Arsip Blog

Dilemma Muslim di Indonesia

… Dan terjadilah perpecahan di antara mereka (Injil Yohanes 9:16)

Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim (orang Islam) terbesar di dunia telah lama menjadi sorotan banyak negara. Kehidupan umat Islamnya yang umumnya relatif toleran terhadap umat beragama lainnya dan ramah terhadap orang asing telah sering dipakai oleh banyak Muslim di barbagai jenis forum internasional untuk menyatakan bahwa “Islam adalah agama damai, lihat saja pada negara Indonesia!” Namun kita sebagai orang Indonesia, apalagi yang tinggal di Indonesia, kita tahu persis kondisi dapur rumah kita.

Di Indonesia, kita bisa temukan banyak pemuka Islam yang sangat vokal dalam menyuarakan iman mereka; mereka menyerang siap saja yang tidak seiman dengan keyakinan mereka, melabelkannya sebagai ‘orang kafir.’ Mereka bahkan tidak segan-segan menuduh orang Islam lainnya yang tidak sependapat sebagai musuh Islam dan menolak jenazahnya disembayangi di masjid-mesjid mereka. Baca: Difinisi KAFIR dalam Kitab Suci

Spanduk Mesjid tidak mensholatkan jenazah Muslim yang toleran pada agama lain

Spanduk di Mesjid anti Muslim moderat

Di sisi lainnya, kita temukan, memang tidak banyak, adanya Muslim Indonesia yang secara terang-terangan berani mengeritik para ‘Muslim radikal’ atau ‘Muslim fanatik’ tersebut sebagai para ‘perusak agama Islam.’

Muslim di Indonesia sedang berada dalam dilemma yang sangat besar, jika dua-tiga decade lalu, wadah medan pertempurannya hanyalah di masjid-mesjid, sekarang dimasa teknologi internet, wadahnya adalah di segala bentuk media sosial, yang hanya dalam satu minggu bisa dibaca dan ditonton oleh setengah juta orang.

Perang Dakwah Islam antar sesama Muslim Indonesia
Rizieq, ketua FPI yang juga bergelar “imam besar Islam” dan Uztad Abdul Somad adalah contoh dua tokoh Islam yang vocal dan radikal, keduanya dikeritik secara tegas oleh Dani Siregar, Ade Armando (Dosen UI) dan Eko Kuntadhi dan Radjab Sahda Nasution; keempat orang ini adalah juga Muslim.

Kritik mereka pada tokoh-tokoh Islam radikal dan pemimpin politik Muslim yang memakai agama Islam bisa dilihat pada YouTube di bawah ini beberapa contoh:

Dani Siregar:

  • BIDADARI BONGA-BONGA DI SURGA I TIMELINE (15/11/2019). Membahas Hadis

Ade Armando:

 Radjab Sahda Nasution:

Eko Kuntadhi:

Baru-baru ini Lalu Agus Firad Wirawan, seorang Muslim suku Sasak yang hidup di Bali, mengeritik dengan keras seorang Muslim setingkat menteri, yaitu Wishnuutama Kusubandio. Oleh sebab menteri ini berniat merubah Toba dan Bali menjadi ‘Ramah bagi wisatawan Muslim,’ dengan cara menyingkirkan hal-hal yang tergolong tidak halal dalam ajaran Islam. Ini surat kritik terbuka Lalu Agus.

Lalu Agus tidak berhenti di situ. Ia kemudian menulis surat terbuka lainnya di media sosial, mengalamatkannya kepada bapak Presiden Jokowi, berkaitan dengan diskriminasi pemerintah daerah Pulau Lombak kepada warga Hindu dalam hal ijin beribadah (15/2019); berjudul Jangan Memalukan Agamamu. Sedikit cuplikannya:

Saya malu pak! Seumur-umur saya hidup di Bali, di tengah lingkungan Hindu, saya tidak pernah sedetikpun diperlakukan tak baik oleh mereka! Waktu SMA di Buleleng, makan tidur dan pendidikan pun saya dibantu oleh saudara-saudara saya yang Hindu, bahkan makanan halal dan tempat ibadah saya pun disediakan khusus oleh mereka!

