Arsip Blog

Pro dan kontra “Ceramah Sukmawati 11 Oktober” dianggap menodai agama Islam

Orang yang tak berpengalaman percaya kepada setiap perkataan, tetapi orang yang bijak memperhatikan langkahnya.  (Amsal Salomo 14:15)

Media YouTube dipenuhi dengan lebih dari seratus video berisi kemarahan para pemuka dan simpatisan Islam yang disertai dengan komentar-komentar yang sangat pedas. Judul yang umum dipakai adalah kira-kira berbunyi: “Sukmawati membandingkan Al-Quran dengan Pancasila, Nabi Muhammad dengan Ir. Soekarno.”

Saya juga terkejut ketika melihat video tersebut, kemudian melihat ke kolom komentar, dan saya berkomentar dalam hati, “Tidak heran umat Islam marah besar!” dan berpikir “Mengapa ibu Sukmawati mencari gara-gara lagi? Bukankah kita baru saja memulai periode pemerintahan yang baru?”

Bacaan berkait:

Ingin sekali saya mengkomentari ceramah ibu Sukmawati yang saya anggap “kurang pantas baik waktu maupun tempat, apalagi isinya;” namun tiba-tiba saya teringat ayat Firman Tuhan:

Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.  (Yakobus 1:19-20).

Teringat juga perkataan anak laki-laki saya, dimana guru sekolah SMAnya menasehati para murid: ”Janganlah kamu percaya begitu saja apa yang kamu lihat di internet dan TV!”

Maka segera saya cari melalui mesin pencari Google dan di YouTube ”ceramah lengkap Sukmawati membandingkan nabi Muhammad dengan Ir. Soekarno.”

Yes, I got it!, saya berkata kegirangan. Tuan rumah Kompas mewawancarai langsung ibu Sukma. Namun sedih benar, video klaim ibu Sukma “saya merasa sangat dirugikan oleh media online yang mempunyai pemikiran usil, tangan-tangan jail untuk merubah kata-kata saya dan juga mengedit kata-kata saya,” ternyata selesai saat pemandu acara mau membuktikan klaim ibu ini melalui menayangkan isi ceramah tersebut.

Klarifikasi Sukmawati Soekarnoputri: Video Itu Diedit Tangan-Tangan Jahil

Klaim ibu Sukma ini menarik perhatian saya, maka saya cari lagi dan ketemu. Ternyata ceramanya berdurasi lebih dari 20 menit! Bukan 2 menit seperti nampak ada di banyak video. Dari video itu nampak ceramahnya berkaitan erat dengan Hari Pahlawan 10 Oktober; ceramah diadakan pada tanggal 11 yang dihadiri oleh mayoritas mahasiwa. Thema acara tersebut tertulis besar-besar di dinding panggung:

BANGKITKAN NASIONALISME;
BERSAMA KITA TANGKAL RADIKALISMSE
DAN MEMERANGI TERORISME

Lihat di bawah ini, tidak asli dari panitia penyelenggara, namun setidaknya cukup lengkap

Sukmawati: Soekarno Lebih Berjasa dari Nabi Muhammad SAW

Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada Hari Penghakiman,” Yeshua Ha Mashiah (Matius 12:36)*

Dan tanggal 21 November, TVOne menghadirkan 4 pembicara di acara DUA SISI; Damai Hari Lubis (Pelapor Kasus Sukmawati) dan Nasir Djamil (Anggota DPR RI F-PKS) dan sisi lawannya yakni yang menolak bahwa ceramah tersebut sebagai penistaan kepada Islam, khususnya nabi Muhammad, yaitu Ibnu Prakoso (Sekjen PNI Marhaenisme) dan Petrus Selestinus (Kuasa Hukum Sukmawati)

Apakah Sukmawati Menodai Agama? Begini Penjelasan Sekjen PNI Marhaenisme vs Pelapor Kasus..

Setelah kita menyaksikan ketiga video ini, apa pendapat kalian tentang ceremah ibu Sukmawati pada acara Peringatan Hari Pahlawan tersebut: apakah ceramah tersebut terbukti menghina agama Islam dan nabinya, atau tepat sejalan dengan thema acara tersebut? Beri komentar kalian. Terima kasih!

*) Kata sia-sia (idle word) artinya perkataan yang lahir dari kurangnya rasa menahan diri atau tidak ada tanggung jawab alias ceroboh.

