Arsip Blog

Why “Islamophobia” Is a Brilliant Term; Dennis Prager

I gain understanding from Your precepts; therefore I hate every false way. Your Word is a lamp for my feet and a light on my path. (Psalms 119:104-105)

 

What do anti-Semitism, racism and Islamophobia have in common? In fact, nothing.

But according to Islamist groups, Western media and the United Nations, they have everything in common. Anti-Semites hate all Jews, racists hate all members of another race, and Islamophobia hates all Muslims.

The equation of Islamophobia with racism is particularly dishonest. Muslims come in every racial group, and Islam has nothing to do with race. Dannis Prager

Whoever coined the term “Islamophobia” was quite shrewd. Notice the intellectual sleight of hand here. The term is not “Muslim-phobia” or “anti-Muslimist,” it is Islam-ophobia — fear of Islam — yet fear of Islam is in no way the same as hatred of all Muslims. One can rightly or wrongly fear Islam, or more usually, aspects of Islam, and have absolutely no bias against all Muslims, let alone be a racist.

Christopher Hitchens – On Paula Zahn discussing ‘Islamophobia’ [2007]

The equation of Islamophobia with racism is particularly dishonest. Muslims come in every racial group, and Islam has nothing to do with race. Nevertheless, mainstream Western media, Islamist groups calling themselves Muslim civil liberties groups and various Western organizations repeatedly declare that Islamophobia is racism.

To cite three of innumerable examples: The Guardian published an opinion piece titled, “Islamophobia should be as unacceptable as racism”; the European Union has established the European Monitoring Center for Racism and Xenophobia; and the B’nai B’rith Anti-Defamation Commission of Australia notes that “Muslims have also been the target of racism in Australia, often referred to as Islamophobia.”

Even granting that there are people who fear Islam, how does that in any way correlate with racism? If fear of an ideology rendered one racist, all those who fear conservatism or liberalism should be considered racist.

Of course, some may argue that whereas conservatism and liberalism are ideas, Islam is a religion, and while one can attack ideas, one must not attack religions. It is, however, quite insulting to religions to deny that they are ideas. Religions are certainly more than ideas — they are theological belief systems — but they are also ideas about how society should be run just as much as liberalism and conservatism are. Therefore, Islam, or Christianity, or Judaism, or Buddhism should be just as subject to criticism as conservatism or liberalism.

Religions are certainly more than ideas — they are theological belief systems — but they are also ideas about how society should be run just as much as liberalism and conservatism are. Therefore, Islam, or Christianity, or Judaism, or Buddhism should be just as subject to criticism as conservatism or liberalism.

However, the only religion the West permits criticism of is Christianity. People write books, give lectures and conduct seminars on the falsity of Christian claims, or on the immoral record of Christianity, and no one attacks them for racism or bigotry, let alone attacks them physically. The head of the Anti-Defamation League announces that conservative Christians are the greatest threat to America today, and no one charges him with racism or Christianophobia.

The statement may be an expression of hysteria and of ignorance, but not of racism. But if one says that Islam does not appear compatible with democracy or that the Islamic treatment of women is inferior to the West’s, he or she is labeled a racist Islamophobe.

One might counter that maligning people for criticism is not only true of those who criticize Islam, it is also true of critics of Israel and of America — the former, it is said, are immediately labeled “anti-Semitic” and the latter are immediately labeled “unpatriotic.” Neither is true at all. Both are, and I use this word rarely, lies.

No one is labeled anti-Semitic for merely criticizing Israel. People are labeled anti-Semitic for denying Israel’s right to exist, for siding with those who wish to exterminate it or for singling out the Jewish state alone among all the nations of the world for attacks that most other countries deserve far more.

And no one in any responsible capacity has called anyone “unpatriotic” just for criticizing America. Sen. Hillary Clinton claimed during the last Democratic presidential debate that the Defense Department called her “unpatriotic” for asking whether the Defense Department has a plan to withdraw American troops from Iraq. Yet the term “unpatriotic” was not only not used in the response to the senator, it was not even hinted at.

