Arsip Blog

Persians speak out! Interviewing Persians At Iran Protest In Los Angeles

This is very interesting video, knowing what do the people of Iran, Persians, really think about and wish to have in Iran.

 

Iklan

Sastrawan Kuwait Abdullah Al-Hadlaq: Israel adalah negara sah, bukan penjajah!

Aku akan mengumpulkan segala bangsa dan akan membawa mereka turun ke lembah Yosafat; Aku akan berperkara dengan mereka di sana mengenai umat-Ku dan milik-Ku sendiri, Israel, oleh karena mereka mencerai-beraikannya ke antara bangsa-bangsa dan membagi-bagi tanah-Ku, (Yoel 3:2)

Pada suatu wawancara TV sastrawan Kuwait ini ditanya oleh tuan rumahnya:  Apakah itu Israel? Israel mewakili apa? Sebuah negara? Kelompok? Organisasi teroris? Suatu yang abstrak?

Sastrawan tua ini dengan nada tenang dan lembut menjawab: “Suka itu atau tidak, Israel adalah sebuah pemerintahan negara merdeka. Itu ada dan memiliki kursi pada Persatuan Bangsa-bangsa (PBB), dan sangat suka-damai dan negara-negara demokrasi mengakuinya

Kelompok negara-negara yang tidak mengakui Israel adalah negara-negara tirani dan penindas; contoh, (Republik) Korea Utara tidak mengakui Israel, tetapi ini tidak bisa menyingkirkan Israel atau dari fakta keberadaannya entah kita suka itu atau tidak.

Negara Israel memiliki pusat-pusat ilmu pengetahuan dan universitas-universitas; hal-hal yang bahkan negara-negara Arab tertua dan sangat berkuasa kekurangan. Jadi Israel adalah sebuah negara dan bukan sebuah organisasi teror, sebagaimana saya katakan, itu adalah sebuah negara mendeka. Ya, itu negara legal.

Rekan saya (tamu diseberangnya) telah menyebut Israel sebagai sebuah “penguasa pembajak,” tetapi ini dapat ada disangkal baik dalam istilah agama dan politik.

Dari perspektif keagaamaan: Kuran 5:21 membuktikan bahwa orang-orang Israel memiliki hak atas Tanah Suci. Allah berkata: “Ketika Musa berkata kepada bangsanya, ‘O, bangsaku, masuklah ke Tanah Suci yang Allah telah tetapkan bagi mu.’” Jadi Allah telah menetapkan tanah tersebut bagi mereka dan mereka tidak membajaknya.

Penguasa pembajak adalah siapapun yang ada sebelum kedatangan orang-orang Israel. Karenanya, saya tidak akan sepaham dengan slogan-slogan absolute dan istilah-istilah seperti “Zionis adalah penguasa pembajak.”

Fakta bahwa saya adalah seorang Arab tidaklah berarti harus mencegah saya dari mengakui Israel. Saya mengakui Israel sebagai sebuah negara dan sebagai sebuah fakta kenyataan, tanpa mengabaikan indentitas ke Arabaku dan keanggotaanku

Rekannya menimpali, “saya tidak tahu apakah Palestina dan pendudukannya adalah masalah Arab atau masalah keagamaan?

Abdullah Al-Hadlaq menjawab rekannya, kali ini suaranya tegas dan sedikit tinggi: “Tidak ada pendudukan! Yang ada adalah bangsa yang kembali ke tanah perjanjiannya. Sadarkah kamu bahwa sejarah bangsa Israel adalah kuno, (hadir) sebelum Islam? Oleh sebab itu, kita para Muslim harulah mengakui bahwa bangsa Israel memiliki hak atas tanah tersebut dan bahwa mereka tidak membajak itu (tanah).

Bangsa yang berkata bahwa itu adalah pembajakan adalah masih berpikir dalam mentalitas tahun 1950 dan sebelumnya. Ketika Negara Israel berdiri tahun 1948 tidak ada negara yang disebut Palestina.

Baca:

Tuan rumah: Jadi darimana kita dapat nama tersebut yang kita telah bela selama 60 tahun?