Pembaca bebas memakai artikel TheCamelSpeaksOut.wordpress.com sejauh tidak merubah tulisan aslinya dan menyertakan link situsnya. Hargailah karya cipta orang lain.
Terima kasih, The Camel Speaks Out / Unta Angkat Bicara

Dilemma Muslim di Indonesia

… Dan terjadilah perpecahan di antara mereka (Injil Yohanes 9:16)

Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim (orang Islam) terbesar di dunia telah lama menjadi sorotan banyak negara. Kehidupan umat Islamnya yang umumnya relatif toleran terhadap umat beragama lainnya dan ramah terhadap orang asing telah sering dipakai oleh banyak Muslim di barbagai jenis forum internasional untuk menyatakan bahwa “Islam adalah agama damai, lihat saja pada negara Indonesia!” Namun kita sebagai orang Indonesia, apalagi yang tinggal di Indonesia, kita tahu persis kondisi dapur rumah kita.

Di Indonesia, kita bisa temukan banyak pemuka Islam yang sangat vokal dalam menyuarakan iman mereka; mereka menyerang siap saja yang tidak seiman dengan keyakinan mereka, melabelkannya sebagai ‘orang kafir.’ Mereka bahkan tidak segan-segan menuduh orang Islam lainnya yang tidak sependapat sebagai musuh Islam dan menolak jenazahnya disembayangi di masjid-mesjid mereka. Baca: Difinisi KAFIR dalam Kitab Suci

Spanduk Mesjid tidak mensholatkan jenazah Muslim yang toleran pada agama lain

Spanduk di Mesjid anti Muslim moderat

Di sisi lainnya, kita temukan, memang tidak banyak, adanya Muslim Indonesia yang secara terang-terangan berani mengeritik para ‘Muslim radikal’ atau ‘Muslim fanatik’ tersebut sebagai para ‘perusak agama Islam.’

Muslim di Indonesia sedang berada dalam dilemma yang sangat besar, jika dua-tiga decade lalu, wadah medan pertempurannya hanyalah di masjid-mesjid, sekarang dimasa teknologi internet, wadahnya adalah di segala bentuk media sosial, yang hanya dalam satu minggu bisa dibaca dan ditonton oleh setengah juta orang.

Perang Dakwah Islam antar sesama Muslim Indonesia
Rizieq, ketua FPI yang juga bergelar “imam besar Islam” dan Uztad Abdul Somad adalah contoh dua tokoh Islam yang vocal dan radikal, keduanya dikeritik secara tegas oleh Dani Siregar, Ade Armando (Dosen UI) dan Eko Kuntadhi dan Radjab Sahda Nasution; keempat orang ini adalah juga Muslim.

Kritik mereka pada tokoh-tokoh Islam radikal dan pemimpin politik Muslim yang memakai agama Islam bisa dilihat pada YouTube di bawah ini beberapa contoh:

Dani Siregar:

  • BIDADARI BONGA-BONGA DI SURGA I TIMELINE (15/11/2019). Membahas Hadis

Ade Armando:

 Radjab Sahda Nasution:

Eko Kuntadhi:

Baru-baru ini Lalu Agus Firad Wirawan, seorang Muslim suku Sasak yang hidup di Bali, mengeritik dengan keras seorang Muslim setingkat menteri, yaitu Wishnuutama Kusubandio. Oleh sebab menteri ini berniat merubah Toba dan Bali menjadi ‘Ramah bagi wisatawan Muslim,’ dengan cara menyingkirkan hal-hal yang tergolong tidak halal dalam ajaran Islam. Ini surat kritik terbuka Lalu Agus.

Lalu Agus tidak berhenti di situ. Ia kemudian menulis surat terbuka lainnya di media sosial, mengalamatkannya kepada bapak Presiden Jokowi, berkaitan dengan diskriminasi pemerintah daerah Pulau Lombak kepada warga Hindu dalam hal ijin beribadah (15/2019); berjudul Jangan Memalukan Agamamu. Sedikit cuplikannya:

Saya malu pak! Seumur-umur saya hidup di Bali, di tengah lingkungan Hindu, saya tidak pernah sedetikpun diperlakukan tak baik oleh mereka! Waktu SMA di Buleleng, makan tidur dan pendidikan pun saya dibantu oleh saudara-saudara saya yang Hindu, bahkan makanan halal dan tempat ibadah saya pun disediakan khusus oleh mereka!

