Arsip Blog

Pro dan kontra “Ceramah Sukmawati 11 Oktober” dianggap menodai agama Islam

Orang yang tak berpengalaman percaya kepada setiap perkataan, tetapi orang yang bijak memperhatikan langkahnya.  (Amsal Salomo 14:15)

Media YouTube dipenuhi dengan lebih dari seratus video berisi kemarahan para pemuka dan simpatisan Islam yang disertai dengan komentar-komentar yang sangat pedas. Judul yang umum dipakai adalah kira-kira berbunyi: “Sukmawati membandingkan Al-Quran dengan Pancasila, Nabi Muhammad dengan Ir. Soekarno.”

Saya juga terkejut ketika melihat video tersebut, kemudian melihat ke kolom komentar, dan saya berkomentar dalam hati, “Tidak heran umat Islam marah besar!” dan berpikir “Mengapa ibu Sukmawati mencari gara-gara lagi? Bukankah kita baru saja memulai periode pemerintahan yang baru?”

Bacaan berkait:

Ingin sekali saya mengkomentari ceramah ibu Sukmawati yang saya anggap “kurang pantas baik waktu maupun tempat, apalagi isinya;” namun tiba-tiba saya teringat ayat Firman Tuhan:

Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.  (Yakobus 1:19-20).

Teringat juga perkataan anak laki-laki saya, dimana guru sekolah SMAnya menasehati para murid: ”Janganlah kamu percaya begitu saja apa yang kamu lihat di internet dan TV!”

Maka segera saya cari melalui mesin pencari Google dan di YouTube ”ceramah lengkap Sukmawati membandingkan nabi Muhammad dengan Ir. Soekarno.”

Yes, I got it!, saya berkata kegirangan. Tuan rumah Kompas mewawancarai langsung ibu Sukma. Namun sedih benar, video klaim ibu Sukma “saya merasa sangat dirugikan oleh media online yang mempunyai pemikiran usil, tangan-tangan jail untuk merubah kata-kata saya dan juga mengedit kata-kata saya,” ternyata selesai saat pemandu acara mau membuktikan klaim ibu ini melalui menayangkan isi ceramah tersebut.

Klarifikasi Sukmawati Soekarnoputri: Video Itu Diedit Tangan-Tangan Jahil

Klaim ibu Sukma ini menarik perhatian saya, maka saya cari lagi dan ketemu. Ternyata ceramanya berdurasi lebih dari 20 menit! Bukan 2 menit seperti nampak ada di banyak video. Dari video itu nampak ceramahnya berkaitan erat dengan Hari Pahlawan 10 Oktober; ceramah diadakan pada tanggal 11 yang dihadiri oleh mayoritas mahasiwa. Thema acara tersebut tertulis besar-besar di dinding panggung:

BANGKITKAN NASIONALISME;
BERSAMA KITA TANGKAL RADIKALISMSE
DAN MEMERANGI TERORISME

Lihat di bawah ini, tidak asli dari panitia penyelenggara, namun setidaknya cukup lengkap

Sukmawati: Soekarno Lebih Berjasa dari Nabi Muhammad SAW

Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada Hari Penghakiman,” Yeshua Ha Mashiah (Matius 12:36)*

Dan tanggal 21 November, TVOne menghadirkan 4 pembicara di acara DUA SISI; Damai Hari Lubis (Pelapor Kasus Sukmawati) dan Nasir Djamil (Anggota DPR RI F-PKS) dan sisi lawannya yakni yang menolak bahwa ceramah tersebut sebagai penistaan kepada Islam, khususnya nabi Muhammad, yaitu Ibnu Prakoso (Sekjen PNI Marhaenisme) dan Petrus Selestinus (Kuasa Hukum Sukmawati)

Apakah Sukmawati Menodai Agama? Begini Penjelasan Sekjen PNI Marhaenisme vs Pelapor Kasus..

Setelah kita menyaksikan ketiga video ini, apa pendapat kalian tentang ceremah ibu Sukmawati pada acara Peringatan Hari Pahlawan tersebut: apakah ceramah tersebut terbukti menghina agama Islam dan nabinya, atau tepat sejalan dengan thema acara tersebut? Beri komentar kalian. Terima kasih!

