Arsip Blog

Para Muslim Indonesia, JANGAN mengulangi kesalahan bangsa Iran, Irak dan Syria; hentikan ISIS/NIK!

Janganlah menempuh jalan orang fasik, dan janganlah mengikuti jalan orang jahat. Jauhilah jalan itu, janganlah melaluinya, menyimpanglah dari padanya dan jalanlah terus. Karena mereka tidak dapat tidur, bila tidak berbuat jahat; kantuk mereka lenyap, bila mereka tidak membuat orang tersandung; karena mereka makan roti kefasikan, dan minum anggur kelaliman. (Amsal Salomo 4:14-17)

Polisi menunjukkan barang bukti bom rakitan buatan teroris di Jawa

Barang bukti bom rakitan NIK / ISIS

Roh jihad ISIS sedang memasuki bumi Indonesia, setiap orang Indonesia sadar akan hal ini, entah mereka pro maupun kontra. ISIS, atau Daesh orang Arab menyebutnya) sangat aktif membangun Negara Islam (NI)  mengulangi kejayaan Dunia Islam Khalifah. Mengapa aku menghubungkan NI Sunni ini dengan NI Syiah Iran, ya sebab mereka memiliki ambisi politik yang sama sekalipun beda dalam doktrin. Praktek agama adalah masalah pribadi kita dengan Tuhan, Pencipta kita, namun politik berjubah agama adalah kendali pemuka agama atas seluruh kehidupan pribadi manusia. Aku mau membawamu melihat pada tiga negara Islam pada periode 40 tahun kebelakang dari saat ini; negara-negara yang umumnya makmur menjadi miskin dan hilang masa depannya.

Bacaan  berkait:

TRAND MUSLIM ABAD 21, belum pernah terjadi sebelumnya!

Iran di bawah Ayatollah Khomeini. Reza Pahlavi menjadi raja/shah sejak Desember 1925 sampai Inggris dan Uni Soviet menduduki Iran 1941. Putranya Mohammad Reza menjadi raja (16/9/1941 – 11/2/1979). Konflik ulama di bawah pimpinan Sayyid Ruhuollah Musavi Khomeini (dikenal di dunia sebagai Ayatollah Khomeini) melawan raja mulai terjadi. 1962-63, Shah Pahlavi mengeluarkan undang-undang megijinkan untuk wanita boleh ikut memberi suara dalam pemilu untuk pertama kalinya dan bukan Muslim boleh bekerja di parlemen-parlemen. Khomeini menolak keputusan raja; tumpah darah terjadi dan ia dipenjarakan. Ulama ini dibebaskan di awal 1965, dan pindah ke Irak, mengendalikan para pengikutnya untuk tetap menentang raja. Sepanjang 1978 terjadi bentrokan fisik dari dua kubu ini. 22 Januari 79 keluarga kerajaan terpaksa meninggalkan Iran.

Ayatollah Khomeini kembali ke Iran 1 Pebruari 79 – dirayakan sebagai hari Revolusi Islam Iran. Mayoritas Muslim Iran sangat gembira pulangnya ulama mereka dan berpikir bahwa impian terbentuknya Negara Islam Iran yang mereka impikan sudah diambang pintu. 12 Pebuari para dewan Revolusi Islam langsung berkuasa. 4 Maret, Kedutaan Amerika Serikat diduduki secara paksa. Republik Negara Islam Iran (RNII) terbentuk 1 April melalui 98,2 % suara mendukung.

100.000 wanita Iran protes hukum tutup kepala 8 Mei 1979

100.000 wanita Iran berdemo anti kerudung (foto: Hengameh Golestan)

Para Muslim membunuh semua teman dan pendukung Shah, merskipun mereka juga Muslim. 7 Mei, 79, NI Iran ini mengumumkan hukum baru: semua wanita harus memakai kerudung kepala bila berada di luar rumah. Para wanita Muslim Iran terbangun dari tidurnya, besoknya 100.000 (seratus ribu) wanita turun ke jalan memprotes, ”Itu bukanlah sebuah protes melawan agama Islam atau keimanan, terbukti dengan banyaknya para wanita beragama (pendukung Revolusi Islam) bergabung pada protes tersebut, ini benar-benar tentang hak-hak wanita, semuanya hanyalah tentang memiliki pendapat.” Hengameh Golestan berkata. Ia hadir pada demo wanita bersejarah tersebut sebagai seorang juruphoto berusia 18 tahun saat itu.

