Arsip Blog

Fatah leader: Jesus was not only “first Palestinian” – he was “first Islamic Martyr”

Tawfiq Tirawi, senior Palestinian leader and Fatah Central Committee about Yeshua ha Mashiah

Tawfiq Tirawi & Yasser Arafat

Yeshua Ha Mashiah: “But let your word ‘yes’ be ‘yes,’ and your ‘no’ be ‘no.’ Anything more than this is from the evil one. (Matthew 5:37)

Many Muslims of Indonesia, who stand for Palestinians in Israel, don’t like to say “Happy Merry Christmas!” to Christians would be very shocked to know that the Palestinian Muslim leaders are, in fact, encouraging their people to celebrate the Christmas, even make this Holy Day become a National holiday in Palestina.  Tawfiq Tirawi, a top Palestinian leader and Fatah Central Committee, even goes further, according to Palestinian Media Watch, Tawfiq posted on his personal Facebook: Jesus the Messiah is a ‘shahid’ (Muslim martyr). This article bellow is a copy from the PMW.

Itamar Marcus  |
  • Fatah leader: Jesus was “first Palestinian,” and “first Islamic Martyr”
  • PA Prime Minister: “Christmas is a national holiday for the Palestinian people”
  • Abbas: “For all of us Palestinians, this holiday [Christmas] is ours”
  • Fatah: “Christmas is a Palestinian holiday”

There were repeated new claims this week, by senior Palestinian leaders and the official press, that Jesus was a “Palestinian” and the “first Palestinian.” A senior Palestinian leader this week also referred to Jesus as the “first Shahid,” or Islamic Martyr, which many believing Christians find very offensive. According to the Islamic tradition, which the Palestinian Authority has repeated many times to its people, among the rewards that the Islamic Martyr receives in Islam’s paradise are 72 dark-eyed virgins. Whereas claiming that Jesus who was a Judean (Jew) was a Palestinian is nonsensical for believing Christians, saying he is now in Islamic Paradise with 72 virgins is seen by many as defamation.

Tawfiq Tirawi, senior Palestinian leader and Fatah Central Committee member posted on his personal Facebook page:

“This is blessed Christmas, The birthday of our lord Jesus the Messiah, the first Palestinian and the first Shahid (Islamic Martyr).”

[Tawfiq Tirawi Facebook page, Dec. 24, 2019]

Others claiming Jesus include Laila Ghannam, District Governor of Ramallah:

“The entire Palestinian people celebrates Christmas because we are proud of Jesus being Palestinian.”

[Official PA daily Al-Hayat Al-Jadida, Dec. 24, 2019]

Muwaffaq Matar, Fatah Revolutionary Council member and regular columnist for the official PA daily, wrote:

“If someone could win the Nobel Peace Prize every year forever, it is Palestinian Jesus son of Mary who was born in Bethlehem… Palestinian Jesus son of Mary was a victim…”

[Official PA daily Al-Hayat Al-Jadida, Dec. 26, 2019]

It should be noted that the expression by Tirawi “our lord Jesus” is not an indication of Palestinian acceptance of the principles of Christianity. According to Islamic tradition, as explained in the following quote by the top PA religious figure, PA Mufti Muhammad Hussein, Jesus is said to have been a Muslim who preached Islam:

PA Mufti Muhammad Hussein: “We’re talking about an ongoing chain [of prophets of the Islam], from Adam to Muhammad. It’s an ongoing chain, representing the call for monotheism, and the mission of IslamThe prophets were all of the same religion [Islam]… Jesus was born in this land. He lived in this land. It is known that he was born in Bethlehem… He also lived in Nazereth, moved to Jerusalem. So he was a Palestinian par excellence… We respect Jesus, we believe in him [as a Muslim prophet], just as we believe in the prophet Muhammad.”

Finally, the PA, seeing themselves as part of Jesus’ nation, is now saying that in addition to it being a religious holiday for Christians, Christmas is also a national holiday for Palestinians.