*) Kata sia-sia (idle word) artinya perkataan yang lahir dari kurangnya rasa menahan diri atau tidak ada tanggung jawab alias ceroboh.

Pembaca bebas memakai artikel TheCamelSpeaksOut.wordpress.com sejauh tidak merubah tulisan aslinya dan menyertakan link situsnya. Hargailah karya cipta orang lain.
Terima kasih, The Camel Speaks Out / Unta Angkat Bicara

Dilemma Muslim di Indonesia

… Dan terjadilah perpecahan di antara mereka (Injil Yohanes 9:16)

Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim (orang Islam) terbesar di dunia telah lama menjadi sorotan banyak negara. Kehidupan umat Islamnya yang umumnya relatif toleran terhadap umat beragama lainnya dan ramah terhadap orang asing telah sering dipakai oleh banyak Muslim di barbagai jenis forum internasional untuk menyatakan bahwa “Islam adalah agama damai, lihat saja pada negara Indonesia!” Namun kita sebagai orang Indonesia, apalagi yang tinggal di Indonesia, kita tahu persis kondisi dapur rumah kita.

Di Indonesia, kita bisa temukan banyak pemuka Islam yang sangat vokal dalam menyuarakan iman mereka; mereka menyerang siap saja yang tidak seiman dengan keyakinan mereka, melabelkannya sebagai ‘orang kafir.’ Mereka bahkan tidak segan-segan menuduh orang Islam lainnya yang tidak sependapat sebagai musuh Islam dan menolak jenazahnya disembayangi di masjid-mesjid mereka. Baca: Difinisi KAFIR dalam Kitab Suci

Spanduk Mesjid tidak mensholatkan jenazah Muslim yang toleran pada agama lain

Spanduk di Mesjid anti Muslim moderat

Di sisi lainnya, kita temukan, memang tidak banyak, adanya Muslim Indonesia yang secara terang-terangan berani mengeritik para ‘Muslim radikal’ atau ‘Muslim fanatik’ tersebut sebagai para ‘perusak agama Islam.’

Muslim di Indonesia sedang berada dalam dilemma yang sangat besar, jika dua-tiga decade lalu, wadah medan pertempurannya hanyalah di masjid-mesjid, sekarang dimasa teknologi internet, wadahnya adalah di segala bentuk media sosial, yang hanya dalam satu minggu bisa dibaca dan ditonton oleh setengah juta orang.

Perang Dakwah Islam antar sesama Muslim Indonesia
Rizieq, ketua FPI yang juga bergelar “imam besar Islam” dan Uztad Abdul Somad adalah contoh dua tokoh Islam yang vocal dan radikal, keduanya dikeritik secara tegas oleh Dani Siregar, Ade Armando (Dosen UI) dan Eko Kuntadhi dan Radjab Sahda Nasution; keempat orang ini adalah juga Muslim.

Kritik mereka pada tokoh-tokoh Islam radikal dan pemimpin politik Muslim yang memakai agama Islam bisa dilihat pada YouTube di bawah ini beberapa contoh:

Dani Siregar:

  • BIDADARI BONGA-BONGA DI SURGA I TIMELINE (15/11/2019). Membahas Hadis

Ade Armando:

 Radjab Sahda Nasution:

Eko Kuntadhi:

Baru-baru ini Lalu Agus Firad Wirawan, seorang Muslim suku Sasak yang hidup di Bali, mengeritik dengan keras seorang Muslim setingkat menteri, yaitu Wishnuutama Kusubandio. Oleh sebab menteri ini berniat merubah Toba dan Bali menjadi ‘Ramah bagi wisatawan Muslim,’ dengan cara menyingkirkan hal-hal yang tergolong tidak halal dalam ajaran Islam. Ini surat kritik terbuka Lalu Agus.