Pertengahan 1980, Islamisasi mencengkram pendidikan dan militer; dua puluh ribu guru dan delapan ribu (8.000) tantara dipecat. September 80, perang Iran-Irak meletus; berlangsung selama 8 tahun. Para remaja Iran dikorbankan sebagai pembersih ranjau-ranjau perbatasan negara yang dipasang Saddam. Total lebih dari 100.000 (seratus ribu) rakyat jelata tewas. Iran banjir darah oleh tangan bangsanya sendiri. Hanya dalam dua tahun penuh Iran yang penuh warna telah menjadi hitam. Tragis. Laporan akhir 2017: “Rakyat Iran menghadapi kemiskinan, penekanan, diskriminasi dan perbedaan, berakibat tingkat bunuh diri di antara wanita naik 66% lima tahun belakangan, dan 71% untuk pria priode yang sama. Pada provinsi tertentu masalah ini dinyatakan sebagai epidemi.”[1] Dibanding 1991, bunuh diri naik 31 kali di tahun 2003. Iran telah menempati tingkat bunuh diri tertinggi di antara Wilayah Mediterranian Timur.[2] Saat ini Iran sudah tercebur dalam lumpur perang, tidak bisa keluar lagi. Sekarang Iran menggantungkan dirinya dari dua negara Komunis: Russia dan Republik Rakyat Cina untuk membeli kebutuhan alat perang dan kehidupan.

Irak dan Syria di bawah Negara Islam Khalifah (nama baru ISIS). Mayoritas penduduk Irak adalah Muslim Shia, namun presidennya Sunni. Sebaliknya di Syria mayoritas Sunni tapi presidennya Shia. Ini tidak ada masalah besar, hingga sampai masalah agama dicuatkan ke atas oleh para pemimpin agama masing-masing.

Meskipun Saddam Hussein jauh dari sempurna, mayoritas orang Irak sekarang mengakui bahwa kehidupan mereka jauh lebih baik semasa ia masih memerintah (1979-2003) di bawah Partai politik Ba’ath (Kebangkitan) – campuran faham sosialis Arab dan nasionalis Arab (1966-2003).[3] Jatuhnya pemerintahan Saddam ditandai dari tumbangnya patung dirinya di Bangdad (9/4/03), pada tahun yang sama Partai Ba’ath dilarang oleh partai kualisi yang baru lahir. Muqtada al-Sadr, ulama Shia mulai memasuki medan politik, N. al-Maliki (syiah) jadi PM (12/2005), berakibat organisasi militan Sunni Al Qaida di bawah Osama bin Laden mulai melakukan aksi terornya. Sampai akhir tahun 2006. Memaksa pemerintah Irak membeli senjata. Menurut laporan Asia Times, tahun 2008 Irak tercatat pembeli persenjataan Amerika bernilai lebih dari 12,5 miliar $AS dari total penjualan senjata Amerika 34 m $AS. Tidak termasuk pesawat tempur F-16.[4]

