Arsip Blog

31 Tahun setelah Tragedi Tiananmen, bagaimana masyarakat Tionghua dan Dunia melihat Pemerintah RRC?

30 Years After Tiananmen, a Chinese Military Insider Warns, Never Forget

Tanggal 4 Juni 1989 adalah peristiwa sejarah yang tidak bisa dilupakan dan tidak mudah dilupakan oleh Dunia, khususnya rakyat Tiongkok / Cina generasi tua. Itu adalah hari pembantaian massal tentara Cina atas para aksi protes pro-demokrasi di Lapangan Tiananmen, di pusat kota Beijing. Kebrutalan pemerintah RRC atas rakyatnya sendiri sungguh telah mengejutkan Dunia Barat, sehingga mereka setuju memberi sejumlah sangsi, termasuk menghentikan menjual alat persenjataan dan tranfer teknologi. Bahkan Presiden Russia, Mikhail Gorbachev, rekan baik Presiden RRC, Deng Xioping, memberi pernyataan sedihnya; berharap PKC mengadopsi program reformasi dan mulai mendemokrasikan sistim politik Cina tersebut.

Bulan Mai 1989, hampir satu juta Tionghua, mayoritas para pelajar, membanjiri pusat kota Beijing untuk memprotes: 1. Menuntut sistim demokrasi yang lebih besar. 2. Menuntut mundurnya para pemimpin PKC. Hampir tiga minggu para demontran tetap aktif menyuarakan tuntutan mereka: berbaris, meneriakkan slogan-slogan. Para wartawan Barat meliput hampir semua kejadian untuk para penonton televisi dan surat kabar di Amerika Serikat dan Eropa.

Pada 4 Juni 1989, polisi dan tentara menyerbu masuk Lapangan Tiananmen dengan sejumlah kendaran berat militer mereka, truk-truk dan sejumlah tank perang. Para wartawan, pekerja asing dan diplomat Barat yang ada ditempat kejadian memperkirakan sedikitnya 300, dan mungkin ribuan demontran terbunuh dan sebanyak 10.000 ditahan.

Former protesters recount 1989’s crackdown; Wu’er Kaixi, Doeng Shengkun, Pu Zhiqiang, (YouTube)

Pengakuan Saksi mata, mantan wartawan Tentara Pembebasan Rakyat (sebuah badan militer PKC)*

Jiang Lin, letnan saat itu, melihat langsung baik pembantaian dan gagalnya para komando meyakinkan para pemimpin Cina untuk tidak memakai kekuatan militer. Memperinggati 30 tahun tragedi Tiananmen (2019), Jiang, 66 tahun, telah memutuskan untuk pertama kalinya menceritakan pengalamannya.

Setelah kejadian, petugas pemerintah mengirim para demontran ke penjara dan menghapus ingatan pembunuhan itu. Pihak pemerintah menangkapi secara rutin mantan pemimpin demo, para orang tua pelajar dan penduduk dari mereka yang terbunuh. Jiang tidak berkata apapun, tetapi hati nuraninya telah tersiksa.

Lihat:

Sampai sekarang banyak generasi muda Cina tidak tahu apa-apa tentang hal ini, baru terkejut setelah mereka keluar dari RRC, seperti pengakuan Vicky Xu di atas.

“Penderitaan telah memakan diriku selama 30 tahun,” Jiang berkata pada sebuah wawancara di Beijing. “Setiap orang yang telah terlibat harus angkat bicara tentang apa yang mereka tahu telah terjadi. Itu adalah tugas kita bagi yang telah meninggal, masih selamat dan anak-anak masa depan.”

Protes-protes telah terjadi di bulan April di berbagai kota ketika para pelajar berbaris untuk berduka kematian mendadak dari Hu Yaobang, seorang pemimpin reformasi yang terkenal; menuntut pemerintah untuk lebih bersih dan terbuka.

