorang Yahudi berkarib atau bercampur dengan orang bangsa asing; tetapi Allah sudah menunjukkan kepadaku, supaya aku jangan mengatakan barang seorang pun haram atau najis. (ITL)

Ketika rasul terus mengajar tentang Yeshua HaMasiah sesuatu yang belum pernah terjadi dalam sepanjang pelayanan rasul Petrus terjadi di depan matanya dan orang-orang Yahudi yang menyertainya, tercatat sebagai berikut:

“Ketika Petrus sedang berkata demikian, turunlah Roh Kudus ke atas semua orang yang mendengarkan pemberitaan itu. Dan semua orang percaya dari golongan bersunat yang menyertai Petrus, tercengang-cengang, karena melihat, bahwa karunia Roh Kudus dicurahkan ke atas bangsa-bangsa lain juga, sebab mereka mendengar orang-orang itu berkata-kata dalam bahasa roh dan memuliakan Elohim.” (Kis 10:44-46)

Pada hari yang sama tersebut, Kornelius dan seisi rumahnya dibaptis selam. Dan mereka tergolong sebagai “orang-orang Kudus.” Rasul Paulus menggambarkan orang-orang bukan Yahudi yang percaya Yeshua ini sebagai ”tunas-tunas liar yang dicangkokkan ke pohon zaitun.” Pohon Zaitun adalah gambaran dari Elohim YAHWEH, dan ranting-ranting pohon zaitun adalah bangsa Israel. Baca kitab Roma pasal 11.

”Ranting-ranting pohon zaitun” adalah umat Elohim, (atau ”umat Allah” jika anda suka menyebutnya) yang berasal dari garis keturunan Abraham-Ishak-Israel (Yakub). Keturunan Ismael, putra Abraham dari Hagar wanita Mesir (budak wanita Sarah) tidaklah dimasukkan ke dalam ikatan Perjanjian kekal antara Elohim YAHWEH dengan Abraham. Baca Kejadian 17:15-21.

Sampai di sini, kita jelas, siapakah sesungguhnya “orang kudus” dan “orang kafir” menurut firman Elohim. Kita semua orang yang bukan keturunan Abraham-Ishak-Israel adalah ”tunas-tunas liar!! Namun puji syukur kepada Elohim melalui Putra-Nya yang tunggal, Yeshua HaMashiah, kita para tunas-tunas liar bisa dikuduskan, jika dan hanya jika kita mengakui karya Yeshua di kayu salib – Dia adalah Anak Domba Paskah Elohim, darah-Nya mampu membersihkan segala dosa dan kenajiskan hati dan pikiran kita.

Terimalah Yeshua HaMashiah pada hari ini juga; akui dosa Anda kepada Elohim YAHWEH, dan jadikan Yeshua Tuhan dan Raja Anda di dalam hidup Anda! Maka janji ini akan menjadi milik Anda:

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.  (Yohanes 5:24)

Baca juga:

Read the rest of this entry