kondisi Irak setelah NIK ISIS

Irak hancur setelah NIK / ISIS

Kondisi Irak semakin buruk ketika Abu Bakr al-Baghdadi memproklamirkan perubahan gerakan militernya dari Daesh/ISIS menjadi Negara Islam Khalifa  (NIK)– mengklaim bukan hanya berkuasa di Irak dan Syria saja, tapi di seluruh dunia, melebihi para Khalifat abad-abad permulaan Islam. Abu Bakr adalah ulama lulusan S3 agama Islam dari Universitas Baghdad. Gelombang Arab Spring telah menjadikan NIK ratusan kali lebih hebat dan berbahaya bagi siapapun disbanding Al Qaida; hanya dalam kurang lebih dua tahun, militant Sunni NIK ini menguasai kota-kota penting dari selatan Irak sampai ke utara dan lanjut ke Raqqa dan Aleppo di barat Syria. Kunci kesuksesan NIK adalah akibat impian para Muslim Sunni di Irak dan Syria terbebas dari para pemimpin Muslim Syiah. Para raja dan presiden Sunni Timur Tengah terperanjat[5] ketika apa yang mereka dukung ternyata sekarang membasmi para Muslim Sunni yang tidak sepaham dengan ideologi para pendukung NIK. Segera Konferensi anti-NIK dibuat di Paris membuat strategi bagaimana menghabiskan gerakan Khalifat tersebut.[6] Negara Irak bebas dari AS namun jatuh ke tangan bangsa Iran. 1 Dinar Irak bernilai 3,2 $AS sebelum Perang Teluk (91), dan saat ini 1 $ AS bernilai 1170 Dinar Irak. Sementara perlu banyak uang untuk beli persenjataan dari Russia, “diperlukan 25 milyar $AS untuk kebutuhan air bagi 10 tahun pertama, 25 milyar $AS untuk semua program,” Menteri sumber air Irak berkata.[7] Mesjid-mesjid Shia Irak masih berlanjut menjadi target serangan bom militant Sunni saat ibadah Jumat, juga di Pakistan.

Kamp pengungsi orang Syria.jpg

Kamp Pengungsi Syria

Bagaimana dengan Negara Syria? Jauh lebih parah! Semua kota yang pernah dikuasai oleh pejuang NIK – adalah kota-kota besar dan penting) – telah menjadi puing-puing bangunan.

Awal 2017, Tentara Turki  juga telah masuk Syria, selain Iran dan Russia. Dan menjadi medan perang (perang misil) antara muslim Shia dukungan Iran dan Russia melawan berbagai organisasi Sunni militan, ditambah perang misil antara Iran dengan Israel. Laporan organisasi HAM: Pebuari 2016, korban jiwa mencapai 470.000 dan 117.000 tertangkap dan lenyap. 6,1 juta kehilangan rumah.[8] Situs  IAmSyria menyatakan jumlah korban lauh lebih besar.[9]

Apakah yang bangsa Indonesia kehendaki bagi negaranya? Khususnya kepada para Muslim yang bermimpi ingin merubah NKRI menjadi Negara Islam Kalifat (entah Sunni maupun Syiah), berpikirlah 100 kali lipat sebelum kalian melakukannya. Apakah kalian rela melihat Indonesia yang makmur dan relative sejahtera ini menjadi seperti ketiga negara tersebut, karena ambisi keagamaan kalian? Sejarah membuktikan berkali-kali bahwa fanatisme atas agama, tidaklah akan pernah menghasilkan kejayaan yang lenggang dan tidak akan pernah menghasilkan kedamaian di hati dan jiwa penganutnya, sebab fondasi dari fanatisme adalah kekerasan, pemaksaan dan berarti lenyapnya keadilan dan matinya kreativitas dan akal sehat, sebaliknya keterbelakangan dalam segala aspek kehidupan dan berakhir pada kehancuran.

Kepada setiap orang Indonesia yang tidak setuju dengan hadirnya gerakan NIK / ISIS dan faham-faham sejenisnya di Indonesia, saya menganjurkan untuk kita semua mengambil bagian kita menjaga dan memelihara NKRI dan Pancasila. Membantu dan bekerja sama dengan pemerintah dan badan keamanan negara. Sukses dan Merdeka serta damai bagi kita semua. Amin!!

Foodnotes:

  1.  Suicide rate in Iran increasing, especially among youth and women
  2. Suicide in Iran: The Facts and the Figures from Nationwide Reports
  3.  Ba’ath adalah partai politik Sunni Islam yang memiliki cabang di negara-negara Dataran Arab bahkan sampai ke Marokko dan Libanon.
  4. Asia Times, “Business as usual for US arms sales” (24/9/2008)
  5. Negara Islam Kalifat di mata raja-raja Arab (Negara-negara Arab)
  6. Para pemimpin Dunia menyusun stategi di Paris untuk memerangi Negara Islam Kalifah (NIK)
  7. Iraq Needs $25Bln at First Stage of Recovery After Daesh Defeat – Official
  8. Syria; Events of 2016 by Human Rights Watch
  9. Lebih dari 500.000 tewas; tahun 2018 saja sudah 3.812 jiwa tewas

Read the rest of this entry

Iklan

Persians speak out! Interviewing Persians At Iran Protest In Los Angeles

This is very interesting video, knowing what do the people of Iran, Persians, really think about and wish to have in Iran.