PA leader Mahmoud Abbas himself said Christmas is a Palestinian national holiday:

“Christmas is a national-religious holiday and not just a religious one. For all of us Palestinians, this holiday is ours. Therefore we all celebrate it. The Palestinian leadership is going to church to be present for [Christmas] Mass… It is our obligation to do this, because it – as I told you – is a religious holiday for our [Christian] people, and you are our people, and it is [also] a national holiday for us all.”

[Official PA TV News, Dec. 28, 2019]

Mahmoud Abbas’ Fatah in a headline on its official Facebook page likewise declared:

Christmas is a Palestinian holiday… There is a special significance to the Christmas celebrations in Palestine, since it has clearly become a national holiday in which all of our people participate, starting from [PA] President of Palestine [Mahmoud Abbas] and down to the last of the children.”

[Official Fatah Facebook page, Dec. 20, 2019]

As documented many times by Palestinian Media Watch, the Palestinian Authority rewrites history, both ancient and recent, according to its political and internal needs. As a people without a history who are attempting to create a national identity, teaching Palestinians that Jesus, one of the most important and admired historical figures, was a Palestinian, is their attempt to trick primarily their own people into believing that they have not only an ancient history but a glorious national identity.

Look and see what the Israelis have responded to those claims, read their commands in this link

Read the rest of this entry

DR. Mordechai Kedar tentang Yerusalem dan Islam (TV Al-Jazeera)

Logo TV Al-Jazeera Arab QatarTV berbahasa Arab yang paling terkenal di dunia mewawancarai seorang professor dari Departemen Studi-studi Arab membahas tentang berlanjutnya Pemerintah Israel membangun rumah-rumah di kota Yerusalem. Televisi Al-Jazeera adalah milik pemerintah Qatar; Raja-raja Arab pernah memutuskan hubungan dan memotong jalur laut, dan udara mereka sebagai hukuman karena Qatar melalui TV-nya ini berpihak kepada Organisasi Ikhwanul Muslimin (the Muslim Brotherhood) di Mesir dan Hamas di Gaza, yang keduanya mereka nyatakan sebagai ‘organisasi-organisasi teroris.’

Mordechai Kedar in Al-Jazeera about Jerusalem & Islam (teks bahasa Indonesia)

Pewawancara: “(Bukankah ini) memantekkan paku-paku tambahan dalam peti-mati negosiasi-negosiasi Israel-Palestina?” pembawa acara memulai wawancaranya,

DR. M. Kedar: “Saya sungguh tidak mengerti! Mengapa Israel harus meminta permisi dari seseorang di Dunia? Yerusalem telah ada sebagai ibukota kami selama 3000 (tiga ribu) tahun. Kami telah ada di sini ketika bapa-bapa moyang Anda meminum anggur arak (wine), menguburkan hidup-hidup para putri mereka dan menyembah berhala-berhala. Jadi mengapa kita perlu berbicara tentang masalah ini? Ini telah ada sebagai kota kami untuk sudah 3000 tahun dan itu akan ada selamanya tentunya.”

Tuan Rumah TV Al-Jazeera, dengan marah dan tangan telunjuknya ke atas, menghentikan DR. Kedar, berkata dengan keyakinan penuh,

Pewawancara: ”Permisi, Tuan Mordechai! Permisi, permisi! Jika Anda ingin berbicara tentang sejarah, kita akan berbicara tentang Kuran. Anda tidak bisa menghapus Yerusalem dari Kuran.” dan melanjutkan, “Saya meminta Anda berhenti dari ungkapan-ungkapan menyakiti orang-orang Arab dan Muslim.”
Harap, tetap pada subjek (bahasan) kita. Tetaplah pada subjek kita … please!

DR. M. Kedar: “Yerusalem tidak disebut dalam Kuran!