Jiang telah merasakan ketakutan di bulan Mai ketika berita di radio dan TV mengumumkan pemerintah akan memakai kekerasan militer. Jendral Xu Qinxian, ketua Divisi 38 dari Tentara Rakyat menolak memimpin tentaranya masuk Beijing tanpa surat tertulis. 7 Komandan juga menandatangi surat penolakan tugas yang dialamatkan ke Komisi Pusat Militer: “Tentara Pembebasan Rakyat adalah kekuatan militer rakyat dan itu seharusnya tidak memasuki kota atau menembaki masyarakat sipil.” Jiang semangat untuk menyebarkan surat itu ke media militer. Atasnya melarang menerbitkan surat tsb.

Malam sebelum 4 Juni, Jiang sempat meninjau lapangan dengan berpakaian sipil.

4 Juni menjelang gelap, tentara beraksi secara penuh. Mereka menembaki bahkan yang mencoba melarikan diri, sebagian tergilas tank baja. Ia melihat sendiri pria muda membawa wanita yang terluka dikepalanya dengan gerobak sepedanya ke rumah sakit, sementara yang mati dan terluka berdatangan berpuluh-puluh. Jing berkata, “Itu serasa menonton ibu saya sendiri ada diperkosa. Tidak mampu melihatnya.”

Beberapa bulan setelah kejadian, ia ditahan dan dua kali diperiksa sekaitan catatan pribadi yang ia tulis. Ia tinggalkan dunia militer 1996.

Tahun-tahun telah lewat, ia telah menunggu seorang pemimpin Cina maju ke depan menceritakan ke bangsanya bahwa pembubaran bersenjata tersebut adalah sebuah kesalahan, tetapi hari itu tidak pernah terjadi.

Jiang berkata dan percaya bahwa stabilitas dan dan kemakmuran Cina akanlah ada rapuh selama Partai (Komunis Cina) tidak mau menebus banjir darah tersebut;

“Sema ini dibangun di atas pasir. Tidak ada fondasi yang keras. Jika kalian dapat menolak bahwa masyarakat telah terbunuh, maka setiap kebohongan adalah mungkin.”

Selama bertahun-tahun, sekelompok sejarawan, penulis dan fotografer dan aktifis Tionghua telah mencoba mencatat dalam sejarah Cina yang Partai berusaha melupakannya. Cerita lengkap harap lihat sumber aslinya, di bawah.

Mai 2021. Laporan orang dalam PKC memperingatkan bahwa Pemerintah Beijing menghadapi serangan balik global seperti-Tiananmen atas pandemic virus corona. Inti laporan: adanya sentiment anti-china secara global sedang pada puncaknya sejak 1989 tragedi Lapangan Tiananmen, sumber-sumber berkata. Laporan tersebut dihadirkan bulan April oleh Menteri Keamanan Negara ke para pemimpin teras atas Beijing termasuk Presiden Xi Jinping, Reuter menulis. Internal Chinese report warns Beijing faces Tiananmen-like global backlash over the corona virus pandemic.

Pertanyaan:
Dua minggu lagi, 4 Juni 2021, Dunia memperingati Tragedi Tiananmen ke-31 di tengah wabah COVID-19 yang berasal dari Wuhan, yang ditutupi oleh Pemerintah PKC lebih dai 4 minggu, sehingga menjadi pandemi global.

  • Menarik untuk kita amati, bagaimana tanggapan para pemimpin bangsa dan PBB, NATO tentang Tragedi Tiananmen tersebut, apakah mereka masih tetap tutup mata dan mulut demi uang (bisnis) atau angkat bicara menegur Pemerintah Cina untuk ikut dalam sitim demokrasi dan menghargai Hak Asasi Manusia?
  • Reaksi masyarakat Tionghua di perantauan, termasuk di Indonesia, apakah mereka masih menutup mata dan telinga – dan bahkan membela – atas segala perbuatan kotor Pemerintah Komunis Cina ini?