Lalu Agus tidak berhenti di situ. Ia kemudian menulis surat terbuka lainnya di media sosial, mengalamatkannya kepada bapak Presiden Jokowi, berkaitan dengan diskriminasi pemerintah daerah Pulau Lombak kepada warga Hindu dalam hal ijin beribadah (15/2019); berjudul Jangan Memalukan Agamamu. Sedikit cuplikannya:

Saya malu pak! Seumur-umur saya hidup di Bali, di tengah lingkungan Hindu, saya tidak pernah sedetikpun diperlakukan tak baik oleh mereka! Waktu SMA di Buleleng, makan tidur dan pendidikan pun saya dibantu oleh saudara-saudara saya yang Hindu, bahkan makanan halal dan tempat ibadah saya pun disediakan khusus oleh mereka!

Lalu apa alasan kita, ummat yang kebetulan saja mayoritas di Lombok ini melarang ummat Hindu membangun tempat ibadatnya? Istigfar kawan! Nabi Muhammad tak perah sekalipun menganjurkan kalian untuk melarang ummat lain beribadah!

Bibit radikalisme yang kemudian berkembang jadi terorisme sesungguhnya berawal dari sikap-sikap intoleran yang muncul dari mulut-mulut para durjana yang menyamar jadi tokoh agama! Bangsa ini sudah terlalu banyak dilukai oleh kelompok penyundal ajaran Tuhan ini!

Itulah dilemma orang Islam di Indonesia! Kelompok yang radikal ingin menerapkan Hukum Islam secara lengkap kepada semua kelompok minoritas, bahkan bila perlu menjadikan Indonesia bagian dari Negara Kalifah, sementara kelompok Muslim lainnya menolak keras, saudara Firad Wirawan membela Islam dengan berkata, “Nabi Muhammad tak pernah sekalipun menganjurkan kalian untuk melarang ummat lain beribadah!” lalu ia berkata, “Bangsa ini sudah terlalu banyak dilukai oleh kelompok penyundal ajaran Tuhan ini!”

Kelompok Muslim yang manakah dari kedua kelompok di atas yang benar dalam menginterpretasikan kitab-kitab suci agama Islam? Dan kelompok mana yang salah? Pertanyaan sejenis ini sering muncul pada banyak orang, bahkan juga pada kalangan Muslim sendiri.
Dilemma ini juga terjadi antara Presiden Turki Recep T. Erdogan dengan Pangeran Arab Saudi, Mohammed bin Salman. Oktober 2017, Mohammed bin Salman berbicara pada Future Investment Initiative di Riyadh [1] ia bersumpah untuk menghancurkan “ideologi-idelogi extremist” dan kembali ke “sebuah Islam yang moderat.” Erdogan dihadapan para pendengarnya, wanita Turki, mengeritik Pangeran Saudi tersebut, “Islam tidak dapat ada ‘moderat’ maupun ‘bukan moderat.’” Ia berkata, konsep moderat Islam, patentnya berasal di Barat,” dan “Mereka (Parlemen Eropa) sekarang mencoba memompakan ide ini kembali. Apa yang mereka sungguh ingin lakukan adalah melemahkan Islam … Kami tidak ingin masyarakat belajar tentang agama dari fakta-fakta asing,” Presiden Turki ini menandaskan.[2]

Dilemma Muslim ini, menurut Al-Fadi, orang Arab Saudi, mantan Muslim, ternyata bersumber dari Kuran itu sendiri

Dilemma Muslim ini, menurut Al-Fadi, orang Arab Saudi, mantan Muslim, ternyata bersumber dari Kuran itu sendiri, yakni adanya dua pewahyuan Kuran yang berbeda sama sekali, yaitu, saat Muhammad masih berada di Mekkah (toleransi), dan kemudian saat hijrah ke Meddinah (radikal dan jihad).[3] Al-Fadi adalah tuan rumah dari acara Islamic Dilemma, dan pemimpin editor dari bukuThe Quran Dilemma. Baca: Kesaksian Fadil Mulya, Penelitian Kuran membawa imannya kepada Yeshua Ha Mashiah

Yeshua Ha Mashiah memberi jalan keluar dari dilemma ini

Aku adalah terang dunia. Siapa yang mengikut kepada-Ku, ia sekali-kali tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan akan mempunyai terang kehidupan (the light of life)” (Injil Yohanes 8:12)