Abdullah Al- Hadlaq: Itu tidak ada. Yang ada adalah berbagai macam komunitas hidup di negara-negara Arab. Mereka disebut: “Bangsa Kanaan, Amalek atau tuan rumah dengan nama-nama lainnya, ayat Kuran bahkan berkata, “… disana ada sebuah bangsa yang sangat perkasa, beberapa orang menyebutnya Jabbareen (Alkitab menyebutnya: Yebus; Yoshua 11:3). Oleh karenanya tidak ada negara yang disebut Palestina. Saya berpegang teguh pada hal ini.

Tuan rumah: Anda pernah menulis dalam sebuah artikel: “Saya berharap saya adalah seorang tentara Israel”, betulkah itu? Jadi itu tidaklah hanya sekedar mengakui Israel. Anda tidak menulis itu dalam bentuk orang pertama, tetapi Anda menulis bahwa pemuda Arab berharap mereka dapat ada sebagai tentara-tentara Israel. Ini logis? Ini realistik?

Abdullah Al-Hadlaq: Saya menulis itu artikel di tahun 2006, ketika terntara Israel Gillad Shalit diculik. Ketika saya menulis ini, saya tidak maksudkan bahwa saya suka mengangkat senjata dan berjuang bagi Israel, tetapi saya berharap bahwa kita dapat ada seperti orang-orang Negara Israel yang telah sungguh-sungguh turun untuk orang terakhir membela seorang tentara Israel, jadi saya menulis: “Saya berharap saya dapat ada seperti seorang tentara dimana negara membela dia.”  Demi Allah, jika dia (Gillad Shalit) adalah seorang tentara di negara Arab apapun, apakah bangsanya, negara, atau pemimpin negara sungguh melakukan seperti Israel telah lakukan? Negara-negara Arab telah memiliki ribuan yang terluka, dan tidak seorangpun perduli atas mereka. Baca: Gilad Shalit, harga seorang Yahudi Israel sangat mahal! Fakta.

Saya ceritakan pada kalian sebuah kebenaran, saya punya reservasi tentang kata “normalisasi” dan saya lebih suka menyebut itu “keberadaan yang damai dengan Negara Israel”

Tuan Rumah: Seperti Mesir dan Yordan? (Kedua negara ini telah mengikat perjanjian damai dengan Israel)

Abdullah: Tepat sekali. Keberadaan yang damai

Tuan Rumah: Apa hasilnya?

Abdullah: Kedua sisi mendapat keuntungan dari itu!

Tuan Rumah: Haruskah para Arab dan Muslim berdiri bersama Israel melawan Hizbullah?

Abudllah: Pemimpin sebuah kota Negara Teluk berkata bahwa dia siap bekerja sama dengan ‘Setan’ menentang pemerintah Persia (Iran). ‘Setan’ yang ia maksud di sini adalah Israel. Namun saya katakan: Mengapa kita tidak hidup dalam keberadaan yang damai dengan Israel, dan bekerja sama dengannya menentang musuh besar kita, yakni regim Persia?

Rekannya: Kamu katakan pemerintah Zionist menentang Iran?

Abdullah: “Regim Persia bermegah diri bahwa Persia telah menduduki empat ibukota Arab dan itu akan segera menduduki yang kelima. Apakah Israel pernah berkata hal seperti itu,? apakah ia pernah berbangga tentang menjajah sesuatu? Tidak pernah, sebab Israel tidak pernah menjajah siapapun. Israel datang ke tanah miliknya sendiri, yang mana pemerintah Persian Iran adalah seorang pembajak.

Saya mendukung pendirian dari aliansi tiga-jalur yang terdiri dari Israel, Negara-negara Teluk Arab dan Amerika dengan tujuan menghapus Hizbullah sama sekali.

Pembaca bebas memakai artikel TheCamelSpeaksOut.wordpress.com sejauh tidak merubah tulisan aslinya dan menyertakan link situsnya. Hargailah karya cipta orang lain. Terima kasih, The Camel Speaks Out / Unta Angkat Bicara

 

 

 

Dua Pakar Arab Muslim beda pendapat tentang kepemilikan Tanah Suci dan kota Yerusalem

Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel.” Injil Matius 2:6 // Mihka 5:2

Sheikh Ahmad al-Adwan VS Dr. Ghada KarmiSheikh Ahmad al-Adwan versus Dr. Ghada Karmi, siapakah yang berbicara berdasarkan fakta yang lebih legal? Keduanya memiliki pandangan yang sama sekali berbeda tentang siapa yang berhak atas tanah yang saat ini negara Israel berada beserta ibukotanya Yerusalem.