Lalu apa alasan kita, ummat yang kebetulan saja mayoritas di Lombok ini melarang ummat Hindu membangun tempat ibadatnya? Istigfar kawan! Nabi Muhammad tak perah sekalipun menganjurkan kalian untuk melarang ummat lain beribadah!

Bibit radikalisme yang kemudian berkembang jadi terorisme sesungguhnya berawal dari sikap-sikap intoleran yang muncul dari mulut-mulut para durjana yang menyamar jadi tokoh agama! Bangsa ini sudah terlalu banyak dilukai oleh kelompok penyundal ajaran Tuhan ini!

Itulah dilemma orang Islam di Indonesia! Kelompok yang radikal ingin menerapkan Hukum Islam secara lengkap kepada semua kelompok minoritas, bahkan bila perlu menjadikan Indonesia bagian dari Negara Kalifah, sementara kelompok Muslim lainnya menolak keras, saudara Firad Wirawan membela Islam dengan berkata, “Nabi Muhammad tak pernah sekalipun menganjurkan kalian untuk melarang ummat lain beribadah!” lalu ia berkata, “Bangsa ini sudah terlalu banyak dilukai oleh kelompok penyundal ajaran Tuhan ini!”

Kelompok Muslim yang manakah dari kedua kelompok di atas yang benar dalam menginterpretasikan kitab-kitab suci agama Islam? Dan kelompok mana yang salah? Pertanyaan sejenis ini sering muncul pada banyak orang, bahkan juga pada kalangan Muslim sendiri.
Dilemma ini juga terjadi antara Presiden Turki Recep T. Erdogan dengan Pangeran Arab Saudi, Mohammed bin Salman. Oktober 2017, Mohammed bin Salman berbicara pada Future Investment Initiative di Riyadh [1] ia bersumpah untuk menghancurkan “ideologi-idelogi extremist” dan kembali ke “sebuah Islam yang moderat.” Erdogan dihadapan para pendengarnya, wanita Turki, mengeritik Pangeran Saudi tersebut, “Islam tidak dapat ada ‘moderat’ maupun ‘bukan moderat.’” Ia berkata, konsep moderat Islam, patentnya berasal di Barat,” dan “Mereka (Parlemen Eropa) sekarang mencoba memompakan ide ini kembali. Apa yang mereka sungguh ingin lakukan adalah melemahkan Islam … Kami tidak ingin masyarakat belajar tentang agama dari fakta-fakta asing,” Presiden Turki ini menandaskan.[2]

Dilemma Muslim ini, menurut Al-Fadi, orang Arab Saudi, mantan Muslim, ternyata bersumber dari Kuran itu sendiri

Dilemma Muslim ini, menurut Al-Fadi, orang Arab Saudi, mantan Muslim, ternyata bersumber dari Kuran itu sendiri, yakni adanya dua pewahyuan Kuran yang berbeda sama sekali, yaitu, saat Muhammad masih berada di Mekkah (toleransi), dan kemudian saat hijrah ke Meddinah (radikal dan jihad).[3] Al-Fadi adalah tuan rumah dari acara Islamic Dilemma, dan pemimpin editor dari bukuThe Quran Dilemma. Baca: Kesaksian Fadil Mulya, Penelitian Kuran membawa imannya kepada Yeshua Ha Mashiah

Yeshua Ha Mashiah memberi jalan keluar dari dilemma ini

Aku adalah terang dunia. Siapa yang mengikut kepada-Ku, ia sekali-kali tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan akan mempunyai terang kehidupan (the light of life)” (Injil Yohanes 8:12)

Referensi:

  1. Saudi crown prince promises ‘a more moderate Islam’
  2. Erdoğan criticizes Saudi Crown Prince’s ‘moderate Islam’ pledge
  3. Ex-Muslim Speaks Out about ‘The Koran Dilemma’ – CBN.com; YouTube

Read the rest of this entry

Dr. David Wood comments on Nadia Hassan’s Women’s March for Islam

This is an interesting comment from David Wood on Nadia Hassan’s speech at The Women’s March on January 2019. Nadia, a Muslim woman activist, whom “her activism has gained her media attention on CNN, Washington Post, Al Jazeera, USA Today and many other media outlets” according a web site which adores her

Nadia told her audients that the Qur’an is sources of inspiration for her and even President Thomas Jefferson. Nadia told also the Qur’an gave humanities for the world: e.g. free speechs, equal rights for women

David Wood in his comment, by quoting many Surahs of the Qur’an, saying that what Nadia told is the opposite around. “11 of 12 countries which the highest level of discrimination against women were Muslim majority countries,” David said based on the report, and he added “18 of 20 worst countries in the world” for the same case “were Muslim majority countries” according Word Economic Forum 2014.