Referensi:

  1. Saudi crown prince promises ‘a more moderate Islam’
  2. Erdoğan criticizes Saudi Crown Prince’s ‘moderate Islam’ pledge
  3. Ex-Muslim Speaks Out about ‘The Koran Dilemma’ – CBN.com; YouTube

Read the rest of this entry

Melarang Ormas Terlarang Hizbut Tahrir Indonesia (Mata Najwa)

Kebencian menimbulkan pertengkaran, tetapi kasih menutupi segala pelanggaran. Di bibir orang berpengertian terdapat hikmat, tetapi pentung tersedia bagi punggung orang yang tidak berakal budi. Orang bijak menyimpan pengetahuan,tetapi mulut orang bodoh adalah kebinasaan yang mengancam. (Amsal 10:12-14)

Kebencian menimbulkan pertengkaran, tetapi kasih menutupi segala pelanggaran. Di bibir orang berpengertian terdapat hikmat, tetapi pentung tersedia bagi punggung orang yang tidak berakal budi. Orang bijak menyimpan pengetahuan, tetapi mulut orang bodoh adalah kebinasaan yang mengancam. (Amsal 10:12-14)

Hizbut Tahrir Indonesia organisasi Islam terlarang di IndonesiaDiskusi seru antara pihak HTI, organisasi Islam yang telah dilarang pemerintah Indonesia (sebelumnya HT sudah dilarang di 17 negara), yang ingin mendirikan Negara Islam Khilafah / Khalifah di Tanah Air Indonesia dan pihak lawannya, yaitu Pemerintah RI dan dua organisasi Islam Nahdlatul Ulama dan Partai Persatuan Pembangunan. Menurut Ninoy N. Kerundeng, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan HTI sama dengan Ikhwanul Muslimin (IM; the Muslim Brotherhood) yang perpusat di Mesir, yang semuanya memiliki tujuan akhir mendirikan Negara Islam Khilafah / Khalifah. Baca: Krisis Mesir: Persamaan PKS, HTI, dan Ikhwanul Muslimin.

”Hizbut Tahrir hadir di Indonesia (1983) dan resmi dilarang di Indonesia, dalihnya bertentangan dengan dasar negara. Upaya hukum sudah dilakukan, pengadilan tingkat pertama telah memutuskan. Sebenarnya ini bukan keputusan yang langka, sejumlah negara sudah lebih dulu melarangnya. Dari Turki hingga Tunisia, dari Malaysia sampai Saudi Arabia,” Mata Najwa tuan rumah acara berkata.

Mata Najwa menghadirkan 3 orang HTI dan 3 lawannya.

Orang HTI (di kiri pemirsa)

  • Ismail Yusanto; Ketua HTI dan sekaligus Juru Bicara HTI
  • Yusril Ihza Mahendra; Kuasa hukum HTI sekaligus Ketua Umum PBB
  • Haris Azhar; Direktur Eksekutif Lokataru

Lawan HTI (di kanan pemirsa)

  • Achmad Budi Prayoga; Kuasa Hukum Pemerintah RI
  • Alfa Inaeni; Komandan Banser Nasional dari NU
  • Muhammad Romahurmuziy; Ketua Umum PPP

Part 1 – Melarang Ormas Terlarang: HTI Dibubarkan: Bela Pancasila VS Kezaliman

Part 2 –  Melarang Ormas Terlarang:  Kontroversi Gebuk Ormas

Part 3 – Melarang Ormas Terlarang: Perppu Ormas Jadi Aturan Palu Gada?