Lalu apa alasan kita, ummat yang kebetulan saja mayoritas di Lombok ini melarang ummat Hindu membangun tempat ibadatnya? Istigfar kawan! Nabi Muhammad tak perah sekalipun menganjurkan kalian untuk melarang ummat lain beribadah!

Bibit radikalisme yang kemudian berkembang jadi terorisme sesungguhnya berawal dari sikap-sikap intoleran yang muncul dari mulut-mulut para durjana yang menyamar jadi tokoh agama! Bangsa ini sudah terlalu banyak dilukai oleh kelompok penyundal ajaran Tuhan ini!

Itulah dilemma orang Islam di Indonesia! Kelompok yang radikal ingin menerapkan Hukum Islam secara lengkap kepada semua kelompok minoritas, bahkan bila perlu menjadikan Indonesia bagian dari Negara Kalifah, sementara kelompok Muslim lainnya menolak keras, saudara Firad Wirawan membela Islam dengan berkata, “Nabi Muhammad tak pernah sekalipun menganjurkan kalian untuk melarang ummat lain beribadah!” lalu ia berkata, “Bangsa ini sudah terlalu banyak dilukai oleh kelompok penyundal ajaran Tuhan ini!”

Kelompok Muslim yang manakah dari kedua kelompok di atas yang benar dalam menginterpretasikan kitab-kitab suci agama Islam? Dan kelompok mana yang salah? Pertanyaan sejenis ini sering muncul pada banyak orang, bahkan juga pada kalangan Muslim sendiri.
Dilemma ini juga terjadi antara Presiden Turki Recep T. Erdogan dengan Pangeran Arab Saudi, Mohammed bin Salman. Oktober 2017, Mohammed bin Salman berbicara pada Future Investment Initiative di Riyadh [1] ia bersumpah untuk menghancurkan “ideologi-idelogi extremist” dan kembali ke “sebuah Islam yang moderat.” Erdogan dihadapan para pendengarnya, wanita Turki, mengeritik Pangeran Saudi tersebut, “Islam tidak dapat ada ‘moderat’ maupun ‘bukan moderat.’” Ia berkata, konsep moderat Islam, patentnya berasal di Barat,” dan “Mereka (Parlemen Eropa) sekarang mencoba memompakan ide ini kembali. Apa yang mereka sungguh ingin lakukan adalah melemahkan Islam … Kami tidak ingin masyarakat belajar tentang agama dari fakta-fakta asing,” Presiden Turki ini menandaskan.[2]

Dilemma Muslim ini, menurut Al-Fadi, orang Arab Saudi, mantan Muslim, ternyata bersumber dari Kuran itu sendiri

Dilemma Muslim ini, menurut Al-Fadi, orang Arab Saudi, mantan Muslim, ternyata bersumber dari Kuran itu sendiri, yakni adanya dua pewahyuan Kuran yang berbeda sama sekali, yaitu, saat Muhammad masih berada di Mekkah (toleransi), dan kemudian saat hijrah ke Meddinah (radikal dan jihad).[3] Al-Fadi adalah tuan rumah dari acara Islamic Dilemma, dan pemimpin editor dari bukuThe Quran Dilemma. Baca: Kesaksian Fadil Mulya, Penelitian Kuran membawa imannya kepada Yeshua Ha Mashiah

Yeshua Ha Mashiah memberi jalan keluar dari dilemma ini

Aku adalah terang dunia. Siapa yang mengikut kepada-Ku, ia sekali-kali tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan akan mempunyai terang kehidupan (the light of life)” (Injil Yohanes 8:12)

Referensi:

  1. Saudi crown prince promises ‘a more moderate Islam’
  2. Erdoğan criticizes Saudi Crown Prince’s ‘moderate Islam’ pledge
  3. Ex-Muslim Speaks Out about ‘The Koran Dilemma’ – CBN.com; YouTube

Read the rest of this entry

Mengapa Masyarakat Muslim Mesir memilih Pemerintahan Sekularisme?