Tuan Rumah TV Al-Jazeera tersentak dengan pernyataan ini, terhenti dan menelan air liurnya lalu berkata kepada dirinya sendiri: “Dimuliakanlah Dia yang membuat hamba-Nya … [Koran]” (sebuah kalimat umum dari ekpresi seorang Muslim memuji Allahnya)

DR. M. Kedar: “Yerusalem tidak disebut dalam Kuran – bahkan sekalipun tidak!! Dan Anda tidak dapat menulis ulang Kuran di sini pada Al-Jazeera.

Sadar benar bahwa tamunya adalah ahli sejarah dan budaya Arab, maka ia segera mengalihkan pembicaraan dari agama ke politik

Pewawancara: “Mari bicara tentang politik, please.”

DR. M. Kedar: “Ok,” dan langsung menembak pikiran lawannya sebelum ditanya, “Yerusalem adalah di luar negosiasi-negosiasi. Yerusalem milik orang-orang Yahudi. Titik!
Tidak ada jalan membicarakan tentang Yerusalem. Tidak ada! Dan namun Anda membangkitkan masalah ini terus menerus.

Pewawancara memotong.
Pewawancara: “Tuan Mordechai, perumahan! Perumahan! Kita berbicara tentang apartemen-apartemen baru yang sedang dibangun di dalam Yerusalem. Anda berbicara tentang beberapa 1000 (seribu) apartemen, dan ada sebuah keputusan untuk membangun 10.000 (sepuluh ribu) unit. Keputusan ini telah ditahan, dan sekarang ada gosip-gosip tentang 1000, 2000, 3000 (pembangunan) tersebut di Yerusalem termasuk seluruh Wilayah Barat (the West Bank), bukankah begitu?

DR. M. Kedar: “Saudaraku, Israel tidak menghitung apartemen-apartemen yang Qatar sedang membangun di Dataran orang Qatar. Jadi mengapa Anda menempelkan hidung Anda di Yerusalem? Yerusalem adalah kota kami selama lamanya. Dan itu bukanlah urusan Al-Jazeera dan bukan orang lain. Titik!
Kota tersebut hanya milik orang-orang Yahudi dan tidak seorang pun memiliki urusan di Yerusalem.

Pewawancara: “Apakah Anda bermaksud bahwa negosiasi-negosiasi antara orang-orang Palestina dan orang-orang Israel adalah di dasari pada ’fakta-akhir’ tentang apa yang sekarang Anda bicarakan, Tuan Mordechai Kedar?

DR. M. Kedar: ”Saudaraku yang terkasih, saya mengundang Anda ke Yerusalem untuk melihat dengan mata Anda sendiri, bagaimana Yerusalem telah berumah ke dalam sebuah kota yang mekar, setelah itu hancur di bawah tangan orang-orang Arab. Sejak 1967 kami telah membangun kota ini – dan sekarang itu terbuka untuk orang-orang Kristen, Muslim dan Yahudi secara merata sebagaimana itu tidak pernah sebelumnya ada di bawah kekuasaan Islam. Islam telah mengusir orang-orang Yahudi– termasuk orang-orang Kristen – keluar dari Yerusalem dan selama periode-periode … Tetapi sekarang (kota Yerusalem) itu terbuka bagi semua. Harap jawab ini ….

Pewawancara memotong,
Pewawancara: “Mengapa setiap kali ketika ada negosiasi-negosiasi Palestina-Israel Anda berbicara tentang perumahan-perumahan dan memutuskan untuk menambah perumahan-perumahan untuk meraih lebih untuk memindahkan lebih (banyak) tanah orang Palestina ke dalam tanah orang Yahudi, jadi Anda mengabaikan kemungkinan apa pun untuk berdirinya sebuah negara Palestina di masa depan, bukankah begitu?”

DR. M. Kedar: “Sejauh ini, telah ada dua negara Palestina … satu negara di Gaza, dan sebuah negara yang – jika Elohim berkehendak, akan ada di Wilayah Barat. Tetapi jika orang-orang Palestina terus-menerus bernegosiasi tanpa tanggung jawab akan ada negara di Hebron, negara di Ramallah, negara di Nablus dan negara di Jenin.