The fact remains that the term “Islamophobia” has one purpose — to suppress any criticism, legitimate or not, of Islam. And given the cowardice of the Western media, and the collusion of the left in banning any such criticism (while piling it on Christianity and Christians), it is working.

Latest proof: This past week a man in New York was charged with two felonies for what is being labeled the hate crime of putting a Koran in a toilet at Pace College. Not misdemeanors, mind you, felonies. Meanwhile, the man who put a crucifix in a jar of urine continues to have his artwork — “Piss Christ” — displayed at galleries and museums. A Koran in a toilet is a hate crime; a crucifix in pee is a work of art. Thanks in part to that brilliant term, “Islamophobia.”

Source: Why “Islamophobia” Is a Brilliant Term

Pembaca bebas memakai artikel TheCamelSpeaksOut.wordpress.com sejauh tidak merubah tulisan aslinya dan menyertakan link situsnya. Hargailah karya cipta orang lain.
Terima kasih, The Camel Speaks Out / Unta Angkat Bicara

AS: Lebih dari 10 wanita berkelahi saat Parade LGBT “San Francisco Pride 2018” (Breitbart)

Para wanita peserta parade San Francisco LGBT Pride saling berkelahiLebih dari sepuluh wanita berkelahi secara brutal pada Festival Pride of San Francisco pada hari Minggu hanya karena penampilan seorang penyanyi pada acara tahunan ini. Kali ini terjadi pada tanggal 23 dan 24 Juni.

WATCH: More than a Dozen Women Brawl at San Francisco Pride Parade

Sebagaimana biasa, pada setiap parade dan festival, selalu ada disertakan beberapa penyanyi berikut sebuah band untuk menghibur para peserta parade tersebut, itu juga yang terjadi pada Parade LGBT Kebanggaan San Franciso Juni 2018 ini.
Seorang saksi mata, yang merekam perkelahian massal ini bercerita bahawa seorang penonton wanita memanggil penonton wanita lainnya sebagai ”a bitch” panggilan yang sangat kasar “keturunan anjing betina;” “’Kamu memanggil saya a bitch?’ Dari situlah awal argument mereka,” laporan mengutip tulisan Navdeep Thind di Twitternya.

Argumen antara dua wanita tersebut menjadi pertarungan fisik di mana beberapa wanita mulai berteriak, menendang satu sama lain dan membenturkan kepala satu sama lain ke lantai semen. Babi ikut parade di San Francisco LGBT Pride Juni 2018
Navdeep video segera menjadi viral, Selasa sore saja videonya mendapat lebih dari 25.000 tanda “suka” dan 14.000 berkomentar.

Menurut laporan, polisi tidak menahan seorang pun, meskipun keributan itu begitu brutal. Dan pihak pemerintah berkata mereka tidak ada komentar tentang kejadian tersebut. Motto festival kali ini adalah GENERATIONS OF STRENGTH 

Menurut Wikipedia, Perayaan Kebanggaan Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender (LGBT) San Francisco umumnya dikenal sebagai Parade Kebanggaan San Francisco  adalah sebuah parade kebanggaan LGBT yang sudah terkenal di dunia.

Seorang berinisial “JustinoInRoma” berkomentar, “little known fact – lesbians are the most violent people group on the planet …” (Fakta yang sedikit diketahui – para lesbian adalah kelompok orang yang paling kasar di planet …). Kita tidak tahu apakah ia benar atau tidak, namun ia mendapat 281 kali “suka” dari para pembaca. Read the rest of this entry

TEAM JIHAD; buku membongkar kualisi Liberal dan Islam untuk menghancurkan Amerika Serikat

Team Jihad buku membahas kualisi Liberal dan Islam menghancurkan Amerika

the Center for Security Policy

Frank Gaffney, Presiden dari the Center for Security Policy sangat antusias dengan buku elektronik baru yang diterbitkannya: Team JIHAD: How Sharia Supremacists Collaborate with Leftists to Destroy the United States.

Mr. Graffney berkata kepada wartawan, “Para Liberal (Leftists) telah bersedia bertoleransi untuk beberapa tingkat kekerasan jihad, tetapi mereka secara khusus santai tentang pendekatan “jihad yang bersifat kemasyarakatan” (“civilizational jihad”), “diam-diam, anti pemerintah” (the “stealthy, subversive”), yang disukai oleh beberapa organisasti tertentu seperti Muslim Brotherhood.”