Wanita-wanita Mesir

Wanita wanita Mesir

Orang Mesir bukanlah orang Arab, dan bahkan tidak suka disebut sebagai orang Arab. Meskipun mayoritas orang Mesir adalah Muslim dan bahasa resmi negara Mesir adalah Bahasa Arab, karenanya dikenal sebagai bagian dari “negara-negara Arab,” bagaimanapun orang Mesir memiliki budayanya sendiri yang jauh lebih tua dari budaya dan bahasa orang Arab. Kehadiran bangsa Mesir telah ada bahkan sebelum tokoh Abraham, the First Hebrew (bapa dari nenek-moyang orang Ibrani). Orang Mesir yang berjumlah sekitar 80 juta penduduk adalah seperempat (¼) dari seluruh ‘orang Arab’ (data 2010), saat ini sedang berada di persimpangan jalan antara Sekularisme di sebelah kiri dan Islam Fundamentalisme di sebelah kanan.

Presiden Anwar Sadat (15/10/70-6/10/81), presiden Mesir ke-3, pemimpin Muslim pertama yang membuat Perjanjian Damai tertulis dengan negara Israel, dikenal sebagai Perjanjian Camp David (17/9/78) setelah 12 hari bernegosiasi secara rahasia dengan Perdana Menteri Israel Menachem Begin di Gedung Putih, AS. Presiden Sadat oleh karenanya telah menjadi orang Muslim pertama yang menerima Penghargaan Nobel Perdamaian, pada tahun yang sama. Karena alasan yang sama juga ia telah dibunuh secara berencana oleh organisasi Jihad Islam Mesir (JIM) pada acara parade militer (6/10/81). Wapres Hosni Mubarak, segera mengambil kuris Sadat. Jendral ini segera membuat undang-undang pelarangan organisasi Ikhwanul Muslimin (the Muslim Brotherhood),[1] organisasi Islam Sunni yang lahir tahun 1928 oleh seorang intelektual Islam Hassan al-Banna, yang merupakan ibu dari JIM dan banyak organisasi beraliran jihad lainnya. Di bawah Presiden Mubarak, presiden keempat (14/10/81-11/2/2011), para Muslim fundamentalis Mesir benar-benar ditekan, memaksa mereka hidup seperti tikus di bawah tanah selama 29 tahun.

Meletusnya Revolusi Arab yang berawal di Tunisia (18/12/10), para Muslim fundamentalis Mesir kembali bangkit kepermukaan, memimpin aksi-aksi demontrasi yang diikuti oleh puluhan ribu orang Mesir di berbagai kota; hasilnya, Mubarak tumbang dari kursi pemerintahnnya yang panjang tersebut.[2]

Para Ikhwanul Muslimin melalui partai politiknya Partai Kebebasan dan Keadilan (PKK) meminta diadakannya pemilu tingkat parlemen. Pihak Militer Mesir menyetujui usulan tersebut, karena yakin mereka akan tetap menang. Hasil Pemilu di akhir tahun 2011 merubah Mesir dari kekuatan Militer ke ideologi Islam; PKK mendapatkan 44% kursi, dan rekannya Partai Al-Noor, Islam Salafi, mendapat 25 %. Secara total, para Islamist Mesir berhasil menguasai lebih dari 69% kursi parlemen.

Juni 2012, pemilihan calon presiden dilakukan. Mohammad Morsi, satu dari pentolan pemimpin Ikhwanul Muslim dan PKK menang dengan 51,7% suara.