Part 4 – Melarang Ormas Terlarang: Membedah HTI

Part 5 – Melarang Ormas Terlarang: Doktrin-Doktrin HTI

Part 6 – MelarangOrmas Terlarang: Kontroversi Dakwah HTI

Part 7 – Melarang Ormas Terlarang: HTI Masuk Parpol 

Bacaan berkait:

Pembaca bebas memakai artikel TheCamelSpeaksOut.wordpress.com sejauh tidak merubah tulisan aslinya dan menyertakan link situsnya. Hargailah karya cipta orang lain. Terimakasih, The Camel Speaks Out / Unta Angkat Bicara

Kementerian Agama menyegarkan aturan Penggunaan TOA di Mesjid dan Musholla di Indonesia

And just as you want men to do to you, you also do to them likewise.
Dan sebagaimana kamu menghendaki supaya orang berbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka – The Golden Rule of Adonai Yeshua

Logo 5 Tuntuan Pemakaian TOA di Mesjid & MushollahBerkaitan dengan kasus penganiayaan dan pemenjaraan seorang ibu di Sumatra Utara yang mengeluhkan kerasnya suara sembayang yang keluar dari Pengeras Suara (dikenal sebagai TOA; merek dagang) sebuah Mesjid Kementerian Agama baru-baru ini mengeluarkan Surat Edaran untuk menyegarkan kembali surat keputusan Direktorat Jendral Bimas Islam tentang Tuntunan Penggunaan Pengeras Suara di Masjid, Langgar dan Mushalla di seluruh Indonesia.

Surat Edaran Kementerian Agama bernomor: B.3940/DJ.III/Hk.00.7/08/2018, seperti nampak di bawah, ditanda tangani oleh Muhammadiyah Amin, tertanggal 24 Agustus 2018 atau 12 Dzulhijjah 1439, bersifat pemberitahuan bahwa Instruksi Dirjen Bimas Islam Nomor: KEP/D/101/1978 yang mengatur “Penggunaan Pengeras Suara di Masjid, Langgar dan Mushalla” tetap masih berlaku. Dan beliau atas nama Kementerian Agama meminta semua masyarakat Indonesia “Menyebarluaskan Instruksi dimaksud melalui media sosial seperti WhatApp group” dan lain-lainnya “dengan cara yang santun.”

Jika kita baca isi dari Intruksi Dirjen Bimas Islam 1978 maka jelas itu adalah suatu bimbingan yang bagus bagi masyarakat Muslim di Indonesia, membawa keuntungan bukan hanya bagi bukan-Muslim tapi juga umat Islam sendiri; Win-Win (kedua pihak untung).

5 Tuntunan Dasar Penggunaan Pengeras Suara di Mesjid dan Musholla

Keuntungan bagi Umat Islam sendiri di antarnya:

  • Umat Islam semakin mentaati ajaran yang tertulis dalam Kuran maupun Hadits Nabi Muhammad,
  • Masyarakat bukan-Muslim semakin mencintai/ menghargai agama Islam dan memahami keagungan Allah SWT
  • Pemasangan dan pengaturan volume suara Pengeras Suara di dalam dan di luar gedung ibadah membuat para Muslim yang sedang beribadah dan yang beristirahat di rumah tidak merasa terganggu

Dan keuntungan bagi masyarkat di luar Islam dan orang asing yang hidup di Indonesia, dikatakan diantaranya:

  • Sedikitnya tidak mengganggu orang yang sedang istirahat atau tidur berkait jam dan kegiatan kerja mereka yang berbeda waktu; hal ini khususnya di kota-kota besar
  • Adanya rasa nyaman hidup di lingkungan umat-Islam

Isi lengkap dari surat Kementerian Agama 2018 dan Pelaksanaan Instruksi Dirjen Bimas Islam Nomor: KEP/D/101/1978 tentang Tuntunan Penggunaan Pengeras Suara di Masjid, Langgar dan Mushalla, bisa dilihat pada link ini (pdf)‎. Ayat di atas diambil dari Injil Lukas 6:31

Hormat yang keluar dari rasa takut, bukanlah hormat yang sejati,
Hormat yang sejati selalu keluar dari hati nurani yang bebas dan jiwa yang dicerahkan – Unta Angkat Bicara

Read the rest of this entry

Para Muslim Indonesia, JANGAN mengulangi kesalahan bangsa Iran, Irak dan Syria; hentikan ISIS/NIK!