Who is telling the truth here, David or Nadia?

The Women’s March for Islam (Why Feminists Love Muhammad! by David Wood

What are other women from Islamic countries say about women gender equality such:

  • Nonie Darwish (Egypt),
  • Wafa Sultan,
  • Isik Abla (Turkey)
  • Fatemeh Devanbeigi (Iran)
  • Shania Gabo (Somali)
  • Annahita Parsan (Iran),
  • Sandra Solomon (Arab Israel/Palestin)
  • Parvin Darabi, (Iran); Rage Against the Veil: The Courageous Life and Death of an Islamic Dissident
  • Ayaan Hirsi Ali (Somali)

Please give your opinions or comments about this subject, thanks

Pembaca bebas memakai artikel TheCamelSpeaksOut.wordpress.com sejauh tidak merubah tulisan aslinya dan menyertakan link situsnya. Hargailah karya cipta orang lain.
Terima kasih, The Camel Speaks Out / Unta Angkat Bicara

 

 

 

Dua Pakar Arab Muslim beda pendapat tentang kepemilikan Tanah Suci dan kota Yerusalem

Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel.” Injil Matius 2:6 // Mihka 5:2

Sheikh Ahmad al-Adwan VS Dr. Ghada KarmiSheikh Ahmad al-Adwan versus Dr. Ghada Karmi, siapakah yang berbicara berdasarkan fakta yang lebih legal? Keduanya memiliki pandangan yang sama sekali berbeda tentang siapa yang berhak atas tanah yang saat ini negara Israel berada beserta ibukotanya Yerusalem.

Latar belakang mereka:

  • Dr. Ghada Karmi. Ia Arab Palestina kelahiran Yerusalem (1939) adalah seorang dokter kesehatan lahir di Palestina migrasi ke Inggris. Penulis rutin masalah Palestina di media Inggris. Ia juga dosen pada Institure Arab dan Ilmu Islam pada Universitas Exeter di Inggris.
  • Sheikh al-Adwan. Ia Arab Yordania kelahiran Amman (1952) tinggal di negara Yordania. Menekuni ilmu Islam sejak 1997 dan kehidupan Ummah Islam (Masyarakat Islam). Ia sering berkomunikasi dengan banyak pakar agama termasuk dari Kerajaan Yordania serta sejumlah instruktor Sharia Islam dari Yordania, Arab dan universitas-universitas lainnya.