Matt Vadim, penulis buku ini, mengawali bab pertamanya “The Left, Dawah dan Jihad” dengan mengutip pakar terorist 1970an yang sangat ditakuti negara-negara Barat saat itu:

“Hanya kualisi dari para Marxist dan Islamist dapat menghancurkan Amerika Serikat,” –  Ilyich Ramirez Sanchez, a.k.a. Carlor the Jackal

Pada bab dua, penulis buku menguraikan bahwa Islam dan Marxisme memiliki keterkaitan secara sejarah dan filsafat, ia mengutip karya beberapa nama pemikir Barat dan Islam.

Pada Bab 4 dan 5, buku membahas bagaimana istilah “Islamophobia” dipakai untuk menghancurkan masyarakat Amerika sementara menguatkan aksi kerja jihad

Mr. Graffney memuji penulisnya, “Matt telah membuat sebuah buku yang sangat luarbiasa. Ini tersedia online gratis (PDF file), pada SecureFreedoom.org.” dan menekankan, “Itu sungguh direkomendasikan untuk dibaca pada jaman kita.”

Ketika wartawan menyinggung tentang serangan-serangan terorist di Inggris dan Swedia,

“Kita dapat bungkus itu sebagai diversiti, atau multikulturalisme, atau sensitiviti, atau benar secaral politik untuk masalah tersebut, tetapi pada ujung harinya masalah-masalah tersebut adalah bagaimana sisi lainnya memahaminya.” Mr Graffney menjawab.

“Malangnya, cara mereka memahami itu tidaklah lain yakni sebagai penundukan, dan itu hanya akan meningkatkan bahaya dari jihad diam-diam, tentunya kondisi ini terus berkembang di sini maupun di tempat lainnya. Dan saya kuatir akan jenis kekerasan (jihad)nya juga.”

Read the rest of this entry

New York, AS: Yasmin, Muslim membuat laporan ”diganggu pendukung Trump” ngaku bohong; dibotakin kepalanya

Enam perkara ini yang dibenci YAHWEH, bahkan, tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya: mata sombong, lidah dusta, tangan yang menumpahkan darah orang yang tidak bersalah, hati yang membuat rencana-rencana yang jahat, kaki yang segera lari menuju kejahatan, seorang saksi dusta yang menyembur-nyemburkan kebohongan dan yang menimbulkan pertengkaran saudara. (Amsal 6:16-19)

yasmin-seweid-facebook-yahoo-mahasiswi-baruch-college-fitnah

Yasmin Seweid, penyebar kebencian atas Amerika

Seorang remaja putri Muslim yang telah melapor telah dilecehkan di subway Kota New York oleh para pendukung presiden terpilih Donald Trump telah mengarang-ngarang ceritanya, Jurubicara Departemen Polisi New York berkata kepada Business Insider, Yahoo.com mengutip.

Yasmin Seweid, 18 tahun mahasiswi Baruch College, secara sengaja melapor bahwa tiga pria kulit putih menjerit ”Donald Trump” kepada dirinya sekitar pukul 10 malam setelah meninggalkan kampusnya pada tanggal 1 Desember.

Laporan palsu: ”Trump! Trump! Dan memanggil dirinya ”terrorist” saat mereka mencuri kerudung kepalanya. ”Kembalilah ke negaramu!” Yasmin berkata mereka berteriak pada serangang 1 Desember tersebut.

”Mereka yang mengelilingi saya dari belakang dan mereka adalah seperti, ‘Oh Lihat, itu adalah sebuah f—ing terrorist,'” CBS menulis, “Saya tidak menjawab. Mereka menarik tas tali saya  dan robek, dan ketika saya berbalik dan saya sungguh-sungguh sopan dan saya adalah seperti, ‘Dapatkah kalian meninggalkan saya sendirian?’ Dan semua orang memperhatikan, tidak ada seorang pun yang mengatakan sesuatu, semua orang hanya memalingkan pandangan,” Yasmin bercerita kepada CBS News.