Janganlah menempuh jalan orang fasik, dan janganlah mengikuti jalan orang jahat. Jauhilah jalan itu, janganlah melaluinya, menyimpanglah dari padanya dan jalanlah terus. Karena mereka tidak dapat tidur, bila tidak berbuat jahat; kantuk mereka lenyap, bila mereka tidak membuat orang tersandung; karena mereka makan roti kefasikan, dan minum anggur kelaliman. (Amsal Salomo 4:14-17)

Polisi menunjukkan barang bukti bom rakitan buatan teroris di Jawa

Barang bukti bom rakitan NIK / ISIS

Roh jihad ISIS sedang memasuki bumi Indonesia, setiap orang Indonesia sadar akan hal ini, entah mereka pro maupun kontra. ISIS, atau Daesh orang Arab menyebutnya) sangat aktif membangun Negara Islam (NI)  mengulangi kejayaan Dunia Islam Khalifah. Mengapa aku menghubungkan NI Sunni ini dengan NI Syiah Iran, ya sebab mereka memiliki ambisi politik yang sama sekalipun beda dalam doktrin. Praktek agama adalah masalah pribadi kita dengan Tuhan, Pencipta kita, namun politik berjubah agama adalah kendali pemuka agama atas seluruh kehidupan pribadi manusia. Aku mau membawamu melihat pada tiga negara Islam pada periode 40 tahun kebelakang dari saat ini; negara-negara yang umumnya makmur menjadi miskin dan hilang masa depannya.

Bacaan  berkait:

TRAND MUSLIM ABAD 21, belum pernah terjadi sebelumnya!

Iran di bawah Ayatollah Khomeini. Reza Pahlavi menjadi raja/shah sejak Desember 1925 sampai Inggris dan Uni Soviet menduduki Iran 1941. Putranya Mohammad Reza menjadi raja (16/9/1941 – 11/2/1979). Konflik ulama di bawah pimpinan Sayyid Ruhuollah Musavi Khomeini (dikenal di dunia sebagai Ayatollah Khomeini) melawan raja mulai terjadi. 1962-63, Shah Pahlavi mengeluarkan undang-undang megijinkan untuk wanita boleh ikut memberi suara dalam pemilu untuk pertama kalinya dan bukan Muslim boleh bekerja di parlemen-parlemen. Khomeini menolak keputusan raja; tumpah darah terjadi dan ia dipenjarakan. Ulama ini dibebaskan di awal 1965, dan pindah ke Irak, mengendalikan para pengikutnya untuk tetap menentang raja. Sepanjang 1978 terjadi bentrokan fisik dari dua kubu ini. 22 Januari 79 keluarga kerajaan terpaksa meninggalkan Iran.

Ayatollah Khomeini kembali ke Iran 1 Pebruari 79 – dirayakan sebagai hari Revolusi Islam Iran. Mayoritas Muslim Iran sangat gembira pulangnya ulama mereka dan berpikir bahwa impian terbentuknya Negara Islam Iran yang mereka impikan sudah diambang pintu. 12 Pebuari para dewan Revolusi Islam langsung berkuasa. 4 Maret, Kedutaan Amerika Serikat diduduki secara paksa. Republik Negara Islam Iran (RNII) terbentuk 1 April melalui 98,2 % suara mendukung.

100.000 wanita Iran protes hukum tutup kepala 8 Mei 1979

100.000 wanita Iran berdemo anti kerudung (foto: Hengameh Golestan)

Para Muslim membunuh semua teman dan pendukung Shah, merskipun mereka juga Muslim. 7 Mei, 79, NI Iran ini mengumumkan hukum baru: semua wanita harus memakai kerudung kepala bila berada di luar rumah. Para wanita Muslim Iran terbangun dari tidurnya, besoknya 100.000 (seratus ribu) wanita turun ke jalan memprotes, ”Itu bukanlah sebuah protes melawan agama Islam atau keimanan, terbukti dengan banyaknya para wanita beragama (pendukung Revolusi Islam) bergabung pada protes tersebut, ini benar-benar tentang hak-hak wanita, semuanya hanyalah tentang memiliki pendapat.” Hengameh Golestan berkata. Ia hadir pada demo wanita bersejarah tersebut sebagai seorang juruphoto berusia 18 tahun saat itu.