Morsi sebagai Presiden Mesir segera bergerak cepat dan mengajukan banyak peraturan dan undang-undang baru dan tidak diragukan ia mendapat dukungan penuh dari mayoritas parlemen yang juga para Muslim garis keras. Satu dari usahanya adalah

  • mengajukan berdirinya Parlemen berdasarkan Hukum Islam,
  • memerintahkan pembebasan 572 para aktivis Islam yang telah dipenjarakan oleh pihak militer pada aksi protes 2011
  • mengurangi hukuman dari 16 lainnya dari hukuman mati menjadi tujuh tahun hukuman perjara.
  • membangkitkan kembali kebencian atas Israel.
  • sekitar 3000 anggota Salafis secara terorganisasi menyerang Kedutaan Amerika Serikat di Kairo, merobek benderanya dan menggantinya dengan bendera jihad hitam putih seperti yang ISIS pakai beberapa tahun kemudian.

Morsi mengesahkan Undang-undang baru tersebut tanggal 26/12/12. Sekarang Morsi tidak perlu suara parlemen untuk memutuskan dan melakukan sesuatu. Morsi hari ini telah merampas semua kekuatan negara & mengangkat dirinya sendiri sebagai Firaun Mesir yang baru,” Muhamed El-Baradei, seorang pakar hukum dan diplomat Mesir terkenal menulis pada Twitternya.[3] Lalu demo anti Morsi mulai muncul seketika itu juga.

Demo besar Juni 2013 menumbangkan Presiden Mohamed Morsi
Presiden Morsi memenjarakan siapa saja yang tidak setuju kepada dirinya. Bertumbuhnya sikap diktator Morsi dan pemaksaan agenda Islamnya menentang sekularime dan aturan hukum masyarakat Mesir menambah momentum rakyat Mesir memprotes Firaun baru ini. 29 Januari 2012, Jendral Abdul Fatah al-Sisi, yang saat itu adalah Menteri Pertahanan Negara memperingati kedua kubu partai-partai pro- dan anti-Morsi dengan keras: “Ketidak sepakatan mereka dalam menjalankan Negara akanlah dapat memimpin kehancuran negara dan mengancam masa depan dari generasi-generasi yang akan datang.”

Islam Fundamentalisme dibangkitkan.

  • Morsi menambah kemarahan rakyat Mesir, 17 Juni 2013, ia mengangkat Adel el-Khayat, seorang radikal Muslim yang diduga berkaitan dengan pembantaian 58 turis di kota turis Luxor (Balinya Indonesia) oleh militan Islam, menjadi gubernur Luxor. Rakyat Luxor protes, membuat ia meninggalkan jabatannya seminggu kemudian.
  • 23 Juni, para pengkotbah Islam Salafis memimipin beberapa ratus anggotanya menyerang komunitas Shiah yang sedang ibadah. Menangkap pemimpinnya dan menyuruh jemaat keluar dari gedung ibadah sebelum membakar gedung tersebut. 4 Muslim Shia dipukuli massa hingga tewas dan mayat mereka kemudian diseret di jalan-jalan.

Enam bulan protes, akhirnya rakyat Mesir mulai membuat petisi menumbangkan Morsi, di klaim ada terkumpul 22 juta tanda tangan. Jemaat Kristen Koptik, mewakili 10% populasi Mesir, turut mendukung; mereka telah melihat hampir 30 tahun di bawah pemerintahan Mobarak tetap jauh lebih baik dari Firaun baru yang belum setahun memerintah Mesir. Dan menurut perhitungan pihak Militer melalui helikopter, jumlah orang yang turun ke jalan di seluruh negara Mesir adalah 14 juta pada tanggal 30 Juni 2013, tepat satu tahun Morsi jadi presiden. Banyak orang percaya ini adalah penggenapan dari nubuatan nabi Yesaya pasal 19:1-4.