 

Mengapa Turki ditolak terlibat perang merebut balik Mosul dari Negara Islam Khalifat (NIK)?

lokasi-kota-mosul-di-irak-foto-bbc-diambil-dari-google-map

Peta Mosul, Kurdistan Irak

Perang merebut kembali kota Mosul, dimulai 17 Oktober 2016 adalah perang penting dan bernilai besar baik bagi orang Kurdi, Yazidi, Arab Irak, Turki, Iran serta suku-suku minoritas lainnya yang hidup di Kurdistan. Dan perang ini sangat bernilai besar khususnya bagi masyarakat Islam Timur Tengah dan Dunia Islam, baik Sunni maupun Syiah. Tambahan dari itu, perang ini penting bagi Amerika Serikat: ”Mengusir mereka [kelompok NIK] dari kota tersebut akanlah ada sebuah kemajuan strategi yang bernilai,” Josh Earnest, Jurubicara Gedung Putih berkata hari Senin (17/10). Mengapa begitu penting? Sebagai kota kedua terbesar di Irak, Mosul, yang terletak di Irak utara ini adalah kota strategis: jalur utama yang menghubungkan negara-negara di wilayah Kurdistan, sumber air minum (Sungai Tigris melewati tengah-tengah kota), dan sumber minyak bumi. Dalam kontek keagamaan dan budaya sosial dan politik, kota ini sangat bersejarah bagi penduduk Mesopotamia, kota ini bagian dari profinsi Ninive, wilayah yang terkenal di Alkitab Perjanjian Lama dalam kitab nabi Yunus, dan bahkan ditulis oleh Alkitab sebagai salah satu kota (saat itu) peradaban kuno yang dibangun oleh raja Nimrod dari Babilonia, sekitar 4.000 tahun sebelum Islam lahir. Sejak  kelompok NIK merebut kota Mosul dari penduduk aslinya (suku Kurdi Kristen dan Muslim serta suku Yazidis) pada 24 Juni 2014, Abu Bakar Al-Baghdadi, pemimpin utama NIK, segera menjadi kota Mosul sebagai ibukota NIK untuk wilayah Irak, Abu Bakr kemudian menproklamasikan dirinya sendiri sebagai Khalifat, pemimpin umat Islam penerus Muhammad, pendiri agama Islam. Jika Mosul berhasil direbut dari NIK, itu berarti garis keras Islam tumbang, jika tidak berhasil, maka Darul Islam akan berkembang ke seluruh dunia bahkan Barat dengan cepat seperti jamur di musim semi.

Tentara kualisi vs militan NIK di kota Mosul, Ninive Kurdistan

Tentara kualisi yang memerangi NIK di Mosul terdiri dari sekitar 30.000 personal: mereka terbagi dalam tiga kelompok besar: Pemerintah Irak (Syiah + Sunni), Kurdi Peshmerga dan pejuang-pejuang suku Islam Sunni. Sementara dari pihak NIK, diperkirakan ada 4.000 sampai 8.000 pejuang.

Seorang jendral dari Kurdi Peshmerga berkata kepada seorang wartawan, ”Kami memiliki musuh yang kuat. Mereka tidak hanya memerangi orang-orang Kurdi atau Syiah, mereka sedang bertempur melawan seluruh dunia. Kami ingin mengalah mereka demi setiap orang.”

”Merebut kembali Mosul akanlah ada sebuah langkah penting menuju mengalahkan Daesh [NIK] di Irak dan mengahkhir tyrainya atas populasi masyarakat di kota tersebut,” Priti Patel Seketaris Pengembangan Internasional Britania berkata.

orang-irak-membakar-bendara-turki-menentang-campur-tangan-perang-mosul

Demo menentang campur tangan Turki di Irak

Mengapa Turki sangat ingin terlibat dalam Perang Mosul Oktober 2016?