Pertengahan 1980, Islamisasi mencengkram pendidikan dan militer; dua puluh ribu guru dan delapan ribu (8.000) tantara dipecat. September 80, perang Iran-Irak meletus; berlangsung selama 8 tahun. Para remaja Iran dikorbankan sebagai pembersih ranjau-ranjau perbatasan negara yang dipasang Saddam. Total lebih dari 100.000 (seratus ribu) rakyat jelata tewas. Iran banjir darah oleh tangan bangsanya sendiri. Hanya dalam dua tahun penuh Iran yang penuh warna telah menjadi hitam. Tragis. Laporan akhir 2017: “Rakyat Iran menghadapi kemiskinan, penekanan, diskriminasi dan perbedaan, berakibat tingkat bunuh diri di antara wanita naik 66% lima tahun belakangan, dan 71% untuk pria priode yang sama. Pada provinsi tertentu masalah ini dinyatakan sebagai epidemi.”[1] Dibanding 1991, bunuh diri naik 31 kali di tahun 2003. Iran telah menempati tingkat bunuh diri tertinggi di antara Wilayah Mediterranian Timur.[2] Saat ini Iran sudah tercebur dalam lumpur perang, tidak bisa keluar lagi. Sekarang Iran menggantungkan dirinya dari dua negara Komunis: Russia dan Republik Rakyat Cina untuk membeli kebutuhan alat perang dan kehidupan.

Irak dan Syria di bawah Negara Islam Khalifah (nama baru ISIS). Mayoritas penduduk Irak adalah Muslim Shia, namun presidennya Sunni. Sebaliknya di Syria mayoritas Sunni tapi presidennya Shia. Ini tidak ada masalah besar, hingga sampai masalah agama dicuatkan ke atas oleh para pemimpin agama masing-masing.

Meskipun Saddam Hussein jauh dari sempurna, mayoritas orang Irak sekarang mengakui bahwa kehidupan mereka jauh lebih baik semasa ia masih memerintah (1979-2003) di bawah Partai politik Ba’ath (Kebangkitan) – campuran faham sosialis Arab dan nasionalis Arab (1966-2003).[3] Jatuhnya pemerintahan Saddam ditandai dari tumbangnya patung dirinya di Bangdad (9/4/03), pada tahun yang sama Partai Ba’ath dilarang oleh partai kualisi yang baru lahir. Muqtada al-Sadr, ulama Shia mulai memasuki medan politik, N. al-Maliki (syiah) jadi PM (12/2005), berakibat organisasi militan Sunni Al Qaida di bawah Osama bin Laden mulai melakukan aksi terornya. Sampai akhir tahun 2006. Memaksa pemerintah Irak membeli senjata. Menurut laporan Asia Times, tahun 2008 Irak tercatat pembeli persenjataan Amerika bernilai lebih dari 12,5 miliar $AS dari total penjualan senjata Amerika 34 m $AS. Tidak termasuk pesawat tempur F-16.[4]

kondisi Irak setelah NIK ISIS

Irak hancur setelah NIK / ISIS

Kondisi Irak semakin buruk ketika Abu Bakr al-Baghdadi memproklamirkan perubahan gerakan militernya dari Daesh/ISIS menjadi Negara Islam Khalifa  (NIK)– mengklaim bukan hanya berkuasa di Irak dan Syria saja, tapi di seluruh dunia, melebihi para Khalifat abad-abad permulaan Islam. Abu Bakr adalah ulama lulusan S3 agama Islam dari Universitas Baghdad. Gelombang Arab Spring telah menjadikan NIK ratusan kali lebih hebat dan berbahaya bagi siapapun disbanding Al Qaida; hanya dalam kurang lebih dua tahun, militant Sunni NIK ini menguasai kota-kota penting dari selatan Irak sampai ke utara dan lanjut ke Raqqa dan Aleppo di barat Syria. Kunci kesuksesan NIK adalah akibat impian para Muslim Sunni di Irak dan Syria terbebas dari para pemimpin Muslim Syiah. Para raja dan presiden Sunni Timur Tengah terperanjat[5] ketika apa yang mereka dukung ternyata sekarang membasmi para Muslim Sunni yang tidak sepaham dengan ideologi para pendukung NIK. Segera Konferensi anti-NIK dibuat di Paris membuat strategi bagaimana menghabiskan gerakan Khalifat tersebut.[6] Negara Irak bebas dari AS namun jatuh ke tangan bangsa Iran. 1 Dinar Irak bernilai 3,2 $AS sebelum Perang Teluk (91), dan saat ini 1 $ AS bernilai 1170 Dinar Irak. Sementara perlu banyak uang untuk beli persenjataan dari Russia, “diperlukan 25 milyar $AS untuk kebutuhan air bagi 10 tahun pertama, 25 milyar $AS untuk semua program,” Menteri sumber air Irak berkata.[7] Mesjid-mesjid Shia Irak masih berlanjut menjadi target serangan bom militant Sunni saat ibadah Jumat, juga di Pakistan.