Pesan Mordekai, paman Esther, ratu dari raja Persia ini mungkin bisa menjadi renungan untuk kita semua – Tionghua dan bukan Tionghua:

Jangan kira, karena engkau di dalam istana raja, hanya engkau yang akan terluput dari antara semua orang Yahudi. Sebab sekalipun engkau pada saat ini berdiam diri saja, bagi orang Yahudi akan timbul juga pertolongan dan kelepasan dari pihak lain, dan engkau dengan kaum keluargamu akan binasa. Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu.” (Esther 4:13-14)

Lihat juga:
Tiananmen Square Protests 1989: Chinese Soldiers Open Fire on Civilians (YouTube)

China hides history in attempt to conceal Tiananmen Square events (YouTube)

Tiananmen Square: What happened in the protests of 1989? – BBC News (YouTube)

Sumber acuan:

Pembaca bebas memakai artikel TheCamelSpeaksOut.wordpress.com sejauh tidak merubah tulisan aslinya dan menyertakan link situsnya. Hargailah karya cipta orang lain.
Terima kasih, The Camel Speaks Out / Unta Angkat Bicara

Pemerintah Turki praktek standard ganda dalam ‘War on Terrorism’ kata DR. Christina Lin

Saksi dusta tidak akan luput dari hukuman, orang yang menyembur-nyemburkan kebohongan akan binasa. (Amsal 19:9)

DR. Christina LinDR. Lin* memakai tuduhan Pemerintah Turki atas BBC untuk menelanjangi kemunafikan Pemerintah Turki, ia menulis: “Pada 21 Agustus, Turki menuduh BBC mendukung terrorime setelah mengudarakan sebuah laporan mengapa para wanita Kurdi dan Yazidi bergabung dengan PKK (Partai Buruh Kurdistan) untuk menentang Negara Islam Irak dan Syria (ISIS).” Lalu ia mengutip tuduhan pernyataan Menteri Luar Negeri Turki, ”Penerbitan ini melanggar resolusi-resolusi PBB dan Dewan Eropa dalam bidang ini. Mempromosikan dan memuliakan terrorisme adalah suatu kejahatan.”
DR. Lin lalu mendaftarkan bukti dukungan Pemerintah Turki atas kelompok-kelompok organisasi Islam di berbagai negara yang tergolong sebagai organisasi teroris di masyarakat internasional.

Artikel ini ditulis DR. Lin di sebuah situs Israel pada sub-katagori opini/blog dengan judul Did BBC reveal Turkey’s double standard on other countries’ terrorists? (link lihat di bawah). Artikel disalin ulang persis sebagaimana aslinya. Selamat membaca, The Camel Speaks Out.

Read the rest of this entry

Peranan Turki pada Konflik Timur Tengah di Mata DR. Christina Lin

Tetapi pada akhir zaman … raja negeri Utara itu akan menyerbunya dengan kereta dan orang-orang berkuda dan dengan banyak kapal; dan ia akan memasuki negeri-negeri, dan menggenangi dan meliputi semuanya seperti air bah. Juga Tanah Permai (Negara Israel) akan dimasukinya, dan banyak orang akan jatuh; tetapi dari tangannya akan terluput tanah Edom, tanah Moab dan bagian yang penting dari bani Amon (ketiga Tanah ini adalah Negara Yordan). (Daniel 11:40-41)

DR. Christina LinKita sering mendengar opini atau pendapat tentang konflik Timur Tengah dari sudut pandang orang Barat dan Timur Tengah (orang Arab, orang Israel), Anda ingin tahu bagaimana politikus Cina melihatnya?
DR. Christina Lin (foto) adalah anggota dari Center for Transatlantic Relations pada SAIS- Universitas Johns Hopkins. Ia penulis dari The New Silk Road: China’s Energy Strategy in the Greater Middle East” (The Washington Institute for Near East Policy), dan mantan dikrektur untuk Kebijakan Republik Rakyat Cina pada Departemen Pertahanan Amerika Serikat.
Artikel ini ditulis DR. Lin di sebuah situs Israel pada sub-katagori opini/blog dengan judul Israel between Turkey and China, Egypt, Kurds.
DR. Lin membahas bagaimana bangsa Kurdi, Mesir, Cina (RRC) serta Israel kuatir tentang campur tangan pemerintah Turki (Presiden Erdogan) dalam konflik di Timur Tengah. Artikel di bawah ini disalin persis seperti sumbernya. Peta ditambahkan. Selamat membaca, The Camel Speaks Out.

Read the rest of this entry