Kembali kepada Turki. Negara ini telah terlibat langsung dan tidak langsung dalam Perang Syria, yang sekarang telah memasuki tahun ke enam, mengapa pada Perang merebut kembali kota Mosul yang justru sangat penting ini anggota negara NATO ini dilarang terlibat?

President Turki Tayyip Erdogan, hari Saptu berkata bahwa pemerintah Irak tidak akan mampu menghadapi NIK seorang diri. Ini dikatakannya setelah Pemerintah Iraq berkata secara resmi, ”Saya tidak akan mengijinkan militer-militer Turki terlibat dalam operasi-operasi membebaskan Mosul dalam segala cara yang mungkin.”

Erdogan juga berkata, ”Kami tidak akan membiarkan Mosul diberikan kepada Daesh atau organisasi terrorist  apa pun.”

”Tidak seorang pun membicarakan komplek militer Bashiqa kami. Kami akan tetap di sana. Bashiqa adalah jaminan kami menentang segala aktivitas-aktivitas terrorist di Turki,” Erdogan berkata. Bashiqa tidak jauh dari Mosul.

”Turki takut bahwa para militan Syiah, yang mana tentara Irak telah bergantung pada masa lalu, akan terlibat di dalam perang tersebut.” Reuters menulis,

Pasukan kualisi merebut Mosul tetap menolak campur tangan Erdogan

Di kota Basra, Irak, orang-orang Irak membakar gambar dari president Turki Tayyip Erdogan pada hari Minggu sebagai tanda protes mereka terhadap keinginan besar Erdogan untuk ”membantu” pemerintah Irak memerangi NIK.

Enam tahun perang di Syria dan lebih dari dua tahun penjajahan NIK atas beberapa kota penting di Irak telah membuat orang Irak (baik kelompok Syiah maupun Sunni) berkesimpulan bahwa pemerintah Turkilah yang ada di belakang kelompok NIK.

orang-irak-membakar-foto-president-erdogan

demo anti-president Erdogan di Irak

Dan bagi kelompok-kelompok pejuang Kurdi, baik yang berperang melawan NIK di Irak dan Syria, kelompok ”terrorist” yang Erdogan perangi adalah bukan Daesh (NIK) tetapi pejuang Kurdi. Pada peristiwa Perang Kobani, kota suku Kurdi di Syria yang terletak tidak jauh dari perbatasan dengan Turki, masyarakat Kurdi jelas sekali melihat Erdogan membela Daesh, hal ini pun juga jelas di media internasional. Media Russia mengejek president Erdogan setelah president Putin menuduh Erdogan beli minyak mentah dari NIK, dan ia berjanji akan mengundurkan diri jika Putin bisa membuktikan tuduhannya tersebut; dan Putin kemudian membeberkan beberapa fakta.

Gedung Putih kali ini juga tidak berdiri di belakang Turki, rekan NATO dan AS, untuk perang di Syria menentang president Assad. AS menyatakan setiap kekuatan-kekuatan asing di Iraq haruslah memiliki ijin dari Baghdad.

Erdogan menuduh Eropa dan AS berada di balik kuduta militer di negraranya awal Agustus 2016. Kudeta tersebut gagal, Erdogan menangkap lebih puluhan ribu orang Turki (para tentara dan beberapa jendral serta usahawan). Beberapa tentara mencari suaka politik ke negara lain.

Bacaan berkait:

Read the rest of this entry

“Harap ceritakan kepada dunia apa yang telah terjadi,” Yazidi asal Sinjar memohon

Orang yang mengabaikan hukum memuji orang fasik, tetapi orang yang berpegang pada hukum menentangnya.Orang yang jahat tidak mengerti keadilan, tetapi orang yang mencari YAHWEH mengerti segala sesuatu. (Amsal 28:4-5)

Kurdistan, Irak. 30 September 2016

nezar-samuel-yazidish-of-sinjar-kurdistan-iraq

Nezar Samuel – Foto Keluarga

Kami pertama kali bertemu Nezar Samuel pada bulan Januari di reruntuhan kota Sinjar. Dia adalah seorang Yezidi yang isterinya dan dua anak kecil mereka ditangkap dua tahun yang lalu oleh NIK (Negara Islam Khalifah). Pada saat yang sama ibu, ayah, saudara perempuan, saudara-saudara laki, paman dan bibinya telah dieksekusi oleh NIK dan tulang-tulang mereka di kuburkan di perkuburan massal di luar Sinjar. (Video: Not Alone – White Monkey in Kurdistan). Suku Yezidi telah sengaja dipilih untuk dibunuh, diperkosa dan diperbudak oleh NIK.