Pewawancara: “Ini menurut skenario yang Israel bicarakan, tetapi keputusan-keputusan internasional mengkontradiksi segala sesuatu yang Anda katakan, tuan Mordechai. Yerusalem Timur adalah pendudukan, pendudukan, pendudukan! Setiap orang tahu itu!

Dr. M. Kedar: “Wilayah Barat bukan milik seorang pun di dunia, sebab wilayah ini tidak pernah dikuasai negara apa pun, seperti Antartika di Selatan. Yordania – sampai 1967 adalah penjajah. Tidak ada penguasa atas Wilayah Barat, tidak seperti Golan dan Sinai – tidak seperti wilayah-wilayah lainnya. Tidak ada penguasaan atas Wilayah Barat. Tidak ada negara yang pernah memiliki kekuasaan di sana. Karena itu tidak seorang pun dapat berkata bahwa ini adalah sebuah territorial yang diduduki. Dari negara mana itu telah diduduki? Yordania adalah penjajah – sampai ’67, dan sekarang Wilayah Barat adalah di bawah aturan orang Israel. Itu bukan milik negara apa pun di dunia, karenanya kami boleh membangun di sana – apa pun yang kami suka.

Pewawancara, secara sepihak menutup percakapan, dengan kalimat penutup formal: “Mordechai Kedar, Departemen Studi-studi Arab Universitas Bar-Ilan, Tel Aviv.

Catatan: Wawancara ini ditayangkan pada 12 Juni 2008. DR. Mordechai Kedar adalah seorang professor dalam budaya Arab, khususnya dalam Islam, politik negara-negara Arab dan Syria. Dosen pada Universitas Bar-Ilan, Tel Aviv, Israel, dimana ia telah mendapat S3-nya. Ia lancar berbahasa Ibrani, Arab dan Inggris. Dan pernah bertugas selama 25 tahun di militer Israel, IDF. Ref.: Mordechai Kedar by Wikipedia

Read the rest of this entry

Ayatollah Khamenei memecat kepala Angkatan Udaranya atas menyelusupnya Pesawat F-35 Israel ke wilayah udara Iran

Pesawat Israel Adir F-35 melintasi udara Teheran, Iran. Photo milik JNS

F-35 Israel terbang di atas Tehran (Photo: JNS)

Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin utama Iran baru-baru ini memecat Brigadir Jenderal Farzad Ismaili, kepala Angkatan Udara Iran oleh karena Farzad merahasiakan kepada tuanya adanya fakta bahwa pesawat-pesawat tempur Israel F-35 telah menyelusup masuk wilayah udara Iran, situs Israel mengutip berita harian Kuwait Al Jarida yang terbit hari Saptu (9 Juni)

Koran Kuwait ini menyatakan penyelusupan terjadi pada bulan Maret kemarin. Badan keamanan Iran di bawah perintah langsung dari Khamenei mengadakan investigasi kejadian tersebut; koran tidak mengabarkan darimana dan kapan Ayatollah telah mendengar peristiwa yang memalukan ini.

Menurut penelitian koran ini, sebuah team Angkatan Udara Israel (IAF) dengan pesawat-pesawat  ”Adir” F-35nya telah melintasi kota-kota Tehran, Karajrak, Isfahan, Shiraz dan Bandar Abbas dan memotret sistim pertahanan udara Iran dan bahkan memotret kamp-kamp militer bawah tanah Iran; mereka masuk dan keluar bukan saja dengan selamat, bahkan sama sekali tanpa terditeksi oleh sistim pertahanan udara Iran.

Khamenei, yang telah menerima hasil laporan ini, karenanya memecat kepala jendral Farzad (29 Mei), dan menduga adanya suatu kerjasama antara Russia dan Israel dan adanya “orang-orang Russia yang telah memberikan kode rahasia dari radar Russia di Iran kepada orang Israel,” menurut koran Kuwait tersebut yang dikutip oleh media Israel.