Latar belakang mereka:

  • Dr. Ghada Karmi. Ia Arab Palestina kelahiran Yerusalem (1939) adalah seorang dokter kesehatan lahir di Palestina migrasi ke Inggris. Penulis rutin masalah Palestina di media Inggris. Ia juga dosen pada Institure Arab dan Ilmu Islam pada Universitas Exeter di Inggris.
  • Sheikh al-Adwan. Ia Arab Yordania kelahiran Amman (1952) tinggal di negara Yordania. Menekuni ilmu Islam sejak 1997 dan kehidupan Ummah Islam (Masyarakat Islam). Ia sering berkomunikasi dengan banyak pakar agama termasuk dari Kerajaan Yordania serta sejumlah instruktor Sharia Islam dari Yordania, Arab dan universitas-universitas lainnya.

Pernyataan Dr. Ghada Karmi kepada Emily Maitlis wartawan BBC saat itu dihadiri juga Duta Besar Israel untuk Britania Raya Mark Regev berkaitan dengan keputusan Presiden Trump mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel. Ibu ini berkata dengan penekanan suara yang tegas:
“Israel adalah pemilik illegal/ tidak sah atas Yerusalem Timur dan Yerusalem Barat. Bangsa Palestina punya hak atas kota tersebut. Saya lahir di Yerusalem, bagian dari orang asli Yerusalem!
Ditanya seharusnyakan orang Palestina protes atau berdialog dalam menghadapi pengakuan Trump tersebut, Karmi menjawab: “Saya tidak tahu bagaimana mereka harus berbuat, tapi saya tahu apa yang mereka rasakan. Mereka protes, mereka marah, mereka memiliki segala hak untuk marah! Duta Besar Israel menanggapi pernyataan ibu ini, “Why Is Israel the Only Country Without the Right to Choose Its Capital?  (klik untuk melihat wawancara kedua tamu BBC tersebut).
Pernyataan Sheikh Ahamad al-Adwan kepada wartawan Israel on Arabic tentang Tanah Suci / Tanah Perjanjian dan kota Yerusalem:
”Saya percaya pada kitab suci Kuran, fakta ini dinyatakan banyak kali di Kitab. Contoh ”O umat-Ku! Masuklah ke Tanah Suci yang Allah telah tetapkan bagimu” [Koran 5:21], ”Kami telah membuat anak-anak Israel pemilik hal-hal demikian [Koran 26:59], dan ayat-ayat tambahan lainnya di Kitab Suci,” itu jawaban Sheikh al-Adwan ketika ditanya mengapa ia mengakui tanah Israel / Palestina sebagai milik bangsa Israel.
”Siapapun yang berkata ”ini adalah Negara Palestina” adalah entah ia tertidur atau seorang yang suka tidur tengah hari bolong … teroris dan seorang pribadi yang jahat.
Wartawan: Sebagai seorang agamawan, apakah Anda percaya bahwa mereka yang menyebut diri mereka sendiri “bangsa Palestina” memiliki hak untuk mendirikan negara di tanah bersejarah bangsa Yahudi?
”Allah (terpujilah Dia) menulis di Torah bahwa ini adalah tanah anak-anak Israel, Dia telah menyerahkan Tanah Suci kepada anak-anak Israel dan menyebut Tanah tersebut dengan Nama ini (Tanah Israel) dan sebagaimana itu dinyatakan oleh Kitab Kuran: … (Sheikh ini kembali mengutip ayat-ayat Kuran yang ia telah sebutkan sebelumnya dan Kuran 17:104 ”Tinggallah dengan aman di Tanah (Perjanjian), lalu menjawab pertanyaan tersebut,) ”Jadi jawaban untuk pertanyaan Anda, bagaimana mereka (bangsa Palestina) mempunyai hak untuk mendirikan sebuah Negara pada Tanah Israel bangsa Yahudi. Lebih dari itu, bahkan jika semua penduduk dari Tanah (Israel) melupakan hak mereka, atau jadi gila dan bekerja sama dengan mereka yang menyebut dirinya sendiri ”bangsa Palestina” untuk mendirikan sebuah negara bagi yang kemudian (bangsa Palestina), mereka (bangsa Israel) tidak akan berhasil, Allah tidak akan mengijinkan ini sampai Hari Penghakiman, sebab ini adalah kehendak Allah sendiri dan secara khusus telah menulis di Kitab-Nya bahwa Tanah ini akanlah ada sebagai Tanah bangsa Israel di bawah penguasaan orang Israel sehingga tidak seorang pun kemudian akan memperebutkan itu.” Bagian terakhir pernyataan Sheikh ini mungkin beralaskan Surah 5:21 di atas, anak kalimatnya berbunyi: “dan janganlah kamu lari kebelakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi. (Kuran Indonesia).

