Arsip Blog

Afghanistan: boys are used for sex slaves and suicide boomers by Taliban against police officers

Bacja bazi praktek homosex pedofilia di kalangan pria dewasa Afganistan“Taliban mengirim anak-anak laki, yang tampan-tampan untuk menerobos pos-pos pemeriksaan untuk tujuan membunuh, membius (dengan obat-obatan) dan meracuni para polisi,” mantan pemimpin polisi Ghulam Sakhi Rogh Lewanai berkata kepada wartawan AFP

Tahun ini saja sudah ada sedikitnya enam serangan yang mematikan sejak bulan Januari, menyebabkan ratusan meninggal dunia.

Praktek yang disebut sebagai “bacha bazi,” yang berarti “bermain anak laki-laki pedofil” (praktek homosex pedofilia di kalangan pria dewasa Afghanistan / praktek homosexual pria dewasa dengan memakai anak-anak laki di bawah umur) adalah praktek yang dikenal umum di Afghanistan. Remaja pria ini dikenakan pakaian wanita dan diminta bertindak seperti wanita.

Negara ini merupakan medan pertahanan Islam melawan komunis Russia  (tahun 80 an) dan Amerika Serikat dengan semua sekutunya pada saat ini. Dari sinilah Osama bin Laden memimpin gerakan perjuangan Islamnya yang ditakuti Barat, disebut Al-Qaeda.

Banyak para komando polisi yang hebat memiliki remaja-remaja laki sebagai budak-budak sex mereka, laporan menulis.

“Mereka (para pejuang Taliban) telah menemukan kelemahan terbesar pasukan-pasukan polisi (ada pada) bacha bazi,” Lewanai berkata kepada AFP – ini terjadi umumnya di profinsi Uruszgan, selatan Afghanistan.

Keterikatan pemimpin polisi atas bacha bazi begitu kuat seperti kecanduan opium (Afghanistan adalah pengexport opium terbesar di dunia)

Seorang hakim yang menyadari masalah ini pernah mengusulkan, “Untuk memperbaikit kembali keamanan di Uruzugan, pertama-tama kita harus memisahkan para polisi dari bacha-bacha mereka!”

”Tetapi jika mereka diperintahkan mereformasi cara hidup mereka, jawaban yang umum adalah: ’Jika kalian memaksa saya untuk meninggalkan kekasih remaja priaku, saya akan juga meninggalkan pos pemeriksaan.’ Taliban tidaklah buta untuk melihat bahwa kecanduan ini adalah lebih buruk dari opium.”

Pria Taliban mencium paksa remaja pria di depan umumPara pejuang Taliban telah lama diketahui melakukan praktek bacha bazi. Menurut laporan pemerintah AS dari departemen the National Directorate of Security (NDS), ”para komando Taliban menculiki remaja-remaja pria untuk tujuang kerja paksa dan kepuasan sex pada kamp-kamp militan di seluruh wilayah Afganistan,” laporan menulis.

Taliban tidak hanya menculik / mengambil paksa para remaja pria dari rumah-rumah orang tua mereka, sebagian dijadikan pejuang Islam, sebagian jadi budak sex bagi mereka sendiri dan sebagian dijadikan  pelacur sex atau sekaligus sebagai alat serangan-serangan terror menentang pemerintah Afghanistan.

Juni 2016 ini, dunia diguncang dengan peristiwa pembantaian di sebuah nightclub homosex di Orlonda yang dilakukan oleh Muslim kelahiran Afghanistan yang berimigran ke Amerika Serikat, dan ayahnya adalah pemdukung Taliban. “Namun di Afghanistan praktek pedofil di kalangan pria Afganistan dipandang secara luas sebagai praktek budaya dan bukan sebuah kejahatan moral. Banyak (orang) di Uruzgan melihat bacha bazi bukanlah sebagai pedofilia tidak juga homosexualiti, yang dilarang dalam Islam,” laporan menulis. Pola pikir yang tidak konsisten ini juga terjadi di kalangan komando militer Negara Islam Kalifah (NIK/ ISIS).

Praktek bacha bazi di mata negara-negara berkembang dan maju jelas adalah praktek pelanggaran hak-hak asasi manusia, dalam hal ini penculikan dan perampokan anak-anak remaja dari orang tua mereka dan sekaligus menghancurkan hak-hak asasi dan kehidupan para remaja pria.

Bagaimana kita bisa merubah budaya masyrakat yang sakit seperti ini dan menjadikan masyarakat yang bemoral dan memberi harapan masa depan bagi remaja-remajanya?

 Sumber:

Pembaca bebas memakai artikel TheCamelSpeaksOut.wordpress.com sejauh tidak merubah tulisan aslinya dan menyertakan link situsnya. Hargailah karya cipta orang lain.

Terima kasih, The Camel Speaks Out / Unta Angkat Bicara

 

Iklan

Para Yazidi yang kabur membagi kisah yang mengerikan atas penangkapan NIK

“Celakalah dunia dengan segala penyesatannya: memang penyesatan harus ada, tetapi celakalah orang yang mengadakannya.” Yeshua HaMashiah (Injil Matius 18:7)

Praktek perbudakan sex Negara Islam Khalifat atas suku Yazidi di Kurdistan

Sumber terjemahan: Escaped Yazidis Share Chilling Tales of ISIS Captivity by Christ Mitchell CBN News; 23 November 2015

KAMP PENGUNGSI KANKLE, Kurdistan – kampanye militer menentang NIK (ISIS; Negara Islam Khalifat) sedang membrikan harapan kepada suku Irak dikenal sebagai Yazidis bahwa satu hari mereka akan kembali pulang.
Pada mussim panas 2014, Negara Islam menduduki kota Sinjar, kota utama suku Yazidi, memaksa para wanita masuk kedalam perbudakan sex dan pelatihan anak-anak lakinya untuk menjadi pejuang-pejuang NIK .
Hanya dalam satu hari, ribuan Yazidi telah pergi dari kehidupan di tanah air kuno mereka ke sebuah kamp pengungsi.
Setelah NIK menduduki Sinjar, kebanyakan para Yazidi terusir ke kamp-kamp pengungsi, beberapa diisi sebanyak 20.000. Beberapa pengungsi ini telah membuat pelarian yang mengerikan dari tangan-tangan NIK. Read the rest of this entry

Norwegia: “Beberapa pengungsi” pemuda Muslim menyerang gadis 12 tahun

On Monday at 15.30 o’clock, a 12 year old girl becomes the victim of an unpleasant experience in Alta, the girl’s father tells Altaposten.
After having been with girlfriends after school, a friend walked the girl home from Gakori towards Bossekop.
She chose the route under the now defunct Northern Lights Hotel, where she had gone many times before. There is now the recently established reception center for unaccompanied minor asylum seekers [asylum “children]. The reception has just come into operation. Baca lengkapnya: Norway: Muslim “refugees” assault 12-year-old girl (11/11/2015)
Read the rest of this entry

Jerman: Beberapa Muslim melakukan pelecehan sex ke penyelenggara di pesta ”Selamat Datang Pengungsi”

By Pamela Geller on November 12, 2015
Oh, the irony. An association called “Refugees Welcome Bonn e.V.” organized a refugee welcome party. But then these do-gooders met the Islamic culture: the Muslim migrants sexually molested the women at the party. Lihat lengkapnya: Germany: Muslims sexually assault organizers at ‘Refugee Welcome’ party (12/11/2015)
Read the rest of this entry