Jendral el-Sisi memenuhi permintaan “THE PEOPLE DEMAND THE OUSTER OF THE REGIME,” slogan rakyat yang berdemo tersebut. Demo terjadi di 18 lokasi di kota Kairo dan juga kota-kota lainnya secara serentak. Demo anti Presiden M. Morsi di Lapangan Tahrir 27 November 2012 Para lawan Morsi mengklaim adanya sekitar 33 juta orang Mesir turun kejalan. Namun lainnya memperkirakan 14 juta. Saluran Berita Aljazeera, milik Qatar, yang pro-Morsi megabarkan demo di Kairo tersebut tidak lebih dari 800.000 dan 4 juta di seluruh Mesir. Qatar kemudian di asingkan oleh negara-negara Arab pimpinan Arab Saudi. Russia Today menyiarkan berita ini dengan titel “protes terbesar dunia,” ‘Millions against Morsi: Egyptions demand resignation in world’s largest’ protest (video)

1 Juli, pagi hari, aktivis anti-Morsi menyerang kantor utama Ikwanul Muslim di Kairo. Beberapa jam kemudian, gabungan jajaran pihak keamanan Mesir mengeluarkan ultimatum 48 jam yang memberi semua partai politik memenuhi semua tuntutan rakyat Mesir paling lambat 3 Juli.

Pada tanggal 3 Juli, sore itu para pemimpin militer membuat rapat darurat, yang diikuti pertemuan dengan sejumlah pemimpin agama, nasionalis, dan tokoh politik dan pemuda. Pada saat bersamaan pihak Morsi melalui pemimpin Partai politiknya mengeluarkan pernyataan: “Kami tidak pergi ke undangan-undangan dengan siapa pun. Kami memiliki seorang presiden dan selesai!”[4] Jendral el-Sisi atas nama rakyat Mesir menangkap Morsi dan ratusan Muslim garis keras dan mengirim mereka ke penjara. Dan menutup Mahkamah Syariah (Islam).

Popularitas Presiden el-Sisi. Sekarang Mesir dipimpin oleh Presiden ke-enam, Abdel Fattah el-Sisi (8/6/14-saat ini),Majalah TIME El-Sisi orang terpenting di dunia di bawah el-Sisi, hubungan Mesir dan Israel lebih erat daripada sebelumnya. Dalam banyak hal el-Sisi didukung oleh pemerintah Arab Saudi. El-Sisi tidak diragukan adalah seorang Muslim, namun ia sejak kecil terbiasa hidup di lingkungan yang sama dengan orang Yahudi dan Kristen. Di saat Morsi masih presiden, rakyat anti-Morsi memiliki motto: “Tentara dan Masyarakat adalah satu tangan.” Saat ini namanya ada di mana-mana, penutup kue, coklat dan perhiasan leher tertulis “CC” panggilan akrabnya. Restoran-restoran di Mesir menamai burger-burger mereka dengan dengan namanya, di media sosial wajahnya beredar. Presiden Abdel el-Sisi persis seperti Presiden Jokowi kita, ia dekat di hati dan pikiran rakyatnya.[5]

Catatan kaki:
1. Organisasi Islam Sunni Ikwanul Muslimin telah dikenal di Timur Tengah sebagai organisasi yang bertujuan menempatkan Kuran dan Sunnah ke seluruh kehidupan masyarakat dan pemerintahan dengan segala cara baik politik maupun militer; ibu dari segala kelompok Islam berfaham fundamental.  Pada Wiki versi Bahasa Indonesianya, tertulis IM menolak ideologi Al-Qaeda dan Wahabi, dan mengutuk terorisme 2.  Egyptian Crisis (2011–14)
3.  Timeline of the Egyptian Crisis under Mohamed Morsi4. 2012–13 Egyptian protests 5. Abdel Fattah el-Sisi

Read the rest of this entry

Islam semakin nampak asing dan tidak nyaman bagi Muslim Moderat

Siapa percaya kepada hatinya sendiri adalah orang bebal, tetapi siapa berlaku dengan bijak akan selamat. (Amsal 28:26)

Para Muslim sedang berdoa menhadap KabahIslam adalah satu dari lima agama yang memiliki jumlah jemaat terbesar di dunia. Dikenal secara umum bahwa mayoritas dari pemeluk agama Islam adalah Muslim Moderat, artinya mereka tidak terlibat di dalam aktivitas terorisme dan perang atas nama Islam dan nabi Muhammad, pelakunya dilabelkan oleh Dunia sebagai “para teroris Islam (Islamic terrorists).”

Read the rest of this entry