Apa yang Alkitab sendiri katakan tentang Tanah Perjanjian / Tanah Suci yang saat ini ditempati oleh bangsa Israel? Ada puluhan ribu ayat, ini adalah satu dari antaranya: Kisah Para Rasul 13: 16-19

Maka bangkitlah Paulus. Ia memberi isyarat dengan tangannya, lalu berkata:

“Hai orang-orang Israel dan kamu yang takut akan Allah, dengarkanlah! Allah umat Israel ini telah memilih nenek moyang kita dan membuat umat itu menjadi besar, ketika mereka tinggal di Mesir sebagai orang asing. Dengan tangan-Nya yang luhur Ia telah memimpin mereka keluar dari negeri itu.

Empat puluh tahun lamanya Ia sabar terhadap tingkah laku mereka di padang gurun. Dan setelah membinasakan tujuh bangsa di tanah Kanaan, Ia membagi-bagikan tanah itu kepada mereka untuk menjadi warisan mereka

Bacaan berkait:

Referensi:

Read the rest of this entry

Perang Suuni-Shia di Yaman semakin parah setelah militan Houthi membunuh ex-presiden Saleh

Sebab bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan. Akan ada kelaparan dan gempa bumi di berbagai tempat. Akan tetapi semuanya itu barulah permulaan penderitaan. (Matius 24:7-8)

Gadis kecil Yaman merawat dirinya sendiri di tengah puing-puing bangunan

Gadis kecil  Yaman ditengah puing bangunan

Perang akan ada “lebih kasar di masa depan” Mahmoud Azani seorang politikus dan akademi Yaman yang tinggal di Britania Raya berkomentar di GulfNews menanggapi pembunuhan berdarah atas ex-presiden Yaman oleh bekas sekutunya sendirii

Hanya beberapa hari setelah Ali A. Saleh menyatakan keinginannya, pada suatu wawancara TV, “berpindah halaman” (turn the page) berdialog dengan pihak kuali-dukungan negara Arab Saudi untuk menciptakan harapan baru demi perdamaian di negaranya yang telah pecah perang sipil hampir tiga tahun tersebut, hari Senin, laporan dari tentara suku Houthi menyatakan bahwa mereka telah membunuh “penghianat bangsa.” Rumahnya diledakkan.

Tahun belakangan ini Arab Saudi membombardir Yaman dengan bom-bom melalui jet tempurnya, dan belakangan ini memblokir bantuan kemanusian internasional masuk ke Yaman yang telah mengalami bencana kelaparan karena perang sipil sejak meletusnya kekacauan “the Arab Spring” tepat tujuh tahun lalu. Perang Yaman adalah perang agama antara Suuni melawan Shia. Semua sekutu Saudi adalah Suuni, dan Houthi yang Shia didukung oleh Khalifah Shia Iran. Jadi ketika ex-presiden Saleh yang juga orang Shia ingin mengadakan dialog perdamaian dengan Saudi dan sekutunya, ia dianggap bukan “pembawa damai” tetapi “penghianat bangsa.”

Saat ini telah terjadi perang antara pihak yang setia pada Ali A. Saleh dengan militan suku Houthi, sedikitnya 125 tewas dan lebih dari 200 luka-luka

Badan-badan bantuan kemanusian memperkirakan puluhan ribu orang Yaman telah tewas akibat perang. Lebih dari 20 juta orang Yaman (2/3 dari jumlah populasi) telah menjadi bergantung dari bantuan kemanusia sejak campur tangan Saudi di tahun 2015. Tahun 2016 saja diperkirakan 63 ribu anak meninggal karena kurang gizi, Reuter  mengutip laporan UNICEF

Negara Yaman yang telah menjadi negara Arab termiskin sebelum perang sipil pecah di tahun 2015, sebelum telah mengalami guncangan ekonomi ketika demontrasi berdarah terjadi untuk menumbangkan Presiden Saleh (2011).