Pernyataan Dr. Ghada Karmi kepada Emily Maitlis wartawan BBC saat itu dihadiri juga Duta Besar Israel untuk Britania Raya Mark Regev berkaitan dengan keputusan Presiden Trump mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel. Ibu ini berkata dengan penekanan suara yang tegas:
“Israel adalah pemilik illegal/ tidak sah atas Yerusalem Timur dan Yerusalem Barat. Bangsa Palestina punya hak atas kota tersebut. Saya lahir di Yerusalem, bagian dari orang asli Yerusalem!
Ditanya seharusnyakan orang Palestina protes atau berdialog dalam menghadapi pengakuan Trump tersebut, Karmi menjawab: “Saya tidak tahu bagaimana mereka harus berbuat, tapi saya tahu apa yang mereka rasakan. Mereka protes, mereka marah, mereka memiliki segala hak untuk marah! Duta Besar Israel menanggapi pernyataan ibu ini, “Why Is Israel the Only Country Without the Right to Choose Its Capital?  (klik untuk melihat wawancara kedua tamu BBC tersebut).
Pernyataan Sheikh Ahamad al-Adwan kepada wartawan Israel on Arabic tentang Tanah Suci / Tanah Perjanjian dan kota Yerusalem:
”Saya percaya pada kitab suci Kuran, fakta ini dinyatakan banyak kali di Kitab. Contoh ”O umat-Ku! Masuklah ke Tanah Suci yang Allah telah tetapkan bagimu” [Koran 5:21], ”Kami telah membuat anak-anak Israel pemilik hal-hal demikian [Koran 26:59], dan ayat-ayat tambahan lainnya di Kitab Suci,” itu jawaban Sheikh al-Adwan ketika ditanya mengapa ia mengakui tanah Israel / Palestina sebagai milik bangsa Israel.
”Siapapun yang berkata ”ini adalah Negara Palestina” adalah entah ia tertidur atau seorang yang suka tidur tengah hari bolong … teroris dan seorang pribadi yang jahat.
Wartawan: Sebagai seorang agamawan, apakah Anda percaya bahwa mereka yang menyebut diri mereka sendiri “bangsa Palestina” memiliki hak untuk mendirikan negara di tanah bersejarah bangsa Yahudi?
”Allah (terpujilah Dia) menulis di Torah bahwa ini adalah tanah anak-anak Israel, Dia telah menyerahkan Tanah Suci kepada anak-anak Israel dan menyebut Tanah tersebut dengan Nama ini (Tanah Israel) dan sebagaimana itu dinyatakan oleh Kitab Kuran: … (Sheikh ini kembali mengutip ayat-ayat Kuran yang ia telah sebutkan sebelumnya dan Kuran 17:104 ”Tinggallah dengan aman di Tanah (Perjanjian), lalu menjawab pertanyaan tersebut,) ”Jadi jawaban untuk pertanyaan Anda, bagaimana mereka (bangsa Palestina) mempunyai hak untuk mendirikan sebuah Negara pada Tanah Israel bangsa Yahudi. Lebih dari itu, bahkan jika semua penduduk dari Tanah (Israel) melupakan hak mereka, atau jadi gila dan bekerja sama dengan mereka yang menyebut dirinya sendiri ”bangsa Palestina” untuk mendirikan sebuah negara bagi yang kemudian (bangsa Palestina), mereka (bangsa Israel) tidak akan berhasil, Allah tidak akan mengijinkan ini sampai Hari Penghakiman, sebab ini adalah kehendak Allah sendiri dan secara khusus telah menulis di Kitab-Nya bahwa Tanah ini akanlah ada sebagai Tanah bangsa Israel di bawah penguasaan orang Israel sehingga tidak seorang pun kemudian akan memperebutkan itu.” Bagian terakhir pernyataan Sheikh ini mungkin beralaskan Surah 5:21 di atas, anak kalimatnya berbunyi: “dan janganlah kamu lari kebelakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi. (Kuran Indonesia).

Apa yang Alkitab sendiri katakan tentang Tanah Perjanjian / Tanah Suci yang saat ini ditempati oleh bangsa Israel? Ada puluhan ribu ayat, ini adalah satu dari antaranya: Kisah Para Rasul 13: 16-19

Maka bangkitlah Paulus. Ia memberi isyarat dengan tangannya, lalu berkata:

“Hai orang-orang Israel dan kamu yang takut akan Allah, dengarkanlah! Allah umat Israel ini telah memilih nenek moyang kita dan membuat umat itu menjadi besar, ketika mereka tinggal di Mesir sebagai orang asing. Dengan tangan-Nya yang luhur Ia telah memimpin mereka keluar dari negeri itu.

Empat puluh tahun lamanya Ia sabar terhadap tingkah laku mereka di padang gurun. Dan setelah membinasakan tujuh bangsa di tanah Kanaan, Ia membagi-bagikan tanah itu kepada mereka untuk menjadi warisan mereka

Bacaan berkait:

Referensi:

Read the rest of this entry

What would be happened when a woman read the Quran and understand it? – a testimony from a beautiful Persian woman

My soul clings to the dust; give me life according to Your word. I have declared my ways, and You hear me; teach me Your statues. … My soul weeps for grief; strengthen me according to Your word (Psalm 199:25-28)

Aynaz Anni Cyrus was raised up from a devoted Muslim family, her father was a sheikh (an ordained religious leader in Islam, higher then a Muslim priest) and her mother was an Islamic teacher of Quran for women. She had been reading the Quran from cover to cover many times much more then her own ages (33); she had read it more then 40 times!! This video is her testimony at “International Terrorism” on October 17, 2017.

Her web site http://liveuptofreedom.com/

Read the rest of this entry