Kisah Nezar adalah satu dari ribuan tragedi yang hidup di sini.

Foto pernikahan Nezar, semua telah dibunuh oleh NIK, kecuali istrinya bersama dua anaknya di tahan oleh NIK sampai saat ini berita ditulis.

Kami bertemu dengannya lagi pada misi ini dan dia menunjukkan foto pernikahannya kepada kami. Bernama dia, istrinya, ayah, ibunya dan keluarga.

“Meninggal, meninggal, meninggal, meninggal,” ia berkata sementara ia menunjuk ke setiap pribadi di dalam foto tersebut. Dari semua orang di foto ini, hanya istrinya beserta dua anak mereka yang tetap hidup dan sekarang ditahan oleh NIK.

Saya katakan kepadanya, “Kamu adalah saudaraku dan saya mengasihimu. Kami akan melakukan yang terbaik untuk menceritakan kisah mu dan berdoa dan melakukan semua yang kami bisa untuk menyelamatkan istrimu.”

Saya kemudian berdoa tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya, apa yang untuk diserahkan. Aku berkata, “Saya akan bersamamu dalam hal ini sampai istri dan dua anak dibebaskan. Kamu istimewa bagi saya dan saya ada bersamamu. Keluargaku, tim kami dan saya berdoa bersamamu kepada Elohim untuk pembebasan mereka dan saya akan meminta semua orang yang saya bisa untuk membantu.”

Kami kemudian nezar-samuel-at-mass-grave-where-many-of-his-family-were-killedmemutuskan untuk pergi ke kuburan massal yang mana keluarganya tewas. Nezar membawa kami sepanjang garis depan ke lokasi. Itu adalah sebuah dataran dangkal, luasnya sekitar 150 cm kali 75 cm, terletak di sebelah sebuah sekolah yang hancur. 1,5 Km jauhnya adalah garis depan NIK. Di sinilah kuburan masal dari lebih 70 orang laki-laki, perempuan dan anak-anak telah ditembak dan dipukul sampai mati oleh NIK dan dimakamkan di sini. Tengkorak, rambut, tulang, dan potongan-potongan pakaian yang berserakan dan tulang keluar dari tanah. Beberapa dari tengkorak kecil, milik anak-anak kecil,  gigi mereka terpukul dengan keras.

Berdoa dengan Nezar di kuburan massal dimana terdapat tulang-tulang dan rambut perempuan dan anak-anak dibunuh oleh NIK.

Nezar berdiri melihat tulang-tulang dari kuburan massal tanpa bersuara. Kemudian dadanya bergetar dan ia meletakkan kedua tangannya ke wajahnya dan mulai nangis tersedu-sedu. Ia menangis dan bergetar dan terduduk ke tanah. Setelah beberapa saat ia berdiri kembali dan saya menghampirinya merangkul dia dengan kedua lenganku, memeluk dia erat-erat. Dia memegang tanganku dengan eratnya.

Saya berdoa dan mengatakan kepadanya bahwa saya sangat turut beduka sementara air mata mengalir keluar dari mataku. Ia mengangkat kepalanya dan mulai berseru kepada keluarganya. Melalui tangisannya ia memanggil mereka dan berbicara kepada mereka.

Nezar Samuel di kuburan massal dimana banyak keluarganya telah tewas

Saya tetap memegang dia dan berdoa. Kemudian dia memandangku, mengangguk dan

nazar-samuel-got-support-from-dave-of-the-fbr

Dave menghibur Nezar

berkata, “Terima kasih, terima kasih. Tolong beritahu dunia atas apa yang telah terjadi. Itu tidaklah hanya keluarga saya yang telah terbunuh dan tertangkap, ada ribuan lebih. Tolonglah bertindak tepat waktu untuk menyelamatkan tawanan yang masih hidup. Saya telah ketahui bahwa istri saya dan dua anak masih hidup ditahan di sebuah lantai bawah tanah bersama orang lainnya oleh NIK di Syria. Saya tidak datang ke sini untuk menangis hari ini. Saya telah menangis selama dua tahun dan itu tidak membuat sesuatu berbeda. Tetapi saat saya menangis bersamamu hari ini, saya telah merasa lebih baik.”