Nampaknya para pria Yaman lebih mementingkan membela agama Shianya daripada memperhatikan rakyatnya yang mati kelaparan.

Anak-anak Somalia kurus-kering karena perang berkepanjangan.jpg

korban perang di Somali

Dan Yaman tidaklah sendirian dalam hal ini, bangsa Somali lebih tidak perduli lagi. Sejak negara Suuni ini merdeka dari tangan Britania Raya (1 Juli 1960), sistim pemerintahan yang dibuat oleh Britania hanya bertahan 30 tahun. Sejak 1991 perang sipil Suuni lawan Suuni di Somali masih berlangsung sampai hari ini; 26 tahun perang saudara! Diperkirakan satu juta orang Somali telah tewas akibat perang tersebut. Orang Somali selalu bangga dengan klaimnya ”Somalia adalah Muslim yang asli.”

14 Oktober 2017, kelompok militan Somali Al-Shabaab meledakan sebuah truk yang berisi 600-800 kg bahan peledak di kota Mogadishu, berakibat 300 orang mati seketika.

PBB pada laporannya 3 Mei 2013 menyatakan 3 ribu (3.000) tentara perdamaian Uni-Afrika (cabang dari PBB untuk benua Afrika) telah tewas di Somali. Sebelum tentara Uni-Afrika ini terbentuk, pemerintah Ethiophia telah mengirim sejumlah tentaranya untuk menstabilkan tetangganya ini, namun yang mereka dapatkan adalah kematian. Kematian tentara Uni-Afrika terus berlangsung di negara Somali ini.

Ketika Ismael masih dikandungan ibunya, Hagar. Malaikat YAHWEH berkata kepada Hagar, “Engkau mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan akan menamainya Ismael, sebab YAHWEH telah mendengar tentang penindasan atasmu itu. Seorang laki-laki yang lakunya seperti keledai liar, demikianlah nanti anak itu; tangannya akan melawan tiap-tiap orang dan tangan tiap-tiap orang akan melawan dia, dan di tempat kediamannya ia akan menentang semua saudaranya.” (Kejadian 16:11-12).

Muslim tidak bisa menyalahkan orang Barat maupun Israel dalam perang agama sesama mereka, sekalipun Barat terlibat di dalam penjual senjata, negara Israel lahir di Timur Tengah. Elohim telah melihat kedepan dari karakter yang Ismael – bapa dari banyak bangsa Arab dan Timur Tengah. Sejak Muhammad memproklamirkan agama barunya kota-kota di Saudi telah banjir dengan darah.

Pemecahan masalah antara Muslim dengan segala aliran agamanya bukanlah ”angkat senyata” maupun “mata-ganti-mata,” tetapi memiliki ”Raja Damai” / “Prince of Peace” di dalam hati mereka! Lihat kitab nabi Yesaya 9:5-6 / 6-7 versi Inggris.

Melalui kesempatan ini saya mengajak semua orang Kristen dimanapun Anda berada untuk membawa bangsa Yaman ini di dalam doa-doa Anda kiranya Elohim YAWEH menurunkan kemurahan dan belas kasihan-Nya kepada bangsa Yaman. Amin.

Adonai Yeshua memberkati Anda semua!

Read the rest of this entry

Zak Gariba, ex-imam Muslim experiences the Power of Yeshua’s Name and the Holy Bible

“My sheep hear my voice, and I know them, and they follow me” – Adonai Yeshua (John 10:27, KJV)

Zak at the age of 26, he became an Imam at his local mosque in Ghana, approximately 300 people under his leadership. Then a year later he moved to his own country, Negeria, where he experiences the power of Yeshua Messiah and the Holy Bible. He was persecuted for believing in Yeshua, then now a pastor in Canada. His web site: http://www.gariba.org

Pembaca bebas memakai artikel TheCamelSpeaksOut.wordpress.com sejauh tidak merubah tulisan aslinya dan menyertakan link situsnya. Hargailah karya cipta orang lain. Terima kasih, The Camel Speaks Out / Unta Angkat Bicara