Kamp pengungsi orang Syria.jpg

Kamp Pengungsi Syria

Bagaimana dengan Negara Syria? Jauh lebih parah! Semua kota yang pernah dikuasai oleh pejuang NIK – adalah kota-kota besar dan penting) – telah menjadi puing-puing bangunan.

Awal 2017, Tentara Turki  juga telah masuk Syria, selain Iran dan Russia. Dan menjadi medan perang (perang misil) antara muslim Shia dukungan Iran dan Russia melawan berbagai organisasi Sunni militan, ditambah perang misil antara Iran dengan Israel. Laporan organisasi HAM: Pebuari 2016, korban jiwa mencapai 470.000 dan 117.000 tertangkap dan lenyap. 6,1 juta kehilangan rumah.[8] Situs  IAmSyria menyatakan jumlah korban lauh lebih besar.[9]

Apakah yang bangsa Indonesia kehendaki bagi negaranya? Khususnya kepada para Muslim yang bermimpi ingin merubah NKRI menjadi Negara Islam Kalifat (entah Sunni maupun Syiah), berpikirlah 100 kali lipat sebelum kalian melakukannya. Apakah kalian rela melihat Indonesia yang makmur dan relative sejahtera ini menjadi seperti ketiga negara tersebut, karena ambisi keagamaan kalian? Sejarah membuktikan berkali-kali bahwa fanatisme atas agama, tidaklah akan pernah menghasilkan kejayaan yang lenggang dan tidak akan pernah menghasilkan kedamaian di hati dan jiwa penganutnya, sebab fondasi dari fanatisme adalah kekerasan, pemaksaan dan berarti lenyapnya keadilan dan matinya kreativitas dan akal sehat, sebaliknya keterbelakangan dalam segala aspek kehidupan dan berakhir pada kehancuran.

Kepada setiap orang Indonesia yang tidak setuju dengan hadirnya gerakan NIK / ISIS dan faham-faham sejenisnya di Indonesia, saya menganjurkan untuk kita semua mengambil bagian kita menjaga dan memelihara NKRI dan Pancasila. Membantu dan bekerja sama dengan pemerintah dan badan keamanan negara. Sukses dan Merdeka serta damai bagi kita semua. Amin!!

Foodnotes:

  1.  Suicide rate in Iran increasing, especially among youth and women
  2. Suicide in Iran: The Facts and the Figures from Nationwide Reports
  3.  Ba’ath adalah partai politik Sunni Islam yang memiliki cabang di negara-negara Dataran Arab bahkan sampai ke Marokko dan Libanon.
  4. Asia Times, “Business as usual for US arms sales” (24/9/2008)
  5. Negara Islam Kalifat di mata raja-raja Arab (Negara-negara Arab)
  6. Para pemimpin Dunia menyusun stategi di Paris untuk memerangi Negara Islam Kalifah (NIK)
  7. Iraq Needs $25Bln at First Stage of Recovery After Daesh Defeat – Official
  8. Syria; Events of 2016 by Human Rights Watch
  9. Lebih dari 500.000 tewas; tahun 2018 saja sudah 3.812 jiwa tewas

Read the rest of this entry