Pembaca yang terkasih, berdoalah bersama kami sementara kami mencoba berbagai cara yang kami bisa untuk membebaskan keluarga Nezar dan orang-orang Yazidi lainnya yang terpenjara.

Terima kasih dan Elohim memberkati kalian,

Dave, keluarga dan Free Burma Rangers di Kurdistan

The story in English clike here

Read the rest of this entry

“Please tell the world what happened,” a Yazidish of Sinjar’s plea

They that forsake the law praise the wicked: but such as keep the law contend with them. Evil men understand not judgment: but they that seek YAHWEH understand all [things]. (Proverbs 28:4-5)

Kurdistan, Iraq. 30 September, 2016

nezar-samuel-yazidish-of-sinjar-kurdistan-iraq

Nezar Samuel – the family photo

We first met Nezar Samuel in January in the ruins of Sinjar City. He is a Yezidi whose wife and two small children were captured two years ago by ISIS. At the same time his mother, father, sister, brothers, uncles, and aunts had been executed by ISIS and their bones were in a mass grave out side of Sinjar. (Video: Not Alone – White Monkey in Kurdistan) The Yezidi have been especially singled out for murder, rape and enslavement by ISIS. Nezar’s story is a tragedy thousands here are living.

Nezar’s wedding photo, all killed by ISiS except his wife who along with his children are held by ISIS

We met him again on this mission and he showed us his wedding picture, with him, his wife, his father, mother and extended family. “Dead, dead, dead, dead,” he said as he pointed to each person in the photo. Of all in the photo, only his wife is alive and is now a captive of ISIS with their two children.

nezar-samuel-at-mass-grave-where-many-of-his-family-were-killedI told him, “You are my brother and I love you. We will do our best to tell your story and pray and do all we can to rescue your wife.” I then prayed about what to do next, what to commit to. I said, “I will be with you in this until your wife and two children are set free. You are special to me and I am with you. My family, our team and I am praying with you to God for their freedom and I will ask all I can to help.” We decided then to go to the mass grave where his family was killed. Nezar led us along the front line to the site. It was a shallow depression in the ground, about 60’ by 30’, and was located next to a destroyed school. A mile away were the ISIS front lines. Here in the mass grave over 70 men, women and children had been shot and beat to death by ISIS and buried here. Skulls, hair, bones and scraps of clothes were scattered about and bones protruded from the earth. Some of the small skulls, belonging to children, had their teeth bashed in.

Praying with Nezar at the mass grave Bones and hair of women and children killed by ISIS

Nezar stood silently looking at the bones of the mass grave. Then a shudder rose through his chest and he put his hands to his face and began to sob. He cried and shook and sank to the ground. After a while he stood back up and I went to nazar-samuel-got-support-from-dave-of-the-fbrhim and put my arms around him, holding him closely. He took my hand and held it tightly. I prayed and told him I was so sorry as tears came to my eyes. He raised his head and began to call out to his family. Through his sobs he called to them and talked to them.

Nezar Samuel at mass grave where many of his family were killed

I kept holding him and praying. Then he looked at me, nodded and said, “Thank you, thank you. Please tell the world what happened. It is not just my family who have been killed and captured, there are thousands more. Please act in time to save the living captives. I found out my own wife and two children are still alive and being held in the basement of a building along with others by ISIS in Syria. I did not come here to cry today. I have been crying for two years already and it has not made anything different. But as I cried with you today, I felt better.”

Dear reader, please pray with us as we try every way we can to set Nezar’s family and other Yezidi captives free.

Thank you and God bless you,
Dave, family and Free Burma Rangers in Kurdistan

Dalam bahasa Indonesia lihat di sini

Read the rest of this entry