Yasmin juga mengklaim, orang-orang disekitarnya menghentikan pelecehan atas dirinya – bahkan ketika para pria (kulit putih) tersebut merobek hijabnya (tutup kepala wanita Muslim); Ia menulisdi Facebooknya: ”Itu menghancurkan hati saya bahwa begitu banyak pribadi-pribadi yang ada mengamati sementara melihat saya ada dilecehkan secara verbal dan fisik oleh babi-babi yang menjijikan. Orang Amerika Trump adalah nyata dan saya telah menyaksikan itu sendiri semalam! Suatu malam yang mentraumakan.”

Ayahnya yang menganut Islam garis keras mengadu ke polisi ketika Yasmin tidak pulang dan pemimpin kampus mengeluhkan peristiwa ”rasisme” yang menimpa mahasiswinya.

Baca juga:

Reaksi polisi NY: Tetapi ketika para polisi mencoba mengkonfirmasikan ceritanya melalui pemeriksaan video keamanan dan banyak sumber lainnya, mereka memutuskan bahwa ceritanya tidak sesuai. Para penyelidik kebencian-kejahatan yang berurusan dengan pemimpin kampusnya juga meneguhkan kesimpulan polisi, sumber lain menulis.

Namun setelah Kepolian kerja keras dan menunjukkan semua bukti, Yasmin akhirnya mengakui bahwa ia saat itu minun dengan rekan-rekannya larut malam setelah acara fashion show di kampus dan kemudian membuat laporan palsu tersebut.

yasmin-seweid-muslim-terbukti-membuat-tuduhan-rasis-dan-islamophobia-palsu-dibotakin-polisi

Yasmin Seweid dipengadilan

Polisi membawa kasus ini ke pengadilan. Rabu sore ia telah dinyatakan bersalah dalam dua hal: telah membuat laporan palsu dan juga menggangu admistrasi pemerintah.

”Ini bukanlah sesuatu kami biasanya lakukan, ia telah memiliki sejumlah kesempatan untuk mengakui kejadian tersebut tidak ada dan ia tetap saja berkukuh pada ceritanya,” pihak kepolisian NY berkata.

Pada kejadian yang terpisah, seorang mahasiswi muslim berusia 18 tahun juga melakukan pengaduan palsu sejenis.

Mahasiwi dari Universitas Louisiana ini mengklaim bahwa ia dilecehkan dan dirampok oleh dua pria kulit putih di Lafayette. Pada laporannya kepada polisi kedua pria ini (Lationo dan Kulit Putih) mengenakan topi putih ”Make America Great Again” memukul dengan benda besi dan menarik copot penutup kepalanya.” Mahasiswi ini dibela oleh presiden Assosiasi Muslim Lafayett, Kareem Attia, ia berkata kepada media AP. ”Saya tidak berpikir bahwa itu sopan. Tetapi saya akan katakan sebuah kejahatan kebencian adalah kejahatan kebencian. Itu tidak diterima oleh agama kami. Itu juga tidak diterima oleh kelas kemanusian kami.” Business Insider melapor.

Oops, ternyata tuduhan palsu lainnya! Namun wanita ini tidak dihukum menurut Yahoo.com.

Berapa lama lagi Liberal Media dan Islam fanatik akan terus menyebarkan kebohongan dan menyudutkan kelompok konservatif? Poll terbaru berkata: “The mainstream media is viewed negatively by 57 percent of Americans with just 25 percent viewing mainstream media outlets favorably,” Laporan menulis

Bacaan berkait:

Referensi:

Read the rest of this entry

Louis Farrakhan Compares Hillary to Hitler

Liberals’ Camp After the USA Presidential Election of 2016

Sunday, the leader of the Nation of Islam Louis Farrakhan compared Democratic presidential nominee Hillary Clinton’s support of her husband former president Bill  Clinton’s 1994 crime bill to “the evil of Adolf Hitler.”

Farrakhan said, “Well now I want to look at Mrs. Clinton for a minute. Because my dear brothers and sisters, this is serious. Her husband and Joe Biden were the authors of the crime bill that put tens of thousands of black brothers and sisters in prison. Read the rest

Read the rest of this entry