Pemerintah Russia dekat dengan pemerintah Iran, hal ini nampak jelas dalam kerja sama mereka di Syria melawan ISIS dan para militan Sunni dukungan Barat dan Turky, namun banyak media berpikir bahwa Russia tidak ingin Iran memiliki banyak pengaruh di Syria, tempat yang sangat strategis bagi Russia di Timur Tengah.

Read the rest of this entry

Finally, there is something PM Israel Netanyahu agrees with Hamas’ Leaders

But let your communication be, Yea, yea; Nay, nay: for whatsoever is more than these comes of evil. (Matthew 5:37, KJV)

clashes between Israelies and Palestianians at the border“Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu makes a shocking statement regarding the recent Hamas-led riots that threatened Israel’s southern border: Netanyahu stated that he agrees with the declarations made by Hamas leaders,” Israeli media said

Netanyahu: “I Completely Agree With the Leaders of Hamas”, visit the link for seeing the video

Pembaca bebas memakai artikel TheCamelSpeaksOut.wordpress.com sejauh tidak merubah tulisan aslinya dan menyertakan link situsnya. Hargailah karya cipta orang lain. Terima kasih, The Camel Speaks Out / Unta Angkat Bicara

Petinggi Palestina menuduh Hamas korbankan darah rakyat demi publikasi media semata.

Mahmoud al-Habbash, penasehat senior Penguasa Palestina Mahmoud Abbas dengan kemarahan besar ia menuduh para pemimpin Hamas mengirim rakyat Gaza kepada kematian mereka untuk tujuan tunggal mengumpulkan berita menampilkan ” cerita-cerita kepahlawanan yang emosional,” yang sesungguhnya hanyalah “menjual ilusi-ilusi.”


Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: “Rakyat Palestina … tidak berkaitan kepada mereka [Hamas] dengan ’cerita-cerita kepahlawanan yang emosional,’ mereka dengan slogan-slogan kepahlawanan. Mereka hanya menjual ilusi-ilusi, menjual penderitaan dan darah, menjual korban-korban [yang diperintahkan]: ’Kalian para Palestina, rakyat kami, pergi dan matilah sehingga kami akan pergi ke media dengan deklarasi-deklarasi yang kuat.’ Tindakan-tindakan ’kepahlawanan’ [Hamas] ini tidaklah membodohi seorangpun lagi. Rakyat Palestina … berdiri bagi PLO.” Klip video ini diambil dari Kantor Televisi Penguasa Palestina pada 6 April 2018.

Konflik PLO (kelompok Fatah pimpinan M. Abbas di West Bank) dengan Hamas (dukungan Iran di Gaza) semakin tajam setelah Perdana Menteri Rami Hamdallah yang diutus Abbas hampir mati terbunuh melalui ledakan bom yang ditanam di jalanan oleh kelompok Hamas saat berkunjung ke Gaza beberapa minggu lalu.

Hamas telah memerintahkan rakyat Palestina di Gaza berdemo di wilayah perbatasan dengan Israel sejak hari Paskah pertama, (30/3/2018), tujuh meninggal dan sekitar 250 luka-luka. Pemerintah Israel, dikutip oleh media Israel, telah mengirim peringatan kepada rakyat Palestina untuk mereka tidak mendekati pagar perbatasan, apalagi mencoba merusaknya. Peringatan tersebut dikirim melalui video klip berbahasa Arab dan Inggris. Garis keras ini dibuat “demi melindungi rakyat sipil Israel di perbatasan” seorang Israel Kristen berkata di videonya I’M AT THE GAZA BORDER
Reporter yang meliput aksi demo berkata, sebelumnya pemimpin Hamas menjanjikan 3000 Dollar AS bagi keluarga yang meninggal dan 500 Dollar AS jika mereka terluka
Ini sebuah video klip laporan yang netral/ tidak berpihak dari jalannya protes yang disertai kekerasan tersebut, Violence at Israel-Gaza border as Palestinian protests continue | ITV News

Read the rest of this entry